DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Alasan dibaliknya?


__ADS_3

"bawa dia masuk"


Anita menggeleng takut, namun dengan tak berperasaan lelaki besar itu langsung menyeretnya mengikuti arah perginya Max


"lepasin, tolong lepasin saya" tersadar dengan kosakatanya yang memakai bahasa Indonesia Anita segera mengulang dengan bahasa spanyol


"déjame ir, por favor déjame ir"


Anita tercengang sendiri setelah kalimatnya terlontar, seketika tersadar akan sesuatu, astaga!! kenapa baru terpikirkan kalau ia bisa menggunakan bahasa spanyol. ia memang dari kecil memiliki les khusus berbagai bahasa, salah satunya Spanyol. kenapa ia baru tersadar akan fakta itu? apa karna masalah yang datang bertubi-tubi dan membuatnya melupakan yang namanya perasaan tenang dan damai sampai kemampuannya yang mahir beberapa bahasa ikut terkubur? kenapa ia tidak menggunakan kelebihannya itu untuk kabur dari Max? setidaknya meski tak memiliki ijazah tapi dengan mahir menguasai bahasa Spanyol di kota Madrid ini ia pasti menemukan jalan. pekerjaan apapun, bahkan sebagai kuli akan ia lakukan di luar sana asal bisa memiliki uang dan bisa pulang ke Indonesia. toh di rumah Max ia sudah terlatih sebagai kuli, bukan? tapi bagaiamana caranya ia bisa kabur?


Bruk


"aauuu"


tetiba dorongan dari lelaki besar itu membuat Anita tersentak dari lamunannya. Anita tersungkur di lantai karna tak memiliki respon tubuh yang baik.


"tu eres tan rudo" protes Anita sembari berusaha bangkit dengan sorot mata kesal ke arah lelaki besar itu


"pandai berbahasa Spanyol rupanya?" tanya seorang wanita membuat Anita segera menoleh ke arah sumber suara


disana, di sofa tunggal, seorang wanita baya terduduk kaku, sedang di sebelahnya, di sofa lainnya, Max menatapnya dengan tatapan terkesiap


"sejak kapan kamu bisa bahasa Spanyol?" tanya Max dengan nada mengintimidasi. setahunya Anita tidak menguasai bahasa asing selain bahasa Indonesia. ia pernah mengumpan beberapa bahasa kepada Anita tapi gadis itu hanya terdiam dengan sorot kosong


bahaya kalau Anita ternyata mahir menggunakan bahasa Spanyol. wanita itu bisa kabur dan kembali ke Indonesia. pikir Max


sedang Anita yang ditanya gelagapan, haruskah ia menjawab jujur dan menyombongkan keahliannya? tapi... bukankah lebih baik Max tidak perlu tahu. Max pernah mengoloknya dengan menggunakan bahasa Spanyol bersama Anne waktu itu. mengatainya kecil dan katanya lelaki itu tak suka dengan wanita kecil karna tak bisa memuaskan nafsunya, lalu keduanya terbahak menonton Anita yang tengah membersihkan sisa kekacauan kelakuan mesum Anne dan Max kala itu.


"tidak. aku hanya belajar sedikit kosa kata dari percakapan pembantu di rumah kamu" jawab Anita memilih berbohong. toh kali aja suatu saat ia bisa kabur dari Max dan lelaki itu akan membiarkannya karna mengira dirinya akan kembali lagi kepadanya sebab tak tahu bahasa negara yang terletak di Eropa bagian barat daya itu.

__ADS_1


tapi tunggu? bukankah hari ini hari eksekusinya seperti ucapan Anne tadi? ck, baru juga otaknya mulai bekerja normal tapi ternyata waktunya sudah habis. apakah ia akan dibunuh di mansion besar ini? dengan disaksikan Max dan... siapa wanita baya itu?


"oh, kita belum kenalan, kemari cantik" panggil Nasya melihat pancaran kebingungan di mata anak gadis dari Pratama itu.


Max melirik tak suka pada sang ibu akibat pujian yang wanita kesayangannya itu lontarkan untuk anak dari lelaki yang telah membuat mereka terbuang dan kehilangan sosok kepala keluarga. sedang Anita masih berdiri kaku. ia takut mendekat. semua orang yang kenal Max itu adalah iblis, bukan?. pikir Anita


"mau gue cincang lo sekarang juga hah?! perintah ibu gue adalah perintah gue" hardik Max yang kini menatap Anita dengan kilatan amarah


Anita terlonjak, meski tahu dirinya sebentar lagi akan di eksekusi tapi mendengar ancaman Max ia tetap ketakutan.


di cincang?


astagaaa, eksekusi macam apa itu? emang dirinya daging sapi.


