DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
seatap


__ADS_3

"kamu..."


"lapar ni. makan yuk" ujar Sacha memelas berhasil membungkam Alexandre yang terlihat belum puas memberi ultimatum sang putri.


"Sacha akan jelasin nanti. tapi sekarang Sacha beneran lapar, rindu banget makan bareng papa sama mama" imbuh Sacha berani menarik Alexander dan Darlina untuk beranjak, tak ada yang menyadari bahwa Sacha tengah menggigit bibir berusaha mengabaikan jantungnya yang berdentang keras. sungguh ia ketakutan melihat tatapan marah bercampur kecewa di mata kedua pasangan Dior yang lima tahun terakhir sudah menjadi orang tua terbaik untuknya.


akankah setelah ini ia beneran akan di lenyapkan oleh kedua orang ini? mati-matian Sacha menahan ngeri dalam benaknya


"papa sama mama mau makan apa? biar Sacha yang meladeni kalian" ujar Sacha penuh harap setelah ketiganya tiba di meja makan. menu makan siang sudah tersaji dengan berbagai lauk di atas meja


"urus dirimu sendiri. papa ada istri yang meladeni" ujar Alexandre berhasil memancing dengusan Sacha. meski terdengar dingin namun mendengar kata sebutan papa yang ditujukan untuk Alexandre sendiri sedikit melegakan ketakutan Sacha. lelaki itu masih menganggap dirinya sebagai anak, bukan?


"sekarang papa mandiri dulu. mama mau panggil kakak dulu" ujar Darlina lalu berlalu tanpa menghiraukan ekspresi sang putri yang seketika mematung.


"kakak?" lirih Sacha membuat Alexandre menatap putrinya


"makanya kalau orang tua telpon itu diangkat. bahkan kepulangan kakakmu saja kamu tidak tahu"


"orang itu... orang itu ada di sini? di rumah ini?" tanya Sacha dengan nada tercekat


"dia kakak kamu Sacha. dia Alle kita. Alexandro Dior" peringat Alexandre menekan setiap katanya. lelaki baya itu tak suka putrinya memanggil putra pertamanya dengan nama orang itu. terdengar asing. bukankah harusnya Sacha bahagia karna keluarga mereka berkumpul lagi?


belum sempat Sacha menguasai kesadaran dari keterkejutannya mengetahui Max ada di rumah yang sama dengannya, gadis itu dihantam lagi dengan kenyataan setelah Darlina muncul bersama dengan sosok seorang lelaki yang duduk di kursi roda

__ADS_1


dunia Sacha kembali hitam. kisah masalalu lima tahun lalu kembali menjadi momok mematikan dalam ingatannya melihat tatapan pria itu yang menghunus tepat di matanya


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Sacha tengah meringkuk di ujung ruangan pribadinya. kedua tangannya memeluk kedua lutut, wajahnya ia sembunyikan disana.


bagaimana bisa takdir membawanya pada titik ini? kenapa harus Max?


kemana lagi ia harus lari?


haruskah ia berkata jujur saja kalau dirinya bukan keturunan Dior? ia tak punya pilihan. toh pada akhirnya ia akan berakhir mengenaskan juga. jika tidak mati di tangan Alexandre dan Darlina pasti ia akan mati perlahan di tangan Max seperti yang terjadi di masalalu.


"Sacha, sayang?" sentuhan lembut disertai panggilan dengan nada pilu itu menyentak lamunan Sacha. ketika ia mendongak matanya langsung bersirobok dengan netra yang sudah berlinang air mata milik Darlina


"astagaa nak, kamu kenapa seperti ini?" Darlina langsung meraih tubuh sang putri ke dalam pelukannya


"iya sayang ini mama" jawaban Darlina membuat Sacha membalas pelukan ibunya tak kalah erat. oh sanggupkah ia kehilangan orang tua baik ini


"jangan takut ya. kamu tidak seharusnya menghukum diri kamu sendiri. kita memang bersalah telah menyiksa Alle, makanya untuk menebus kesalahan kita, kita harus kuat dan merawat Alle agar bisa sembuh" ujar Darlina berhasil melemahkan pelukan Sacha


ya, lelaki yang ternyata memiliki nama lengkap Alexandro Dior itu dinyatakan lumpuh. ia hanya bisa menggerakkan kepala hingga lehernya. tangan dan kakinya mati rasa seolah tak bertulang. semua akibat cedera yang Max alami saat di gudang eksekusi Vangster berkat tangan terampil Alexandre, Darlina dan Sacha sendiri. tapi sumpah demi langit dan bumi bukan itu yang membuat Sacha menangis ketakutan sekarang ini.


Darlina maupun Alexandre tidak tahu saja kalau Sacha bahkan sengaja membuat insiden kecil saat di meja makan sehingga tubuh tak berdaya Max terjatuh dari kursi rodanya dan terkapar menyedihkan di lantai

__ADS_1


untung saja lelaki itu juga mengalami kebisuan selama tersadar dari komanya sehingga perlakuan Sacha hanya ia dan Max yang tahu.


semoga saja lelaki itu bisu selamanya sehingga rahasianya yang bukan keturunan darah Dior tetap aman. batin Sacha meminta


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Sacha menghela napas panjang setelah ia keluar dari ruangan Alexandre yang sudah puas mengintrogasi nya atas keengganannya mendekat pada putra pertama Dior itu.


untung saja Sacha dapat menemukan alasan kuat sehingga papanya memaklumi meski pada akhirnya Alexandre menuntut Sacha untuk terbiasa dengan kehadiran Max, bahkan ia dipaksa untuk menyapa lelaki lumpuh itu di kamar yang selama ini menjadi pelarian kedua orang tuanya jika merindukan anak sulung mereka yang hilang puluhan tahun lalu. sekarang kamar itu kini berpenghuni, bukan lagi hanya di isi beberapa poto Alexandro kecil ataupun beberapa robot mainan bocah tapi kini kamar itu telah di isi raga sang pemilik kamar.


dan disinilah Sacha berada, tanpa mengetuk dan tanpa persetujuan sang pemilik kamar dengan lancang ia melangkah mendekat ke arah ranjang dimana tubuh Max terbaring lemah


"hai" sapa Sacha ketika kepala Max menoleh ke arahnya


"dih sombong sekali. sapa balik dong" ujar Sacha dengan nada mengejek


"eh lupa.. kamu kan bisu ya sekarang. kasihan sekali" imbuh Sacha. wanita itu dengan pongah mendekat dan menekan lutut Max dengan jarinya


"aku masih ingat bagaimana kaki ini menendang ku sampai tersungkur di lantai hingga tak sadarkan diri" gumam Sacha tersenyum miris


plak


entah setan apa yang merasuki Sacha, bukannya prihatin akan kondisi Max, gadis itu malah menabok keras betis Max

__ADS_1


"ah payah!" setelahnya Sacha berlalu pergi meninggalkan Max yang sudah meneteskan air mata sembari menatap punggung gadis itu hingga hilang di balik pintu


Bersambung...


__ADS_2