
entah suatu keberuntungan atau malah kesialan, ia kembali pada istana yang jika dilihat dari luar adalah hunian ternyaman namun sesungguhnya itu hanya tipu muslihat, sebab Anita merasa hidup di dalam sana bagaikan geladi penyiksaan para pendosa di keabadian kelak.
pertanyaannya, dosa besar apa yang ia lakukan sehingga harus menjalani penyiksaan dini tersebut? perasaan, selama hidup dirinya selalu berbuat baik pada semua orang apalagi terhadap Tuhan, ia tak pernah keluar jalur dari apa yang Tuhan larang, ia menjalani hidup sesuai apa yang orangtuanya ajarkan. selain... kejadian dimana dirinya harus berakhir menikah dengan iblis berwujud manusia yang ternyata adalah anak sang papa dari wanita lain.
tunggu, Apa kejadian itu sebenarnya sudah di rencanakan, semacam jebakan untuk pembalasan dendam Max dan ibunya terhadap papanya, eh pada dirinya?
Anita mencuri lirik ke arah pria di sebelahnya, seketika tuduhan yang ada di pikirannya buyar ketika menyadari ekpresi keras Max, rahang mengetat, kedua tangannya juga mengetat sembari mencengkeram kuat stir mobil. Anita menelan ludah susah payah, radar bahaya memperingati. memang waktu pulang dari Mansion besar ibu Max, pria itu mengendarai mobilnya ugal-ugalan seolah ingin bunuh diri.
Mereka sudah tiba beberapa menit lalu, namun keduanya tidak ada yang meninggalkan tempat, masih terduduk diam di dalam mobil. Anita yang tak fokus karna kenyataan yang baru saja di ketahuinya sungguh menguras pikirannya, sedang Max? entahlah, lelaki itu sepertinya tengah menahan amarah yang menggunung, lihat saja leher, telinga dan wajahnya yang memerah.
tak lagi menunggu perintah, Anita dengan gerakan pelan meraih pintu mobil namun nyatanya terkunci.
panas dingin sudah menyerang tubuh Anita, pandangannya mengabur hanya karna didera rasa takut akan apa yang Max lakukan padanya di dalam ruang sempit ini
namun tidak berselang lama, lelaki itu akhirnya membuka pintu mobil, lalu membantingnya cukup keras dan secepat kilat menguncinya, meninggalkan Anita di dalam sana yang berteriak minta keluar
"Max, buka pintunya!!" pinta Anita sembari mengetuk kaca. namun tak dihiraukan sama sekali oleh lelaki yang kian menjauh menuju pintu rumah
Max sepertinya ingin membuat Anita kehilangan pasokan udara hingga gadis muda itu akhirnya sekarat di dalam mobil.
terik matahari di siang bolong mampu menembus mobil mewah yang terparkir di halaman rumah Max itu, jangankan kehilangan pasokan udara, gadis muda yang mulai lemas di dalam sana merasa tubuhnya terpanggang.
"Tuhan, aku menyerah. tolong ambil saja aku, tapi tolong tempatkan aku di tempat terindah... sebab aku sudah lelah kesepian..."lirih pemilik tubuh ringkih yang kini napasnya kian melemah, pandangannya kian kosong
"tak ada gunanya juga aku bertahan, kedua orang yang melahirkan akupun juga membenciku... mereka membenciku tapi aku merindukan mereka... aku lelah... aku ingin tidur... tidur panjang.. tolong... bangunkan aku di tempat dimana aku bisa diterima dengan baik..."
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Pratama mengambil tangan sang istri, memberi usapan guna menenangkan sang wanita yang tengah berkaca-kaca melihat bangunan hunian yang telah mereka tinggal selama 7 bulan sebab pelarian ke tanah Bali.
"pa, mama berharap Anita ada di dalam dan menyambut kita" lirih Angraini menyuarakan harapannya, yang diangguki kecil oleh Pratama. meski tak mungkin tapi Pratama pun berharap demikian. ia merindukan moment dimana saat pulang dari luar kota, putri manjanya sudah menunggunya dan memberinya pelukan penuh rindu. berceloteh bagaimana putri cantiknya menjalani masa sekolahnya dan tak bisa jauh-jauh darinya.