"kemari, lebih dekat" pinta Nasya dengan mengulurkan tangannya, Anita menurut, lalu sedikit membungkuk karna wanita baya itu memberinya isyarat demikian


Anita langsung memejamkan matanya kuat dengan merapalkan beberapa doa terakhir saat tangan tua wanita baya itu terulur ke arah wajahnya. namun bukannya mendapat gamparan atau jambakan seperti yang biasa Max lakukan padanya, Anita malah merasakan elusan lembut di wajahnya


bukan hanya Anita yang langsung membuka mata mendengar lirihan Nasya, Max juga menatap ibunya dengan ekpresi tercengang


"tangan ini pasti sering Pratama ciumi" Nasya memeluk erat lengan Anita sembari menangkup sebelah tangan gadis ringkih yang kebingungan akan reaksinya


dan sepersekian detik selanjutnya tangis Nasya pecah, tangisan pilu seolah baru saja kehilangan seseorang yang di cintainya.


tak berselang lama tubuh Anita terdorong, tak terlalu kuat karna kondisi wanita aneh itu yang.... lumpuh? tebak Anita masih dengan ekpresi tercengang


"Aaarghhhh!!" pekikan histeris Nasya sebelum akhirnya wanita baya itu jatuh pingsan


_ _ _ _ _ _ _ _ _

__ADS_1


"kamu lihat? bagaimana perasaanmu melihat keadaan ibuku seperti ini?"


Anita tersentak mendengar tanya dari pria yang tengah mengelus lembut kepala wanita baya yang terbaring lemah di atas ranjang. Anita sendiri keheranan kenapa wanita yang Max panggil ibu itu tiba-tiba pingsan setelah meracau tak jelas mengenai papanya, Pratama.


Max melirik sesaat saat tak mendapati jawaban dari gadis muda yang berdiri di ujung ranjang. ia memang sengaja membiarkan adik tirinya itu membantunya membawa sang ibu masuk ke dalam kamar pribadi Nasya


"be... beliau ke.. kenapa?" tanya balik Anita sebab tak mengerti pertanyaan Max, lagian Anita juga penasaran dengan keadaan ibu Max itu


"dia sakit karna papamu" desis Max membuat Anita ternganga, namun segera menggeleng, menyangkal tuduhan Max


"papa orang baik, tidak mungkin bisa berbuat jah..."


"baik katamu? jika baik dia tak mungkin membuangmu. buka matamu Anita! kedua orangtuamu itu manusia-manusia tak berperasaan" potong Max mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Anita


"aku dan ibuku adalah korban kebejatan kedua orang tuamu" ujar Max, matanya kini memerah dengan tangan terkepal "aku dan ibuku dibuang oleh si brengsek Pratama demi perempuan penggoda seperti ibumu"


Anita terhuyung, seketika bagian penyangga tubuhnya jadi tidak seimbang mendengar pengakuan Max, pada bagian ini otaknya langsung singkron menyimpulkan kata demi kata yang Max lontarkan, namun ia memilih menolak percaya, papanya tak mungkin...


"Max, mana adikmu?"


suara lemah Nasya mengintrupsi, membuat Max maupun Anita menoleh ke arahnya. namun yang Anita lihat, wanita baya itu seketika memalingkan wajah ketika bersirobok dengan netranya


"Max, ibu tak sanggup melihatnya, matanya seperti Pratama, ibu ingin memeluknya, merasakan kehangatan tubuh yang selalu Pratama dekap itu, tapi ibu membencinya. Ibu tersiksa Max, tolong bantu ibu untuk melakukannya... ibu membencinya... dia memang adik kandung kamu Max, tapi nasib kalian berbeda... kamu dibuang dan tumbuh tanpa kasih sayang Pertama sedang dia sejak lahir merasakan kehangatan Pratama" racau Nasya dengan suara lemahnya.


berbeda dengan Max yang mengepalkan tangannya dengan aura prihatin dan merasa sakit mendengar kalimat ibunya yang putus-putus, Anita justru terduduk lemas di lantai, syok mendengar fakta yang keluar dari mulut wanita baya itu.


jadi papanya memiliki istri lain selain mamanya? papanya memiliki anak lain selain ia dan kakaknya, Aqram? kenapa papanya tega membohongi sang mama beserta dirinya dan Aqram? kenapa papanya begitu jahat menelantarkan Max dan ibunya?


"ibu tenang, aku akan menuruti semua keinginan ibu asalkan ibu bisa bahagia" Max membelai lembut kepala ibunya sebelum akhirnya berdiri lalu memaksa Anita berdiri dan menyeretnya keluar

__ADS_1


"ki...kita sau... saudara?" sebuah tanya yang terlontar dari bibir bergetar Anita, namun Max memilih abai dan terus menyeret tubuh Anita keluar mansion sang ibu


Bersambung...


__ADS_2