DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Kepribadian Ganda?


__ADS_3

Ceklek


dengan gerakan takut-takut, Anita menoleh ke arah pintu, di sana tubuh jangkung lelaki dewasa berdiri menyander di kusen pintu sembari bersedekap dada


seketika hawa menakutkan memenuhi kamar berukuran kecil itu.


"gimana tidurnya manis?" tanya Max yang bersuara lembut namun terdengar seperti nada penuh ejekan di telinga Anita


"Waw! respon apa itu? begini sikapmu pada orang yang telah menolongmu dan mengobati lukamu? terlebih pada suamimu?" Tanya Max dengan nada kecewa melihat respon Anita yang membuang muka alih-alih melihat apalagi menjawab pertanyaannya. Max berucap sembari melangkah mendekat


ketukan langkah beradu dengan lantai yang mendekat membuat Anita menegang, apalagi yang akan Max lakukan padanya? sungguh Anita takut setengah mati, bahkan lehernya terasa kaku hanya untuk mendongak menatap pemilik kaki yang ada di samping ranjang saat ini


"perasaan hanya tanganmu yang luka lalu kenapa tubuh kecilmu ini kaku begini" ujar Max dengan mata memindai tubuh tegang istri sahnya


"ah aku merasa terluka" ujar Max lagi dengan nada sedihnya setelah duduk di tepian ranjang namun Anita meringsut menjauh, lebih tepatnya berusaha menjauhkan tubuhnya dari jangakauan Max


"kemari sayang" Max menarik pelan lengan Anita agar mendekat, tidak ada kekasaran, meski demikian Anita tetap kaku meski menurut mendekat


"gimana lukanya? apa sudah mendingan? aku bangun tengah malam loh untuk mengobati ini, dan mengangkatmu kembali ke kamar" beritahu Max dengan nada lembutnya sembari mengelus dan mengecup sayang kedua tangan Anita yang di baluti perban


"ka..kamu beneran yang pindahin aku kesini? ob...obatin tangan aku?" tanya Anita terbata, ia hanya mau memastikan ucapan Max benar adanya karna jika mengingat bagaimana murka Max yang menyeretnya ke gudang tadi malam, tak mungkin Max mau repot-repot mengeluarkannya dari gudang. pikir Anita


Melihat anggukan Max membuat ketakutan remaja gadis berusia 17 tahun itu perlahan memudar, hanya karna Max berujar lembut dan sudi mencium tangannya, apalagi ternyata sang suami lah yang mengobati lukanya membuat Anita luluh.


Maxnya telah kembali, Suaminya yang lembut dan sabar telah kembali. batin Anita


"maafin aku yah, aku kemarin kelepasan sayang" ujar Max dengan wajah bersalahnya membuat Anita tak tega

__ADS_1


"iya aku maafin kok" lirih Anita


bagi Anita, Max kembali lembut dan sayang padanya itu suatu kesyukuran, apalagi Max sudah meminta maaf dengan tulus. tak ada celah baginya untuk membenci Max apalagi saat ini hanya Max tempatnya bergantung, ia takut di usir dan dibiarkan terlunta di jalan. ia tak punya siapa-siapa selain Max, jadi Anita berlapang dada memaafkan kesalahan Max. toh ia tak ingin lagi dimusuhi dan di kasari, rasanya sungguh sakit. pikir Anita


"tapi bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Anita mengingat perempuan seksi yang suaminya bawa ke rumah mereka


"perempuan seksi?" beo Max sembari menelengkan kepala seolah berpikir


"perempuan yang kamu bilang istri baru kamu" jawab Anita membuat Max ber oh ria


"oh Anne maksudmu"


Anita mengangguk membenarkan


"iya, dia sudah pergi dari rumah kita kan?" tanya Anita lagi, nada suaranya terdengar menuntut


yang benar saja pertanyaan suami Anita itu, mana ada seorang istri yang tidak terganggu dengan kehadiran wanita asing di dalam rumahnya terlebih kemarin Max mengaku telah menikahi wanita itu


"baiklah nanti aku akan menyuruhnya pergi" ucap Max sembari mengelus lembut surai sang istri membuat sang pemilik surai berbinar bahagia, harapannya kembali


