
"bisa lebih cepat!"
entah sudah berapa kali Pratama mengeluarkan titah yang sama namun Max masih mempertahankan laju mobilnya yang sangat pelan karna alasan tidak mahir mengemudi di tengah kepadatan kendaraan. alih-alih menurut Max malah tertawa dalam hati melihat kepanikan secara nyata di wajah tua Pratama
drt drt drt
Max melirik, Pratama baru saja mengeluarkan ponsel di saku lelaki itu, di layar ponsel milik Pratama tertera panggilan masuk atas nama RATUKU 🤍
detik itu juga rahang Max mengetat. betapa beruntungnya pelakor itu begitu diistimewakan oleh Pratama, harusnya posisi itu milik Nasya, ibu kandung Max yang dibuang oleh Pratama karna tergoda pelakor. pikir Max
"halo, sayang"
Max melirik tajam ke arah Pratama, menyaksikan bagaimana raut wajah Pratama yang seketika berubah tenang, lebih tepatnya berusaha terdengar tenang padahal beberapa detik lalu wajah itu hanya memperlihatkan ekspresi tegang dan marah, namun hanya karna mendapat telpon dari Angraini wajah itu kini tertutupi topeng ketenangan yang begitu sempurna demi tak membuat wanita pujaan hati tak khawatir.
Max muak
Pratama memperlakukan mereka begitu baik sedang dirinya dan sang ibu di buang layaknya sampah!
"ya! hati-hati!" pekik Pratama ketika laju mobil bertambah lima kali lebih cepat
"bukannya anda mau segera sampai?"
"bukannya kamu tidak bisa mengemudi cepat?" balas Pratama dengan pertanyaan
"saya hanya khawatir dengan istri saya satu-satunya karna lama saya tinggal di rumah sakit" ujar Max dengan sengaja menekan setiap kalimatnya karna niat menyindir, walau ucapannya jelas hanya dusta belaka
Bukannya raut bersalah yang Max dapati malah anggukan setuju dari Pratama. Max mengeram kesal akan respon itu, namun Pratama mengartikan ketegangan Max karna sang menantu fokus menyalip kendaraan lainnya. kekesalan Max makin di ujung tanduk kala Pratama kembali fokus pada panggilan telepon yang belum terputus itu.
"nggak papa sayang, bentar lagi mas akan ketemu putri kita. iya semua baik-baik saja. sudah dulu yah, nanti kalau mas ketemu Nita, mas kabarin oke. iya sayang iya. oke see you my love"
dan Pratama hanya bisa mengumpat dalam hati ketika Max melaju seperti orang kesetanan, bahkan Pratama mematikan sambungan telpon dengan asal karna kedua tangannya mencari pegangan agar tak terlempar karna cara mengemudi Max yang brutal
__ADS_1
'ada apa dengan anak ini sih?' batin Pratama curiga
'apa aku buat sekarat aja ya pria kejam ini?' batin Max terpancing emosi
kalau lelaki ini tiada pasti perempuan pelakor itu akan menderita dan itu akan membuat ia dan ibunya bahagia karna tak satupun yang mendapatkan Pratama pada akhirnya.
tapi apa ia tega membunuh lelaki yang membuatnya hadir di dunia?
tapi bukankah peran Pratama hanya sekedar menanam benih lalu membuang Nasya tanpa perasaan? bahkan tak pernah menganggap dirinya sebagai darah dagingnya?
Max dilanda rada dilema
namun pada akhirnya pikiran pendeknya lah yang menang, dibutakan dendam karna dibuang sejak dalam kandungan oleh ayah kandungnya, Max kini menginjak gas hingga full alih-alih berbelok ke arah jalan rumah sakit. Persetan dengan permainan yang ia rencanakan. hatinya sudah terlanjur dikabuti perasaan muak dan dendam ketika mendengar bagaimana Pratama memperlakukan istrinya.
"kita mau kemana? kenapa jauh sekali?" tanya Pratama yang mulai curiga akan kawasan yang mulai sepi penduduk
Max tak menanggapi, ia masih fokus mengemudi dengan pikiran bercabang
"ibu maafkan Max" gumam Max sebelum akhirnya membanting stir ke kanan dengan tiba-tiba dalam kecepatan tinggi. mobil dengan harga mencapai 550.000 euro itu melesat jauh dari jalan lalu berakhir membentur sebuah pohon besar. alhasil tubuh Pratama yang berada di sebelah kanan mendapatkan benturan keras. bagaimana tidak? bahkan mobil itu kini tak berbentuk sama sekali.