__ADS_1
"maafin papa, ma" lirih Pratama. ia menyadari langkahnya yang menjauhi sang putri sungguh sangat keliru namun semua terlambat. harusnya ia membimbing putrinya, apalagi Anita menikah diusia muda, pasti putrinya itu butuh banyak bimbingan dari kedua orang tuanya, namun malah di jauhi karna alasan telah mencoreng nama baik
Angraini menoleh dan memberikan senyum tulus pada sang suami yang belakangan ekpresi kerasnya mulai melunak "yaudah masuk yuk pa, mama sangat merindukan suasana di dalam mansion kita" ajak Angraini. perempuan anak dua itu kemudian membuka pintu mobil dan keluar, disusul oleh Pratama
"selamat datang kembali Tuan besar, dan nyonya" hormat para penjaga mansion pada sang majikan
Angraini membalas mereka dengan senyuman begitu pula dengan Pratama
"semua aman kan selama saya tidak ada" tanya basa-basi itu terlontar dari Pratama sedang Angraini sudah lebih dulu berjalan menuju bangunan yang penuh kenangan, mulai dari dirinya pengantin baru, hamil, menikmati perannya sebagai istri dan ibu, menghabiskan banyak kenangan bersama suami dan kedua anaknya
"aman terkendali tuan" jawab tegas penjaga, Pratama mengangguk lalu menepuk pundak penjaga itu "terimakasih. kalau gitu saya susul istri saya dulu" lanjut Pratama yang diangguki si penjaga
sembari melangkah, Pratama merogoh ponsel di saku celananya, lalu mendial kontak seseorang disana
"papa sudah di Jakarta, kamu tidak usah pikirin masalah disini, fokus belajar dan balik ke Indo setelah selesai" ujarnya setelah panggilan terhubung
"....."
"....."
"papa berharap dia lelaki baik. papa mencarinya untuk memberinya jabatan di perusahaan kita agar bisa berpenghasilan dan menghidupi adik kamu"
"....."
"ya sudah, papa tutup dulu. jaga kesehatan dan pola makanmu"
"Aqram?" tanya Angraini setelah sang suami mendekat, yang diangguki Pratama
"dia masih saja tidak menyukai laki-laki itu. dia bahkan meminta mas untuk mengurus perceraian Anita secepatnya jika mereka ketemu" beritahu Pratama
"dia hanya kasihan masa depan adiknya hancur karna nikah muda" tutur Angraini memahami ketidaksukaan anak sulungnya pada lelaki yang membuat Anita harus putus sekolah
__ADS_1
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
sedang di belahan dunia lain, tepatnya di sebuah rumah mewah wilayah kota Madrid, Spanyol, seorang lelaki dewasa tengah gelisah, sebab wanita yang sengaja ia kunci di dalam mobil yang terparkir tepat di bawah matahari yang memantulkan suhunya hingga 40°c tengah dalam kondisi sekarat saat ia membukakan pintu, padahal ia baru meninggalkan gadis itu selama 30 menit lamanya.
"jika tak ditangani dengan baik di tempat yang layak, kemungkinan dia akan semakin kritis hingga meninggal" tutur dokter yang bekerja untuk Max itu.
"tidak! dia tidak boleh meninggal" tegas Max sembari menatap ke arah dokter yang bername tag Dr. Augusto
"kalau gitu kita bawa ke rumah sakit segera"
"lakukan. lakukan yang terbaik asal dia bisa kembali" titah Max lalu beralih menatap miris ke arah gadis muda nan ringkih yang terbaring pucat di atas ranjang Max seolah tidak memiliki lagi eritoris di tubuhnya
setelahnya Max tanpa pikir panjang langsung meraih tubuh Anita dalam gendongannya "ikut saya cepat dok" titah Max dan segera berlalu keluar kamar utama
di ruang tengah, Anne tampak duduk sembari menonton dengan beberapa cemilan di tangannya, ada tiga maid tengah melayaninya. ada yang bertugas memijat pundaknya, memijat betisnya juga merias kuku kakinya. istri siri Max itu begitu menikmati hingga ekor matanya menangkap sang suami tengah tergesa-gesa menuruni tangga sembari membopong tubuh lemas Anita
"Max?" panggil Anne yang kini berdiri menghampiri sang suami dan madunya
"jaga rumah, aku mau nganter Anita ke rumah sakit" ucap Max dengan nada tenggangnya, dan itu membuat Anne tak suka
"emang kamu harus ngantar? kan banyak sopir, Sayang"
"aku harus memastikan keadaannya sendiri"
"tapi..."
belum sempat protes kedua terlontar, Max sudah berlalu dari sana, membuat Anne mengepalkan tangannya, ia merasa di abaikan
"sialan si Anita" geramnya sembari menghentakkan kakinya "m4ti aja kenapa? pake sekarat segala"
Bersambungg...
__ADS_1