
"oke, karna gue ini orangnya baik hati dan tidak sombong dan juga suka menolong, maka kali ini gue ampuni. tapi dengan syarat, lo harus membersihkan rumah dan halaman. para pembantu hari ini gue liburkan, jadi pekerjaan mereka lo ambil alih. ingat nggak ada jatah makan sebelum pekerjaan lo beres" putus Max memberi titah.
Anita menelan ludah susah payah? membersihkan rumah sebesar ini seorang diri? memang rumah Max hanya berlantai dua tapi luas. lalu halaman? tidak, ia tidak bisa
"tapi...AAUUUU" ucapan Anita berubah pekikan kala Max menjambak rambutnya, jambak yang benar-benar pakai tenaga hingga rasanya rambut Anita serasa terlepas dari kulit kepala
"apa gunanya telinga lo hah? berapa kali gue bilang, jangan pernah membantah gue si*lan!!" geram Max mengencangkan jambakannya "lo benar-benar bosan hidup ya?"
"sa.. sakit, ba.. baik, aku akan lakukan semuanya. maaf, maaf Max, tolong maafin aku" pinta Anita mengiba, kedua tangannya tertangkup di depan dada, memohon pengampunan
"Sayang, aku lapar banget ini, yuk keluar cari sarapan" Anne yang sedari tadi menonton siaran langsung drama suami istri sah itu menyahut
mendengar suara sang istri siri membuat Max sontak menghempas kasar kepala Anita hingga kepala malang itu kembali membentur tembok
"ya udah yuk sayang. malas banget makan masakan gosong perempuan itu, nasi goreng saja sampai gosong. ck, bikin emosi" dumel Max sembari menuntun Anne keluar dari ruang makan meninggalkan Anita yang menangis dalam diam. rasanya air matanya sudah kering.
kini Anita hanya bisa meratapi nasibnya, diam salah, menjawab salah, apalagi melawan. dalam seminggu bukan hanya hatinya yang hancur berkeping-keping tapi raganya juga tengah sekarat. ia tak memiliki siapapun sebagai sandarannya. Max, pria itu ternyata iblis berwujud manusia, penuh rayuan yang menjerumuskan pada penderitaan. sialnya Anita sudah terlanjur menaruh harapan bahkan mempercayakan hatinya... tapi malah di balas sedemikian keji
"berdarah lagi" lirihnya dengan ekspresi datar ketika ia menyentuh kepalanya yang terasa perih akibat benturan yang diciptakan Max.
beberapa saat kepergian Max, para pembantu berhamburan keluar, jangan sangka akan menolong Anita, tidak. mereka melenggang pergi dengan angkuh tanpa menoleh sedikitpun ke arah Anita. para pembantu itu tak satupun yang bisa Anita minta bantuannya. mereka sangat patuh terhadap Max dan bersatu memusuhinya.
Anita pernah minta tolong untuk di ajari memasak tapi tidak ada yang bersedia bahkan cenderung abai akan kehadirannya. apalagi sejak Max memutuskan memecat pembantu bagian dapur yang terdiri tiga orang dan menyuruh Anita mengantikan posisi mereka di dapur. Anita yang tak ingin mendapatkan kemarahan Max merendahkan harga dirinya memohon pertolongan kepada para pembantu, namun bukannya mengajari, ternyata para pembantu itu mengerjainya. alhasil masakan yang Anita percaya akan baik karna apa yang pembantu beritahu ia laksanakan ternyata sangat buruk hingga memancing emosi Max, masakannya kepedasan. dan ya, hari itu Anita harus dilarikan ke klinik karna tenggorokannya terbakar dan detak jantungnya tak karuan.
