DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Dibalik Dendam Max


__ADS_3

"Kamu itu harus kuat, panjang umur supaya kamu akan merasakan penyesalan telah lahir dari benih lelaki jahanam itu" monolog Max sembari mengoleskan anti septik dengan pelan disana


"Meski gue tekan luka ini, kamu tidak mungkin rasa kan? Jadi yaudahlah dari pada buang-buang tenaga mending begini saja" kembali Max bermonolog ketika menyadari apa yang dilakukannya terlalu berhati-hati seolah Anita akan berteriak kesakitan jika ia tak pelan-pelan


"Aku tahu kamu membenciku, tapi setidaknya kamu juga harus membenci Pratama dan istrinya itu" gumam Max sembari membalut perban luka Anita


Selesai mengobati luka di betis Anita, Max beralih memeriksa kepala gadis muda itu. sekelebat kejadian tadi pagi terlintas membuatnya ingin memastikan apakah benar perlakuannya tadi pagi meninggalkan bekas


"Ternyata disini robek juga" ujarnya dengan ringisan ketika menemukan luka di kep*la Anita. selanjutnya tangan Max dengan lincah mengobati luka itu


"Aku kasihan tapi juga aku merasa puas ketika melihat kamu menangis dan memohon, sebenarnya aku ingin Pratama yang merasakan ini semua, hanya saja dia itu terlalu angkuh. setidaknya anak yang dulunya disayang si pria bajingan itu memohon ampun dan menangis di depan mataku, dan aku berharap suatu saat dia akan berada di posisimu, memohon ampun dan menangis di hadapanku dan ibuku" Max berucap sembari menatap dingin wajah damai Anita. lalu lelaki itu berangsur mundur untuk bersandar di tembok samping kasur Anita dengan tatapan yang tak lepas dari wajah lelap nan pucat itu


"Aku membencimu karna kamu adalah keturunan lelaki bajingan itu, aku membencimu karna kamu adalah hasil dari penderitaan ibuku, aku membencimu meskipun kamu adalah adikku, dan aku membencimu karna semua fakta itu" Ujar Max


Flashback on


*di Mansion Nasya (ibu Max)


"Max, ibu sudah tak sanggup lagi rasanya, lebih baik ibu mati saja dari pada hanya bisa diam di kursi roda ini" selepas Max membantu sang ibu duduk di kursi rodanya ia dibuat terkejut dengan perkataan wanita baya yang telah melahirkannya 25 tahun silam itu


"nggak usah ngawur bu" jawab Max lalu mendorong kursi roda ibunya keluar dari kamar


"ibu beneran capek Max" keluh Nasya lalu menghela napas panjang


"apa ibu mau menyerah sampai disini? kemana semangat ibu yang akan berjuang sampai akhir demi melihat penyesalan lelaki bangs*t itu"


"gadis itu? sampai mana kamu memperlakukannya?" tanya Nasya


"sesuai keinginan ibu, dia setiap hari menderita bahkan mulai sakit-sakitan"


"jangan terlalu keras Max, bagaimanapun dia tetap adik kamu"

__ADS_1


"...." Max hanya terdiam mendengar perkataan Nasya, entah itu nasihat atau sarkas?


tapi sepertinya pilihan kedua adalah maksud dari Nasya, terbukti dari ucapan sang ibu setelahnya


"jika bisa kamu buat dia patah, bukan hanya raga tapi juga hatinya. dia memang adikmu, tapi nasib kalian berbeda. dia tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah dari Pratama sedangkan kamu dan ibu harus merangkak dari bawah. balaskan dendam kita pada anak itu Max. buat keturunan Pratama itu gila, buat dia merasakan penderitaan kita dulu" gebu Nasya berujar, kilatan mata tuanya memancarkan sakit hati dan dendam begitu kentara


Max berjongkok di hadapan sang ibu setelah mereka tiba di taman Mansion yang penuh pepohonan rindang. Max menggenggam tangan sang ibu lalu mengelusnya lembut, Max memberikan senyum terbaiknya untuk wanita terbaiknya


"ibu tenang saja. Max tengah membuatnya terombang ambing antara memilih hidup atau mati, saat sekarat Max akan obati karna esok masih ada penyiksaan lainnya. Max juga udah hancurin hati dan harapannya dengan membawa Anne ke rumah. Max pastikan dia akan gila seperti yang ibu inginkan" beritahu Max untuk menenangkan sang ibu


Flashback off


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


"jangan... jangan... kumohon jangan lakukan"


"maaf, tolong berhenti, aku janji tidak mengulangi lagi"


"shs sakit"


Max yang menyander di dinding kamar dengan kepala menunduk tersentak mendengar erangan seseorang di sebelahnya. matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu dalam kamar. Max merotasikan bola matanya guna mengenali ruang kecil itu, jelas ini bukan kamarnya. lalu netranya menangkap sosok tubuh... oh ****! ia ketiduran di kamar Anita dengan posisi duduk.


