
sosok pemuda dengan wajah kebingungan itu melangkah mendekat kearah Anita yang masih menangis di tempat selepas kepergian Max
"kamu udah besar kok masih cengeng" cibir pemuda itu sembari mencuri lirikan ke arah wajah sembab Anita
kepala Anita perlahan mendongak menatap pemuda itu, dengan sisa-sisa isak tangis dan pipi yang masih teraliri tetesan air mata.
"apa tujuan anda menjebak saya?" tanya Anita dengan suara terbata
"jebak? bukannya saya yang harusnya bertanya demikian? bukannya tante yang menculik saya dan membawa saya ke rumah besar anda ini? saya sadar saya tampan, banyak perempuan yang sudah tergila-gila dengan ketampanan saya termasuk tante, tapi perlu tante tahu, saya ini hanya anak sekolahan dan MISKIN, tapi meski demikian saya tidak tertarik jadi gigolo Tante, jadi tidak ada gunanya Tante tertarik dengan saya apalagi sampai menculik saya.."
"saya bukan Tante, saya masih 17 tahun!" pekik Anita memotong cerocosan pemuda yang mengaku masih berstatus anak sekolah itu
"oh maaf, soalnya wajah kamu terlihat seperti Tante-tante, kusam, mata sembab, penampilan..."
"diam! saya tidak meminta pendapat kamu tentang saya" potong Anita kesal, pemuda itu membuat emosinya tersulut dengan perkataan-perkataan tak mengenakan di telinganya. selama 17 tahun hidupnya, ini kali pertama ia di olok oleh pemuda yang mengaku miskin itu. selama ini ia selalu mendapat pujian dan sanjungan dari lawan jenisnya karna memang dirinya pantas mendapatkan itu, tapi setelah kejadian ia dipergoki di hotel bersama Max beberapa bulan lalu pujian itu tak lagi ia dapatkan tapi juga tak pernah mendapatkan cacian seperti yang pemuda itu ucapkan.
"gara-gara kamu suami saya salah paham dan menuduh saya yang tidak-tidak" Anita kembali bersuara dengan nada penuh tekanan
"kamu masih 17 tahun dan sudah bersuami? kamu sehat? atau jangan-jangan kamu ini wanita sok polos dan menggoda suami orang?" bak tak peduli bagaimana perasaan Anita, pemuda itu kembali mencercanya dengan bahasa informal. toh sepertinya mereka seumuran jadi tidak masalah, bukan?
"Max tidak memiliki istri lain selain saya" bela Anita tak terima suaminya dituduh mendua
"oh... jadi kalian menikah karna cinta?" pemuda itu mengangguk kecil sembari bersedekap dada
"bukan urusan kamu" desis Anita
"iya juga ya" pemuda itu kembali mengangguk membenarkan perkataan Anita
"btw, aku lapar nih, apa kamu tidak?" pemuda itu kembali melontarkan tanya dengan ekpresi kikuk dengan tangan mengelus perutnya.
__ADS_1
"aku anak rantau disini, hanya anak kosan dan hanya bisa makan sekali dalam sehari. bolehkah saya numpang makan?" pemuda itu berujar dengan ekpresi melas, berharap si tuan rumah berbaik hati membukakan tudung saji
"kamu dari Indonesia?" seolah tersadar akan sesuatu, Anita melontarkan tanya tanpa berniat menjawab pertanyaan pemuda itu sebelumnya
"dari tadi aku pakai bahasa Garuda, berarti aku dari planet Neptunus" jawab pemuda itu ngawur "ya, menurut kamu aku bisa lancar berdebat pakai bahasa Indonesia sama kamu dengan aksen lancar selancar jalan tol di negara Spanyol ini berasal dari mana?"
"Indonesia" jawab Anita spontan
"nah pintar" pemuda itu memberi dua jempolnya
"btw, aku beneran lapar nih, boleh minta sesuap nasi tidak?"
"***... tidak! kamu pergi sekarang juga dari rumah suami saya!" hampir saja Anita luluh tapi mengingat permasalahannya dengan sang suami membuat Anita mengenyahkan rasa kasihannya, ia berucap tegas sembari menujuk pintu keluar
"ck, pelit amat. sesama penganut bendera merah putih itu harusnya saling bahu membahu di negara orang. nggak berperikemanusiaan sekali" cibir pemuda itu lalu kemudian menengadahkan tangan ke hadapan Anita membuat istri muda Max itu mengeryit bingung
"sampai kapan pun saya tidak..."
