
Seberapa lama pun berlalu, nyatanya penyiksaan yang Anita alami di masa silam tak membuatnya bisa menghadapi sosok si pemberi trauma meski dengan segala hal yang ia miliki saat ini. kepercayaan diri, fisik kuat dan mahir bela diri juga menguasai teknik penggunaan senjata api tak ada artinya ketika hanya mendengar tawa menggelegar Max. sebuah tawa yang mengantarkannya pada ingatan kesakitan, memancing siksaan emosi kecemasan akan peristiwa lima tahun silam.
Maxime Wardhana, lelaki itu berhasil membuatnya terpukul mundur bahkan ketika nyawa lelaki itu sudah hampir melayang di tangannya.
flashback
"kamu Anita"
Muak. Sacha membanting sendok berisikan nasi kembali ke piring. tatapan yang awalnya terkesan iba yang dibuat-buat kini me-najam menatap Max
"kalau iya kenapa?! kamu mau apa hah?!" balas Sacha dengan nada dinginnya. telinganya sakit mendengar mulut lelaki itu terus menerus menyebutnya Anita
tatapan Sacha tak melunak meski air muka Max berubah, terlihat seperti takjub tapi juga terkesan penuh penyesalan. pun ketika Max langsung beranjak dan berlutut di hadapannya dengan tangan gemetar dan mata yang sudah berkaca-kaca, Sacha hanya memberikan tatapan mencemooh dengan gestur tubuh bersedekap dada.
"A.. Anita.." lirih Max dengan suara tercekat. "ma..maaf" lanjutnya
meski sadar kesalahannya sudah tak bisa mendapatkan maaf dari wanita itu tapi Max tetap mengungkapkan permohonan maafnya. Max tak menyangka hari ini ada. maksudnya, hari dimana lima tahun ini hanya ada dalam per-andaian-nya mengharapkan seseorang yang sudah mati kembali hidup. dan ya, hari ini adalah sebuah keajaiban terbaik dalam hidupnya dimana ia bisa berhadapan langsung dengan sosok Anita yang nyata meski dengan rupa yang tak lagi sama
tak mendapat respon dari sang wanita, Max mendongak disisa tenaganya yang kian melemah karna beberapa hari ini mendapat penyiksaan ditambah tak makan dan minum. helaan napas ia hembuskan pelan melihat wajah datar Sacha. Max tahu tak mudah jalannya untuk mendapatkan maaf dari wanita itu.
__ADS_1
"maaf untuk kesalahan yang mana yang anda maksud, tuan Max?" tanya Sacha setelah lama terdiam
"se..semuanya. maaf. aku salah. aku yang bodoh tak mencari tahu kebenarannya sehingga aku... aku membuatmu menderita untuk menebus sebuah kesalahan sosok ayah yang... yang sebenarnya hanya sebuah cerita bohong" aku Max dengan wajah kembali menunduk penuh penyesalan
sedang Sacha terkejut mendengar fakta itu. namun keterkejutannya hanya bertahan beberapa detik, sebab ia memilih mengubur kenangan menyakitkan itu. fakta apapun yang Max bawa hari ini tak membuatnya merasa pantas memberikan maaf pada sosok lelaki yang telah menyiksa fisiknya dan menghancurkan mental seorang Anita muda. meski begitu, ia sedikit bernapas lega karna ayah kandungnya, Pratama tak se-brengsek itu, meninggalkan seorang istri dan anak demi Angraini.
tapi... pada akhirnya Pratama malah membuangnya. miris.
"well, jadi kamu berlutut di hadapan mantan adik mu ini untuk memohon pengampunan? bagaimana jika saya tidak mau? sebab saya lebih memilih memberi anda sebuah hadiah"
dan tubuh Max langsung terhuyung ke belakang akibat tendangan kaki Sacha yang bersarang di pundaknya
"bagaimana rasanya?" tanya Sacha dengan seringainya sembari menginjak perut Max. dendamnya kembali membara mengingat ia harus dibuang oleh keluarganya karna jebakan atas dendam tak bertuan seorang lelaki bodoh itu
Sacha tak tahu, yang jelas tawa itu mengantarkannya pada ingatan memilukan lima tahun lalu
"ternyata istriku sudah sehebat ini melumpuhkan ku" ujar Max lemah yang terbaring di lantai dengan tatapan lurus ke arah netra Sacha yang berdiri menjulang di atasnya
"i..istri?"
__ADS_1
"kita masih suami istri"
dan pernyataan Max itu berhasil membuat dunia Sacha jadi runtuh seketika.
_ _ _ _ _ _ _ _
dengan langkah gontai Sacha memasuki rumah, telinga wanita itu terus berdengung memutar serangkaian kalimat Max mengenai hubungan mereka yang ternyata masih terikat. ia terus memutar otak bagaimana agar ia bisa melepaskan ikatan itu sebelum ajal Max di ambil paksa oleh Darlina beberapa hari lagi.
sebenarnya tak masalah apapun hubungan mereka sebab Sacha memilih tetap hidup sebagai Sacha Ezm Dior. Anita sudah tak ada lagi jadi semua tak ada masalah walau Max tetap mengklaim Anita sebagai istrinya... hanya saja Sacha merasa jijik pada dirinya sendiri yang masih terikat hubungan dengan lelaki itu, ia tak mau hubungan suami istri itu Max bawa sampai ke neraka.
ini hanya perkara rasa jijik atas hubungan sah yang pernah Max beri. Sacha hanya mau bebas dari apapun yang berhubungan dengan Max.
karna itu Sacha sampai mengurung diri dan tak mau bertemu siapa-siapa termasuk sang ayah.
hingga Sacha menemukan ide akan kembali ke Indonesia untuk mengurus surat cerai itu sebelum hari dimana Darlina mengesekusi Max. sekali lagi Sacha hanya tak mau menjadi janda Max yang di tinggal mati. ia lebih memilih mengakhiri selagi lelaki itu masih bisa menghembuskan napas. semua demi menyelamatkan egonya yang merasa rendah diri memiliki hubungan sah dengan seorang pria brengsek yang sebentar lagi jasadnya dipastikan akan tercerai berai di tangan Darlina
keputusannya sudah bulat. ia harus segera kembali ke Indonesia. lalu ia keluar dari kamarnya untuk mencari kedua orang tuanya untuk meminta izin. namun ia malah mendapat kabar mengejutkan bahwa kedua orang tuanya tengah berada di rumah sakit. dengan perasaan khawatir Sacha langsung menyusul ke rumah sakit dengan membawa mobilnya sendiri. lalu setelah sampai Sacha memeriksa alat gps kedua orang tuanya yg selalu terhubung dengannya 24 jam non stop, tungkainya menuntunnya ke arah lorong sesuai titik dimana seharusnya orang tuanya berada. berkat alat canggih itu ia tak perlu repot-repot bertanya lagi pada resepsionis.
"cepat selamatkan putraku!!" adalah kalimat pertama yang langsung mengisi Indra pendengarnya ketika ia berbelok dan berhadapan langsung dengan ruang operasi yang berjarak belasan meter dari tempatnya berdiri. disana ada empat orang, satu pria dengan jas putihnya dan satu lagi pria dengan seragam operasi, dan dua diantaranya adalah dua orangtuanya, Darlina dan Alexandre
__ADS_1
"putra? siapa yang papa maksud putra papa?" tanyanya yang mulai mendekat membuat semua mata tertuju padanya
Bersambung...