
Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima. seperti itulah yang tengah Max rasakan saat ini. saat puluhan orang-orangnya lumpuh dalam sekejap mata oleh serangan yang tak ia tahu datang dari mana.
dan untuk mempertahankan harga dirinya yang setinggi langit ia tak melarikan diri meski diberi pilihan oleh lelaki tua yang kini ia tahu bukan sembarang orang
"sejujurnya saya akan melenyapkan tanpa bekas orang-orang yang telah mengusik dan mengetahui siapa diri saya yang sebenarnya, tapi terkhusus untuk kamu, saya akan berbaik hati. silahkan pergi" ujar Alexandre sembari bersedekap dada menantang kepercayaan diri Max.
Max melirik sekeliling. puluhan anggotanya sudah terkapar dan mungkin hanya beberapa saja yang masih hidup. lalu ia memindai puluhan orang-orang Alexandre yang tak terluka sama sekali. padahal jumlah anggotanya lebih banyak dari pada orang-orang Alexandre. kabur pun Max pasti akan dihabisi di luar sana. atau mungkin sudah ada yang menunggunya di jalan untuk membuang mayatnya. jadi Max lebih baik mati terhormat di hadapan Alexandre dari pada harus lari namun akan berakhir menjadi mayat juga di luar sana
"lagak tapi pecundang. kalau berani lawan saya brengsek!" tantang Max menghilangkan rasa takutnya. bagaimanapun ia tetap akan berakhir di kandang Alexandre cepat atau lambat
"tetap di tempat!" seru Alexandre saat Vangster merangsek maju hendak menyerang Max. Vangster tentu tak terima bos mereka di tantang apalagi di katai brengsek
"baiklah, saya persilahkan anda maju duluan, tuan Max" Alexandre mempersilahkan Max menyerang duluan. tentu hal itu membuat anggota Vangster terkejut. kali pertama bos besar mereka meladeni tantangan seorang musuh. sebelum-sebelumnya Alexandre tak pernah mau menggunakan tenaganya jika tak urgen.
musuh seperti Max sama sekali tak pantas membuat tenaga bos Vangster terkuras walau hanya melayangkan sebuah bogeman. namun mereka hanya bisa patuh akan perintah Alexandre. hingga terjadilah perkelahian. nyatanya Max tak selemah yang Alexandre pikir. Max mampu melawan serangannya dan bahkan beberapa kali pukulannya mendarat di tubuh Alexandre. namun dilihat dari segi manapun tubuh Max jauh lebih terluka. lihat saja tubuhnya sudah koyak dengan wajah yang dilumuri darah.
hingga dimana hidung Alexandre mengeluarkan darah karna tendangan mendadak dari Max membuat Vangster langsung memukul batang leher Max sehingga lelaki itu langsung ambruk dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
sementara itu, Sacha yang sedari tadi berada di balkon lantai tiga menonton pertunjukan di halaman depan mansion itu kini berwajah pias.
papanya terluka!
segera wanita cantik itu membalikkan tubuh dan berlari menyusul ke halaman depan
"papa!" panggilnya dengan raut khawatir, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. ia melewati tubuh Max yang mungkin sudah tak bernyawa, ia melirik sekilas. lalu menghambur memeluk papanya
"papa nggak kenapa-napa, sayang" ujar Alexandre menenangkan putrinya yang sudah terisak dalam dekapannya
"tuan, dia masih bernapas. apa harus..."
sementara Sacha sudah tenang akan elusan tangan sang papa di pundaknya.
"apa luka papa akan sembuh kalau hanya dipeluk gini" ujar Alexandre menyentak lamunan Sacha yang sejak tadi matanya tak lepas menyaksikan bagaimana tubuh lemah Max di bawa pergi
"katanya obat papa itu pelukan Sacha" balas Sacha melepas pelukannya, ia meringis ngilu melihat bekas darah di ujung hidup papanya dan robekan pada sudut bibir lelaki itu
__ADS_1
"iya kamu adalah obat paling mujarab bagi papa. tapi mamamu bisa menambah luka papa kalau sampai lihat wajah kesayangannya ini ada setitik luka"
Sacha segera tersadar, segera ia menarik papanya masuk ke dalam mansion. Darlina bisa mengamuk kalau tahu suaminya terluka.
"ada kejadian apa barusan, kenapa ada bekas darah mengering di halaman depan?" sebuah suara tanya menginterupsi kegiatan Sacha yang tengah memberikan anti septik pada sudut bibir papanya
Darlina muncul ke ruangan Alexandre dengan mata memicing "ada apa dengan wajah papa? jangan bilang rumah kita di serang?"
belum sempat anak dan ayah itu menjawab, Darlina sudah bergerak cepat menekan tombol untuk memanggil Robbins
"ceritakan apa yang terjadi"
Sacha melanjutkan mengobati luka papanya, sedang Alexandre begitu tenang. berbeda dengan Darlina yang memancarkan aura membunuh setelah mendengar penuturan Robbins
"pastikan dia tidak mati. dia harus menerima penderitaan lebih lama karna berani mengusik kelurga ku" titah Darlina tak terbantahkan
Sacha menghela napas. haruskah ia bahagia atau malah miris akan nasib Max. kini yang membenci Max bukan hanya dirinya tapi juga Alexandre dan Darlina.
__ADS_1
'selamat datang di lubang neraka yang kamu gali sendiri' batin Sacha
Bersambung...