DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Epis 38 (Revisi)


__ADS_3

“perhatikan tanganmu!” seruan itu menyentak lamunan Sacha, segera ia menguasai diri dari lamunannya pada papan tembak berbentuk manusia yang baru saja menghadirkan bayangan sosok seorang lelaki kejam di sana


“shoot!


Dor


peluru berhasil mengenai kaki


“shoot!”


Dor


Sesuai perintah, Sacha dapat melepas peluru pada bagian-bagian melumpuhkan musuh membuat Alexandre yang duduk santai di pendopo merasa bangga akan kemampuan tembak sang putri yang tak pernah melesat. Namun dilain sisi pemimpin Vangster itu merasa kecewa karna dirinya bukan menjadi mentor pertama sang putri dalam latihan menebaknya. Berbeda dengan Darlina yang berada di lapangan tengah bertugas menilai langsung kemapuan tembak putrinya hanya mampu menghela napas panjang, antara lega dan tak terima putri tercintanya mampu menunjukan kemampuannya sehingga Darlina tak memiliki alasan untuk menolak lagi keinginan Sacha untuk bergabung dengan dunia mafia mereka.


“oke yang terakhir, memusnahkan anjing liar!” intruksi Darlina dengan sarkas


Fokus Sacha pada papan tembak, mata tajamnya berubah gelap, ia menimang antara dada kiri atau pada dahi antara kedua alis untuk memusnahkan anjing liar dalam artian adalah musuh mereka. Dan sosok seorang lelaki ia imajinasikan sebagai papan tembak. Dengan gerakan cepat, Sacha melepas earphone dan langsung melesatkan tembakan dengan gigi saling beradu


Dor


Tepat mendarat pada jantung

__ADS_1


Dor


Tepat mendarat pada dahi


Dor Dor


Kembali peluruh menembus jantung dan dahi bergantian dengan beberapa kali tembakan hingga seruan dari Darlina menghentikan aksinya


“SUDAH CUKUP, SACHA!”


“ada apa denganmu ini, buang-uang peluru saja”


“kali aja targetnya nggak mati ma, jadinya di tembak berulang” jawab Sacha seadanya degan raut puas.


“kalian sudah percaya kan kalau aku bisa” tanya Sacha dengan senyum kemenangannya


“tapi kamu menggunakan banyak peluru, dan itu melanggar perjanjian uji coba”


“tapikan tembakannya tepat sasaran semua” protes Sacha tak terima dengan alasan yang terdengar begitu mengada-ada dari sang ibu


‘wanita ini pasti sengaja menawarkan diri untuk menjadi penilai ku karna berniat licik untuk mencari kesalahan kecilku’ batin Sacha kini paham maksud Darlina, istri papanya itu keras kepala tak mau melibatkannya dengan dunia mereka

__ADS_1


“mama nggak licik, kamu-nya saja yang menyia-nyiakan kesempatan” bantah Darlina seperti cenayang yang mengetahui isi hati sang putri


“kalau gitu kita ulang lagi”


“enggak” tolak Darlina cepat


‘sial! Gara-gara membayangkan lelaki itu aku sampai menikmati menembaknya sampai mampus’ batin Sacha menggerutu


Prok prok prok


Tepuk tangan dari arah belakang mengalihkan atensi kedua ibu dan anak itu, Alexandre berjalan mendekat


“pertemukan papa dengan pelatih mu itu, papa harus memberinya hadiah karna telah berhasil membuat putriku menjadi petarung yang luar biasa” puji Alexandre mengabaikan tatapan tajam sang istri. Alexandre tak mau mengecewakan usaha putrinya


“papa!” geram Darlina tertahan


“iya sayang, kamu sudah lihat kan kemampuan luar biasa putri kita, tes bela diri tadi dia mampu mengalahkan beberapa ajudan kita loh, sekarang tes menembak semua tepat sasaran. Putri kita sudah dewasa, sayang” ujar Alexandre mencoba tidak menatap mata sang istri


“papa bangga dengan kemampuan kamu sayang” Alexandre meraih Sacha dalam dekapannya, lalu sorot matanya mengarah pada sang istri dan memberikan senyum menenangkan dengan gerakan mata memberitahu semua akan baik-baik saja. Darlina menghela napas dan membalas senyum suaminya. Dalam hati berdoa yang terbaik bagi jalan putrinya. Sedang Sacha dalam pelukan papanya tersenyum bahagia


‘aku tidak pernah setertarik ini dengan dunia mafia sebelum ingatan mengenai lelaki kejam itu mengusik kenyataan siapa diriku yang sebenarnya’

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2