"ck! tau-tau situ tidak mau berbagi sesuap nasi dengan orang yang membutuhkan seperti saya" potong pemuda itu dengan memutar bola matanya malas namun tangannya masih menengadah membuat kerutan kebingungan di wajah Anita makin menukik
"mana seragam saya, saya tidak mungkin pulang hanya dengan handuk ini. jadi kembalikan seragam saya"
sontak bola mata Anita bergerak dari bawah ke atas membuat pemuda itu refleks menutup dada telanjangnya dengan kedua telapak tangannya meski tak bisa sepenuhnya tertutupi
"heh! jangan lihat-lihat. bukan muhrim"
sontak Anita menunduk, wajahnya memerah malu. astagaa, dari tadi ia berdebat dengan pria asing setengah tel4njang, tapi kenapa ia tak menyadarinya. ah, mungkinkah efek kesedihannya karna di tuduh yang tidak-tidak oleh Max.
"saya tidak tahu seragam kamu, dan saya tidak melihatnya" lirih Anita memberitahu
__ADS_1
"aalah, mana saya percaya, terus yang membuka seragam saya siapa lagi kalau bukan kamu, hah? oh no, kamu melecehkan tubuh saya waktu saya tidak sadarkan diri, kan? hayo ngaku" cercah pemuda itu dengan kilatan mencemooh
"saya tidak tahu dan saya tidak pernah menyentuh kamu sedikit pun!!" teriak Anita kesal. Anita sungguh frustasi di tuduh sedemikian rupa padahal ia tak tahu menahu
pemuda itu terjengkit, ia refleks mengelus dadanya. lalu kilatan ingatan saat ia berjalan di trotoar waktu bolos sekolah beberapa saat lalu membuatnya terpaku, ia ingat ketika ada sesosok tubuh besar berpakaian serba hitam menghampirinya, berbasa-basi sesaat sebelum lelaki itu mengeluarkan sapu tangan lalu dibekapkan ke hidungnya, setelahnya ia lupa segalanya dan berakhir terbangun di kamar mandi rumah ini dengan hanya menggunakan handuk
pemuda itu melirik wanita muda di hadapannya, mungkinkah orang itu suruhan wanita sok polos ini? tapi dilihat dari wajah wanita muda ini yang menatapnya penuh kebencian membuat pikiran pemuda itu enyah, ditambah wanita ini malah dituduh oleh suaminya sendiri.. mungkinkah mereka berdua di jebak?
"ck masa bodoh lah, aku tidak mau terlibat, lebih baik pergi saja" gumam pemuda itu tak mau ambil pusing, toh selagi bukan kedua orang tuanya dan antek-antek keluarga besarnya yang memergokinya itu tak masalah. pikirnya
"khem, gini, mmm aku akan pergi, tapi... boleh pinjam baju, aku malu keluar dengan hanya selembar handuk ini" ujar pemuda itu "aku janji akan mengembalikannya segera" lanjutnya lagi menyadari tatapan wanita muda itu tak bersahabat
"tunggu disini" Anita lalu bangkit dan memasuki kamarnya, setelah mengambil asal pakaian ia kembali keluar kamar dan menyusul pemuda asing itu
"seriusly kamu ngasih aku piyama bocah ini?" bola mata pemuda itu membulat sempurna menatap jijik setelan piyama lengan panjang berwarna merah dengan puluhan gambar Mickey mouse
"yaudah kalau nggak mau" Anita hendak mengambil kembali namun pemuda itu refleks menjauhkannya
"ck! lebih baik dari pada hanya sebuah handuk" gumanya lalu tanpa tahu malu memakai piyama pemberian Anita di hadapan wanita itu
"yak!"
"ck! slow, burungku tertutupi boxer. lagian bukannya kamu udah biasa lihat burung? tapi yang pasti burung saya lebih jantan dari punya suami kamu" ujar pemuda itu kelewat santai sembari berusaha mengancingkan piyamanya namun tak bisa karna kekecilan, celananya saja hanya sebatas betisnya padahal jika di tubuh Anita itu adalah setelan panjang
Tuk
"aaawww, sakit bangs*t!!"
Bersambung...
__ADS_1