
kata Paulo Coelho, Jika ada kemungkinan menemukan penghiburan dari tragedi kehilangan seseorang yang amat kita cintai, itu adalah harapan yang perlu ada, bahwa barangkali semua yang terjadi adalah yang terbaik
tapi pepatah itu tidak berlaku mengenai kematian seorang gadis yang namanya memiliki arti jalan penghidupan yang tentram, Anita. sebab gadis itu pergi meninggalkan berbagai penyesalan bagi orang yang pernah abai terutama seorang yang pernah memberi luka padahal gadis itu tak semestinya mendapatkan perlakuan bejadnya.
meski telah termakan bulan bahkan sudah berganti tahun, nyatanya bayangan gadis itu tak juga bisa hilang dalam benak mereka, tawa, tangis, binar matanya yang menggemaskan, sorot mata sendunya, suaranya, selalu menjadi irama syahdu yang menyayat hati bagi mereka yang ditinggalkan dengan rasa penyesalan.
sosok gadis yang mereka yakini raganya sudah bercampur dengan tanah dan telah bahagia di keabadian namun masih menjadi sosok yang terus menyiksa kalbu kala rindu dan rasa penyesalan membaur jadi satu dalam benak. setiap waktu, setiap kesendirian menyapa maka sosok itu selalu menari-nari dalam memori.
dan karna itu, Max membenci kesendirian. sebab gadis itu selalu datang, datang menertawakan penyesalannya yang sudah tak berarti.
"tuan, barang dari Meksiko"
mata jeli Max meneliti serbuk yang disodorkan salah satu bawahannya, lalu yakin jika barang itu adalah yang dicarinya, Max lantas mengangguk
"jual dengan harga terbaik, jangan lupa simpankan 15 gram untuk saya" titahnya yang langsung di indahkan
sembari menghirup barang serbuk kristal itu, Max memerhatikan bagaimana gesitnya puluhan bawahannya mengatur pesanan konsumen yang berasal dari berbagai negara itu.
ada yang hanya di bungkus plastik hitam terus di rapikan dengan lakban, ada pula yang harus kemas serapi mungkin hingga tak memiliki celah. seperti membelah berbagai macam buah lalu isinya di keluarkan sebagian yang kemudian digantikan barang yang sudah di bungkus rapi ke dalamnya sehingga barang tetap aman hingga sampai ke konsumen. lihat saja bahkan markasnya kini sudah di penuhi berbagai harum segar dari buah-buahan bercampur aroma serbuk yang jika di hirup akan membangkitkan rasa bahagia tak terkira
sebab tak semua negara melegalkan barang tersebut. namun para pengonsumsi dari negara yang jelas memiliki undang-undang larangan penggunaan barang tersebut tetap ngeyel pengen konsumsi, dan Max sebagai pebisnis tentu tak menolak rejeki dari mereka. seperti konsumen terloyalnya dari negara kepulauan, Indonesia, dari sejak menjadi budak pengedar dari ayah angkatnya hingga ia memiliki bisnis sendiri, konsumen Indonesia tak pernah alpa memesan barangnya dalam seminggu. bahkan Max pernah sampai mengantar langsung ke negara yang terkenal dengan banyak pulau itu. dan... tujuannya bukan hanya mengantar tapi ia memiliki tujuan lain... tujuan yang sekarang menjadi penyesalan terbesarnya.
__ADS_1
ah! kenapa lagi-lagi ingatan itu tak bisa tak merecokinya dalam sehari saja? bahkan dalam keadaannya yang tengah diliputi euforia dari serbuk kristal yang lima tahun ini menjadi candunya
"S*it!!" umpat Max sembari melempar barang di tangannya lalu berjalan ke kursi kebesarannya, membuat para preman yang sebelumnya saling melempar canda kini terdiam, mereka sontak bekerja tanpa sepatah kata, bahkan beberapa diantaranya menahan napas dan bergerak sepelan mungkin.
bosnya yang asik kini menjadi tempramental, perubahan itu nyata sejak mereka melakukan kesalahan, sejak mereka gagal dalam menjalankan perintah bosnya lima tahun lalu mengenai seorang gadis yang bosnya akui sebagai adik.
mereka jelas merasa bersalah sebab ketidak becusan mereka membuat sang adik yang begitu disayang bosnya harus menjadi korban bom bunuh diri. adik yang disayang, ya, mereka beranggapan demikian sebab nama Anita sering kali menjadi racauan dari mulut bosnya entah tersadar maupun tengah tertidur.