sejak saat itu, Anita tak lagi mempercayai para pembantu itu, ia melaksanakan tugasnya semampunya walau tanpa bekal apapun. mau belajar di YouT*be ia tak memiliki ponsel, bahkan ia tak di ijinkan menonton tv. jadilah setiap waktu makan ia akan selalu mendapat amukan dari Max karna masakannya selalu gagal
__ADS_1
Anita menghembuskan napas panjang ketika keadaan rumah sudah sunyi senyap pertanda si tuan rumah dan para pembantunya sudah pergi. Anita perlahan beranjak, mengabaikan kepalanya yang berdarah, Anita memilih mengerjakan tugasnya sesuai perintah Max. namun sebelum itu perutnya yang kosong sejak kemarin berbunyi. sudah hampir 20 jam perutnya tak menerima nutrisi selain air putih
lalu Anita melirik nasi goreng gosongnya di atas meja yang tersaji di piring. sontak ia meringis melihat tampilan nasi yang berwarna agak hitam itu
"dari pada buang-buang makanan mending aku makan"
Anita mulai menyuapnya, memang rasa dan bentukannya tak layak makan, hanya saja dari pada perutnya tak terisi apapun mending makan apa yang ada.
ya, hidupnya sekarang penuh dengan kata mending dari pada tidak, mending disiksa dari pada terlantar di jalan, mending belajar sendiri dari pada harus dikerjai lagi oleh para pembantu, mending makan makanan tak layak dari pada ia mati kelaparan, dan masih banyak mending lainnya....
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Max menyeringai kala layar ponselnya yang tersambung cctv rumah menampilkan sosok sang istri sah tengah memakan makanan tak layak itu sembari menangis tergugu.
"kasihan banget tau nggak sih anak orang, sayang" ujar Anne melihat miris penampakan Anita di layar ponsel suaminya
"siapa suruh harus terlahir sebagai keturunan Pratama" balas Max dengan kilatan amarah, setiap saat mengingat Pratama darah Max langsung mendidih
"tapi pembangkang juga sih dia, disuruh jangan makan sebelum bersih-bersih malah mengambil kesempatan" Anne mencemooh sikap Anita
"makan cepat, aku nggak sabar pulang" titah Max sembari mematikan layar ponselnya
"kenapa? kamu merindukannya?" tanya Anne dengan nada sarkasnya tapi memang dalam hatinya ia takut jika Max merindukan gadis muda itu
"iya" jawab Max singkat memancing kilatan cemburu di mata Anne "aku rindu menyiksanya dan melihatnya memohon ampun" lanjut Max dengan seringai liciknya membuat Anne menghela napas
__ADS_1
"aku kira kamu beneran rindu. ingat ya sayang, kamu tidak boleh memiliki rasa sama dia, dia itu terlarang bagimu" peringat Anne yang di balas anggukan Max
"tanpa kamu ingatkan pun, haram dirinya bagiku mengingat darah siapa yang mengalir di tubuhnya" jawab Max dengan penuh ketegasan
drt drt drt
atensi Max yang menikmati kopi di pagi hari di sebuah restoran mewah teralihkan ketika ponselnya berbunyi. panggilan langsung dijawabnya ketika melihat nama pemanggil
"ada apa?" tanya Max dengan ekspresi harap-harap cemas
"nyonya butuh tuan sekarang"
"baik, saya kesana sekarang" putus Max lalu mematikan panggilan
"ada apa sayang?" tanya Anne
"Ibu. kata perawatnya Ibu mau ketemu aku" jawab Max sembari menatap sang istri, yang di tatap hanya manggut-manggut "kamu mau ikut?" tanya Max
"lain kali saja, aku habis ini mau perawatan dulu di salon" ujar Anne membuat Max mengangguk mengerti kesibukan sang istri. lagian jika Anne cantik, Max juga akan senang.
"baiklah, aku balik duluan. kamu perginya hati-hati, jangan lupa kabarin aku" setelah berucap Max mendaratkan kecupan di dahi sang istri lalu beranjak pergi meninggalkan Anne yang menatap kepergiannya dengan tatapan datar
"males banget ngurusin orang lumpuh" gumamnya sembari merotasikan bola matanya
Bersambunggg
__ADS_1