Max-nya benar-benar miliknya seutuhnya. kepercayaan diri Anita kembali dengan Max menuruti keinginannya


namun kebahagiaan yang baru dirasa sepersekian detik itu harus sirna ketika elusan lembut di rambutnya berubah jadi jambakan


"AAUUU"


"setelah kamu sudah m*ti menggenaskan di rumah ini, gue akan menyuruh Anne pergi dan ikut bersamanya" ujar Max dengan seringai iblisnya "dasar perempuan keturunan lelaki pecundang!!" lanjut Max dengan suara menggelegarnya. lalu ia menghempaskan tubuh Anita dari ranjang hingga membentur lantai dingin

__ADS_1


"lo pikir lo punya hak apa meminta sama gue hah? lo itu cuman perempuan pembawa si*l!!" maki Max mengabaikan tangisan dan raungan ketakutan sang istri sah


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _


jika dulu kakinya kesandung karna kecerobohannya sendiri dan kedua orang tuanya tahu, Angraini, sang mama akan meminta Pratama, papa Anita untuk menyingkirkan benda itu tak peduli semahal apapun asal Anita tak lagi kesandung.


dulu ia begitu berharga di mata kedua orang tuanya bahkan oleh orang-orang yang mengenal dirinya sebagai keturunan Malik Pratama, tapi kini ia tak lebih dari seonggok sampah di mata semua orang akibat insiden kesalahpahaman yang terjadi beberapa bulan lalu. orang tuanya bahkan tega mengabaikan.. tidak, lebih tepatnya membuangnya, mereka tak memberinya kesempatan untuk membela diri.


kini Max juga berlaku demikian, tidak memberinya kesempatan untuk membela diri dari apa yang dituduhkan oleh suaminya itu. tapi dibandingkan orang tuanya, Max masih mau menampungnya hingga Anita tak perlu takut terlunta di jalanan. ia hanya seorang remaja yang putus sekolah, ia tidak mengerti sulitnya bertahan hidup seorang diri di luar sana. setidaknya tinggal bersama Max, ia masih memiliki rumah untuk berteduh walau rumah itu lebih bisa disebut neraka baginya. lebih baik demikian dari pada menjadi gelandangan, walau bayarannya ia harus hidup berdarah-darah.


Plak


tubuh ringkih itu terpelanting membentur tembok pembatas ruang makan


"apa lo nggak capek setiap waktu di gampar terus-terusan? gue aja capek, tangan gue kebas tau nggak!!" hardik Max sembari mengibas-ngibaskan tangannya


"ma..maaf"


"maaf maaf bisanya lo. dasar perempuan nggak guna!!" maki Max tanpa perasaan


"atau lo mau hidup di jalan? mau gue tendang lo pergi dari rumah gue, HAH?!!" ancam Max sontak membuat Anita refleks memeluk kaki Max


"ja.. jangan, aku mohon ampuni aku, jangan usir aku" mohon Anita mengiba yang memancing seringai licik di bibir Max


Max sangat suka melihat Anita memohon seperti itu padanya. Seolah memberikan sinyal bahwa seberapa kasar pun Max menyiksa Anita, perempuan itu akan rela menerima asalkan tidak di usir olehnya. Anita yang bodoh dan malang. Max suka jika Anita berbuat kesalahan sebab ada alasan baginya membuat anak bungsu Pratama itu menerima amukannya. Anita benar-benar pantas mendapatkan balasan dari kebejatan Pertama di masalalu. pikir Max


bahkan melihat tubuh Anita yang kian menyusut dalam sepekan terakhir tak membuat Max iba. bahkan ia berencana membuat tubuh kecil itu tinggal tulang yang di baluti kulit tanpa daging. Max sudah tak sabar menantikan hari itu tiba. beberapa bulan lagi jika itu terjadi, maka Max akan mengirimkan kabar itu pada Pratama. Max sudah tak sabar melihat reaksi Pratama melihat keadaan menyedihkan sang putri kesayangan.

__ADS_1


Bersambunggg


__ADS_2