mereka masih beruntung sebab bosnya masih sudi memperkerjakan mereka setalah kesalahan fatal yang mereka perbuat di masalalu.
sedang Max tengah menenggelamkan wajahnya di meja dengan beralaskan kedua lengannya yang ditekuk
"tenang disana Anita, tolong jangan mengusik lagi" lirih Max dengan nada tercekat
Max menegakan tubuhnya ketika deringan ponsel mengembalikan kesadarannya. ia tatap layar dengan tatapan datar, kembali menghela napas panjang sebelum mengangkat panggilannya
"ada apa dengan ibu saya?" tanyanya langsung
'ibu tuan mengamuk, dia terus memanggil nama Pratama. sebaiknya tuan mempertemukan beliau agar ibu anda...'
"suntikan saja obat penenang seperti biasa, sus. orang itu tidak akan sudi bertemu ibu" potong Max lalu mematikan sambungan
__ADS_1
Nasya, bukannya Max tak peduli pada ibunya itu, hanya saja permintaan Nasya sungguh tak bisa Max kabulkan. Max akan mengabulkan apapun asalkan jangan kehadiran Pratama, bahkan jika Nasya meminta hidupnya pun Max akan berikan tapi tidak dengan mengahdirkan lelaki paru baya itu di depan sang ibu, Max tahu diri jika ia telah menorehkan banyak luka di hati ayah kandung dari seorang gadis yang pernah Max nikahi karna balas dendam. tidak lagi Max ingin berurusan dengannya selain meminta pengampunan, karna sampai detik inipun lelaki itu tak sudi mengampuninya.
ibunya memang kurang waras sekarang hingga harus terjebak di balik kamar pasien rumah sakit jiwa. wanita itu sudah jadi penghuni selama empat tahun di sana. ya setahun sejak kematian Anita. bukan gila karna kematian Anita tapi karna gila akibat mendapat penolakan dari Pratama.
ingat kepergian Nasya saat Max koma akibat pukulan dari Pratama?
waktu itu ternyata Nasya datang ke Indonesia, menyusul Pratama dan mengemis cinta dari lelaki yang sudah beristri tersebut. Nasya bahkan melakukan segala cara termasuk mencelakai Angraini demi mengantikan posisi wanita itu disisi Pratama. bukannya mendapatkan cinta Pratama malah kemarahan dan kebencian yang Nasya peroleh hingga berujung Nasya kehilangan kewarasan.
Nasya memang sudah kelewat batas akan obsesinya terhadap lelaki yang pernah Max benci karna cerita karangan wanita yang Max panggil ibu itu.
malu? tentu saja ia begitu malu pada Pratama
bersalah? sudah jelas ia merasa bersalah dan didera rasa penyesalan pada Pratama juga pada sosok yang sudah damai di atas sana
benci? tidak, ia tidak mau jadi anak durhaka membenci ibu kandungnya sendiri. apalagi hanya Nasya yang ia punya sebagai orang tua, sebab keberadaan sang ayah kandung ia tidak tahu dimana rimbanya. ibunya tidak mau mengaku, Max tak mungkin memaksa sebab wanita itu sudah tidak sehat saat Max menjemputnya di Indonesia, sedang ia tak mungkin bertanya pada Pratama mengenai siapa lelaki yang bernama dimas itu.
lagian Max sudah enggan mengetahui siapa ayah brengseknya itu. ia tak lagi menaruh dendam sebab ayah dan ibunya sama-sama brengsek sehingga dirinya harus lahir diluar pernikahan karna perselingkuhan yang terjadi 31 tahun lalu.
kisah cinta terlarang antara pria beristri dan seorang pembantu sungguh sangat menggelikan bagi Max. yang ada sekarang ia menyesal telah lahir namun tetap tak bisa membenci sang ibu walau ia tak menampik menyimpan rasa kecewa, kecewa terhadap masalalu ibunya dan kecewa telah dibohongi dengan cerita palsu sang ibu sehingga ia menaruh dendam pada orang yang salah...
dan Max sungguh tersiksa akan hasil dari pembalasan dendamnya yang salah alamat. telah lima tahun berlalu dan dia terus dibayangi penyesalan itu.
__ADS_1
Bersambung