Max rela menghancurkan mobil kesayangannya demi melihat Pratama sekarat di depan matanya.
bukan hanya Pratama, Max juga mengalami luka. namun lelaki dewasa itu masih bisa menyunggingkan senyum kala menoleh ke samping dan melihat Pratama tak sadarkan diri dengan keadaan yang menggenaskan.
"selamat menuai apa yang harusnya anda alami, semua ini buah dari apa yang anda tanam di masalalu" gumam Max. Max meringis kala menggerakkan kakinya, sepertinya kakinya kejepit di bawah sana. lalu dengan gerakan pelan ia menoleh keluar, mereka berada di kawasan tanpa penduduk
Max harus berusaha keluar dari dalam mobil. karna jika tidak, ia bisa terjebak bersama lelaki yang paling di bencinya dalam hidupnya itu.
setelah berusaha cukup keras, akhirnya Max bisa menarik kakinya, lalu ia segera membuka pintu mobil, namun sebelum keluar ia menoleh ke arah Pratama, tangannya terulur memeriksa nadi lelaki itu, masih ada.
Entah apa maksud dari helaan napas lega itu, mungkin merasa lega karna berhasil membuat Pratama dalam keadaan sekarat atau... karna ia tak membuat lelaki itu meninggal?
__ADS_1
setelahnya Max pergi, meninggalkan tubuh Pratama yang berdarah-darah tengah terjebak di dalam mobil rongsokan
meski harus menahan perih di bagian lutut hingga kakinya, Max terus berusaha menyeret kakinya untuk mencapai jalan. berungkali kata umpatan keluar dari mulutnya kala untuk kesekian tak ada yang menjawab panggilannya
"Estúpido!"
kesal bukan main, disaat ia butuh bantuan, para anak buahnya malah mengabaikan dirinya. kemana saja mereka semua? bukankah hanya menjemput Anita dari rumah sakit ke markas? pasti mereka sudah sampai di markas saat ini, bukan? atau jangan-jangan mereka...
tidak, belasan anak buahnya itu setia dan patuh akan perintahnya. tak mungkin mereka melakukan sesuatu tanpa titah darinya. tapi, kenapa mereka serempak mengabaikan panggilannya?
"****!!"
tidak! akan Max habisi mereka tanpa ampun jika berani menyentuh lebih dari apa yang ia perintahkan terhadap Anita.
dengan kaki pincang sebab sebelah kakinya terasa kram luar biasa, Max memaksakan diri berjalan menyusuri jalan berharap segera menemukan kendaraan yang bisa menolongnya, tidak, lebih tepatnya bisa ia gunakan untuk segera tiba di markas. entah kenapa ada sesuatu dalam dirinya yang tak tenang.
entah sudah berapa kali ia diacuhkan oleh pengendara yang lewat, tapi Max tak putus asa. bahkan ia sampai ke tengah jalan untuk menyetop salah satu kendaraan namun malah berakhir diserempet.
"sial" umpatnya ketika untuk ke dua kalinya ia terguling di pinggir jalan sebab diserempet mobil pengangkut barang
"Oye, hazte a un lado, idiota!" seru pengemudi dengan tatapan marah sekaligus mengejek
ingin sekali Max mengejar dan mencekik orang itu tapi terhalang dengan kondisi kakinya. Max beranjak duduk, ia menghela napas panjang. apakah akan ada orang yang mau menolongnya di kawasan ini? mengingat kawasan yang ia pilih ini memang kawasan para preman jalanan memalak dan juga rawan penipu dan pasti pengendara-pengendara itu menganggap dirinya salah satu dari kelompok mereka. sial!!
ck, bukan hanya Pratama yang sekarat kalau begini, ia juga bisa ikut sekarat. batin Max
Bersambung...
maaf banget kalau nggak dapet feelnya 🙏
tolong typonya di tandai ygy
__ADS_1
ntar aku revisi