
Meski terlihat tenang tapi Robbins dapat merasakan aura hitam pada sang bos. Kejadian barusan Bukan hanya Alexandre yang kecolongan, Robbins pun sama halnya. Setelah 30 tahun berlalu Vangster kembali memakan daging teman mereka sendiri karna sebuah penghianatan.
Tiga puluh tahun lalu. Sebuah tragedi yang sempat mengguncang Vangster karna mereka harus kehilangan bos kecil mereka karna seorang penghianat di tengah-tengah mereka sehingga membuat Alexandre dan Darlina kala itu berada di titik terendah.
‘pasti bos teringat lagi peristiwa itu’ batin Robbins sembari melirik Alexandre melalui kaca spion. Robbins dapat melihat jelas tatapan kosong bos generasi ketiga Vangster itu.
Namun tak lama kemudian ekpresi Alexandre seketika berubah saat ponselnya berbunyi dengan nada dering khusus “halo sayang?”
‘pa, Sacha ingin membunuh seseorang’
“siapa? Apakah si Ezar itu?”
‘pa, Ezar pacar Sacha. Masa Sacha mau bunuh dia”
“ya kali aja udah nggak sejalan”
‘masih sejalan dan Sacha nyaman sama Ezar”
__ADS_1
Alexandre tersenyum geli mendengar nada kesal sang putri. Bukannya tak menyukai pacar anaknya itu, hanya saja asal usul Ezar yang menjadi alasan utama kenapa ia dan sang istri tak memberi restu pada pilihan Sacha itu. Mereka tak mau ambil resiko kelak putrinya akan mengikuti Ezar ke Negara lelaki itu, Indonesia. Mereka hanya tak mau terpisah dari sang putri. Lagian siapa yang akan mengelola kekayaan mereka kalau bukan Sacha.
“apa perlu papa yang menyingkirkannya dari hidupmu?”
‘pa ayolah, memangnya Ezar punya salah apa sama papa’
“dia akan merebut kamu dari papa dan mama”
‘Sacha tidak akan meninggalkan kalian’
‘oke kembali ke pembahasan awal,boleh Sacha membunuh seseorang?’
“apa kesalahannya?”
‘Sacha hanya kesal melihatnya’
“kesalahannya?” ulang Alexandre tak puas dengan alasan Sacha. Dirinya memang sering membunuh tapi tentu jika orang itu sudah melewati batas toleransinya. Dan alasan Sacha hanya karna kesal tak bisa Alexandre benarkan
__ADS_1
‘belum ada, tapi Sacha ingin membunuhnya dengan segenap jiwa dan raga’
“jangan mengotori tangan kamu dengan sia-sia, nak. Kita bukan pembunuh tanpa sebab apalagi hanya dengan alasan kesal. Kalau dia mengusik dan merugikan mu, kamu boleh membunuhnya”
Bukan hanya merugikan ku, tapi juga pernah memperlakukanku layaknya sampah dan binatang menjijikan dalam waktu bersamaan sekaligus. Batin Sacha.
Ingin sekali ia mengutarakan alasannya itu tapi ia belum siap menceritakan keadaan sesungguhnya pada kedua orang tuanya.
Saat ini Sacha tengah berkunjung ke perkebunan karna mendapat laporan dari Bene bahwa ada tamu di perkebunan, sedang papa dan mamanya memiliki urusan lain di luar, Sacha yang memang tinggal menunggu waktu sidang kelulusan tak memiliki kegiatan lain selain rutin latihan fisik di mansion akhirnya memilih berangkat ke perkebunan melayani tamu yang biasanya adalah orang-orang penting alias bos narkotika yang hendak membeli hasil panen. Namun sampai disana, begitu melihat wajah Max, rona wajah Sacha langsung terdistorsi, ia bahkan dengan cepat berbalik badan melangkah menjauh dan menelpon sang ayah.
“kenapa anda lari? Kenapa anda begitu takut pada saya? Ini tidak seperti saya akan melahap anda”
Suara di belakang tubuhnya membuat Sacha mematung. Suara itu masih sama.
Jika kemarin-kemarin ia masih bisa menghibur diri dengan alasan hanya berhalusinasi, saat ini Sacha yakin jika pria itu beneran nyata dan dia adalah Maxime Wardhana, si pria paling kejam yang pernah Sacha temui melebihi kekejaman Alexandre dan Darlina. Setidaknya kedua orang tuanya akan mengeksekusi seseorang jika telah mengumpulkan bukti kebenaran, sedang Max hanya percaya berdasarkan cerita yang bahkan Sacha tak tahu apakah ia dan Max memang beneran terlibat pertalian darah dalam tubuh mereka.
Bersambung….
__ADS_1