gerakan Anita mengambil fokus Max, kepala wanita muda itu bergerak ke kiri dan ke kanan. gumaman kecil... bukan, lebih tepatnya rintihan kecil terlontar dari bibir pucat itu. wajah tirus itu bersimbah keringat dan kedua tangannya menggenggam erat ujung baju yang dipakai


"ampun Max, aku mohon ampun"


Max lalu memajukan tubuhnya hendak memeriksa apa Anita sudah sadar dari pingsannya dan menjadi gila? toh ngapain minta ampun segala sedang Max tak melakukan apa-apa. pikir Max


"ah mengigau" gumam Max melihat kedua kelopak mata berbulu lentik itu masih rapat


"kasihan banget sampai kebawa mimpi ketakutannya" ucap Max datar, tak ada raut kekhawatiran maupun seringai puas

__ADS_1


"woi bangun, jangan sampai kencing diatas kasur ya, aku nggak akan ganti baru" Max berucap sembari menggoyangkan lengan Anita


bukannya Bangun gerakan kepala Anita makin kencang diikuti napasnya yang memburu, lalu pekikan Anita selanjutnya membuat Max terjengkang ke belakang


"MAX AMPUN!!" Anita sontak terduduk dengan napas terengah-engah, matanya menatap liar sekeliling. inilah alasannya kenapa Anita tak pernah mematikan lampu kamarnya, karna ketika bermimpi buruk (yang hampir setiap malam dialaminya selama pindah kamar) tak begitu mencekam dengan keadaan kamar yang gelap.


dan begitu bersirobok dengan netra Max, wajah Anita langsung pias. dan dengan gerakan cepat wanita muda itu beringsut ke sudut kasur untuk memberi jarak dari jangkauan laki-laki berwajah manusia namun kelakuan seperti binatang


"kenapa menatapku seperti itu?" tanya Max melihat raut ketakutan di netra sang wanita


sebuah tanya yang sama sekali tak perlu Anita jawab sebab siapapun tahu bagaimana perlakuan Max pada Anita hingga menimbulkan rasa takut bahkan dalam tidur perempuan muda itu sekalipun


"ck, kamu seperti melihat singa kelaparan saja" decak Max melihat Anita memilih kian menyudut alih-alih menjawabnya. bahkan kepala wanita itu disurukan di sela lututnya dengan tubuh bergetar


"aku baru saja mengobati luka kamu loh" beritahu Max tanpa ditanya. dan ya, tidak di respon oleh Anita


Berbeda dengan Max yang mungkin dini hari ini kembali pada sifatnya yang lain terbukti dari bahasanya menggunkan aku-kamu, Anita malah tetap ketakutan. ia tak lagi mempercayai jika Max akan berubah baik, karna sudah beberapa kali harapannya di hancurkan oleh lelaki yang sialnya berstatus sebagai suaminya itu.


Max hanya akan mengujinya sebelum kembali memberi pengajaran yang lebih sadis. pikir Anita


bahkan seberapa sering pun Max mengobati lukanya dikala dirinya tak sadarkan diri tidak membuat Anita luluh, cukup kemarin-kemarin ia berharap dan sekarang tidak lagi, toh Anita yakin entah sedetik, semenit, lima menit kemudian Max akan memberi luka baru di tubuhnya.


"ck, capek banget bicara sama orang yang pura-pura tuli, atau lo benaran mau gue buat tuli?" tanya Max dengan nada kesalnya


"ti..tidak, ampun Max. da.. dan terimakasih telah berbaik hati sudi mengobati lukaku" ujar Anita dengan suara bergetar


"perempuan lemah!" cemooh Max bersamaan dengan lemparan bantal yang mengenai kepala Anita, setelahnya Max beranjak keluar dari kamar pengap itu. meninggalkan Anita yang mulai menangis, ada rasa putus asa pada tangis perempuan muda itu


apakah lebih baik ia mati saja? tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya, Anita masih belum mendapat maaf dari mereka. atau kah ia kabur saja dari rumah ini? tapi bukankah hidup di luar sana sama saja ia melempar dirinya pada jurang derita lebih sadis lagi? bukankah kehidupan di luar lebih kejam? toh ia tak memiliki keahlian apa-apa untuk bisa bertahan di luar sana. cepat atau lambat ia akan mati mengenaskan di luar sana, bukan? ataukah ia pasrah saja menerima hidup di bawah atap bangunan mewah dengan bayaran mental dan fisiknya yang siap diinjak kapan saja? dan ujung-ujungnya membawanya pada akhir yang mengenaskan...


Bersambungggg

__ADS_1


Aku kenapa punya halu kok bisa sadis banget ya 😭😭😭😭


kalau kalian jadi Anita pilih pilihan yang mana?


__ADS_2