
Tak ingin terintimidasi dengan lagak Max, Sacha akhirnya kembali ke pendopo dan kini duduk berhadapan dengan lelaki itu. ia menyembunyikan tangannya yang mengepal kuat di bawah meja duduk. Berhadapan dengan Max dengan jarak kurang dari dua meter membuatnya kembali merasakan sensasi penyiksaan yang pernah ia alami atas perlakukan keji lelaki itu saat berstatus sebagai suaminya tidak, maksudnya saat ia masih menjadi sandera suami Anne itu.
“jadi, apa yang bisa kami bantu untuk tuan yang telah meluangkan waktu berkunjung ke perkebunan kami?” Tanya Sacha berusaha menekan rasa muak
“apa kita pernah bertemu sebelumnya?” bukannya menjawab, Max malah melempar tanya yang berhasil membuat Sacha menegang
“maaf atas kejadian di club” ujar Sacha setelah menormalkan ekspresinya
“bukan waktu itu yang saya maksud. sebelum di pesta jamuan dan di club, apa kita pernah kenal sebelumnya?”ulang Max memperjelas terkesan menuntut. Meski ia sendiri tak mengingat ada momen pernah bertemu wanita ini tapi hatinya mengenali wanita ini seolah mereka pernah dekat.
__ADS_1
“saya tidak pernah mengenal anda, tuan” jawab Sacha tak menjawab rasa penasaran Max.
Pesona apa yang dimiliki wanita ini sehingga membuat Max penasaran? Bahkan saat pertama kali melihat Sacha mengandeng lengan Alexandre di pesta jamuan membuat Max ingin bertemu dengan wanita ini karna sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. padahal selama lima tahun ini Max tak pernah se-tertarik ini untuk bertemu dengan seorang wanita.
‘apa yang menarik dari Wanita ini, Kenapa aku begitu penasaran dengan sikap apatisnya padaku?’ Batin Max sembari menatap lekat sosok wanita di hadapannya ‘Tidak terlalu cantik tapi matanya bagus’
“apa tuan kemari hanya untuk menanyakan pertemuan tak penting anda dan saya di club atau tuan kemari karna memiliki uang untuk membeli hasil panen perkebunan kami?” Tanya Sacha menginterupsi lamunan Max. aura wanita itu tak lagi ia tutupi, begitu masam dan muak
“bukan hasil panen yang saya mau, tapi perkebunan ini” balas Max sombong
__ADS_1
“saya tidak tahu seberapa banyak uang anda, tapi anda pernah dengar pepatah ini, uang tak bisa membeli segalanya, uang pun tak bisa membuat seseorang bisa melihat kebenaran dengan baik” ujar Sacha berhasil membekukan tubuh Max.
kalimat wanita itu terdengar familiar, mengantarkan Max pada kenangan lima tahun lalu saat ia mengobati luka seorang gadis akibat ulah tangannya sendiri yang disengaja. Itu adalah kalimat yang hampir sama dengan penggunaan dua bahasa berbeda.
“anda harusnya mendalami fakta sebelum anda menyesal karna menganggap sepele segala sesuatunya” peringat Sacha dengan seringainya.
Apa kata lelaki barusan? Mau membeli perkebunan ini? Apa max datang untuk menyerahkan nyawanya? Sacha tak tahu seberapa banyak uang yang Max punya tapi mengenai mimpi memiliki perkebunan, Sacha yakin, Max hanya akan terbangun dengan jantung sudah berada di tubuh orang lain.
Tapi jika benar memang Max datang untuk menyerahkan nyawanya, Sacha siap maju sebagai pengeksekusi pertama. Sejujurnya pun saat ini tangan Sacha sudah sangat gatal untuk mencekik leher lelaki itu hingga patah namun ia masih menahannya karna sesuatu lain hal.
__ADS_1
Sacha beranjak pergi setelah memberi Max tatapan tak terbaca sementara Max masih membeku. Lagi-lagi perkataan beserta nada suara yang Sacha lontarkan hampir sama persis dengan ucapan yang Anita hunuskan padanya sewaktu di rumah sakit, sehari sebelum Anita kabur hingga berakhir menjadi korban ledakan bom lima tahun lalu
Bersambunggg..