DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Takdir macam apa ini?


__ADS_3

setiap orang memiliki luka di dalam hidupnya. ada yang sembuh seiring berjalannya waktu. ada juga luka yang tetap menganga hingga mendarah daging. semua itu tergantung dari penyebab luka itu sendiri.


lalu...


luka yang ditorehkan oleh pria yang pernah dipercaya sebagai malaikat penolong saat keluarga sudah tak peduli, bisa disembuhkan?


tidak.


untuk hati seorang Sacha. sebab luka itu, masih terekam nyata di dalam memorinya... ia masih ingat bagaimana tak berperasaan-nya seorang Max yang sengaja menjebak Anita muda untuk pelampiasan dendam salah alamat dan berakhir menjadi seonggok sampah menjijikan di rumah Max. dan luka yang ia dapatkan kala itu nyatanya tak lekang oleh waktu


"dia... dia putra kalian yang hilang?"


"iya sayang. dia Alle, putra kami, kakak kandung kamu" jawab Darlina dengan anggukan disertai air mata yang kembali mengalir. terharu sekaligus didera rasa sesak atas apa yang Max alami karna perbuatan mereka


kakak kandung.


lagi?


lagi-lagi ia disangkut pautkan dengan lelaki biadab itu dengan status saudara sedarah? astaga, kenapa takdir begitu bercanda pada jalan hidupnya.


Sacha melepas genggaman tangan Darlina, perlahan gadis itu mundur, lalu berbalik pergi dengan raut wajah tak terbaca. Sacha melewati tubuh Alexandre bahkan mengabaikan tangan Alexandre yang terulur kepadanya


Trauma. membuat radar peringatan bahaya langsung bereaksi memerintahkan Sacha untuk menjauh. sebuah refleks alami untuk menyelamatkannya dari ingatan kesakitan masa lalu


takdir macam apa ini?


perempuan dengan surai hitam sebahu itu terus menuntun tungkainya menjauh, menulikan indra pendengar akan panggilan kedua orang tuanya.


"sudah ma, kasih dia waktu. dia pasti merasa bersalah juga sama seperti kita" ujar Alexandre sembari merangkul pundak sang istri


_ _ _ _ _ _ _ _

__ADS_1


Sacha melirik ponselnya yang berdering, bersamaan decakan bibirnya ponsel itu ia balik dengan perasaan malas. jika biasanya ia akan bersemangat mengangkat telpon dari ayah dan ibunya, berbeda satu minggu belakangan ini. panggilan yang entah sudah berapa ratus itu dari Alexandre dan Darlina yang silih berganti menghubunginya sungguh membuatnya muak.


ia tak butuh kabar apapun... mengenai lelaki si*lan itu, Si Max brengs*k!


"angkat sih, Sayang, mereka pasti khawatir sama kamu"


perkataan Ezar menyentak atensi Sacha, wanita itu menoleh ke arah kekasihnya dengan tatapan tak terbaca


"mereka khawatir sama kamu. kasihan papa dan mamamu"


perkataan Ezar mengusik ketenangan Sacha. pastilah Alexandre dan Darlina mengkhawatirkannya. kedua orang tua itu mengkhawatirkan putri mereka. tapi dia kan bukan...


"aku balik"


"Cha?" Ezar sontak berdiri lalu meraih pergelangan tangan sang kekasih yang sudah berdiri lebih dulu


"aku mau balik" ujar Sacha dengan ekspresi datarnya sembari melepaskan pegangan Ezar


"kamu marah?"


"aku antar ya?"


"bukannya kamu ada meeting sebentar lagi?"


"iya sih" jawab Ezar dengan senyum kikuknya "tapi kamu beneran mau pulang ke rumah orang tuamu kan?" lanjut Ezar kentara dengan nada curiganya


"ck. iya"


"pintar" ujar Ezar sembari mengacak gemas rambut sang kekasih "hati-hati. kabari aku kalau udah sampai rumah" imbuh Ezar setelah mendaratkan kecupan di dahi pacar cantiknya


Sacha hanya mengangguk manja lalu berlalu keluar dari ruangan kerja Ezar.

__ADS_1


setelah berhasil melawan rasa sesak juga rasa keengganannya, kini Sacha berhasil tiba di pekarangan mansion Alexander. bukannya langsung turun, gadis itu malah menatap bangunan mewah itu dengan tatapan nanar


jika tidak mengingat bagaimana perlakuan kedua orang tuanya yang tanpa celah dalam memperlakukannya selama lima tahun ini, Sacha pastikan tidak akan menginjak lagi rumah megah dihadapannya itu. Alexander dan Darlina begitu sempurna sebagai orang tua. tapi itu berlaku karna mereka pikir Sacha adalah putri kandung mereka bukan? bagaimana jika mereka tahu jika dirinya bukan Sacha asli? apakah ia akan ditendang pergi? masih untung jika hanya ditendang, bagaimana jika ia diumpankan menjadi santapan tangan-tangan Vangster yang mahir bersilat pisau bedah?


Sacha bergidik ngeri dibuatnya


tok tok tok


"astagaa!!"


Sacha terpekik ketika kaca mobilnya di ketuk dari luar. lalu dengusan kesal ia hembuskan melihat dua orang lelaki bertubuh besar yang selama seminggu ini juga menguntitnya.


dua orang yang menjadi alasan kenapa Sacha tak berani kabur ke negara lain meski ia sangat ingin untuk menghilangkan jejaknya agar terbebas dari keluarga Dior.


Bartoli dan Bene yang begitu setia pada Alexander dan Darlina bahkan mengintainya 24 jam/7 hari. nyatanya meski sangat ingin menghilang tapi ia tak mau menghilang untuk selamanya di muka bumi ini. ia hanya ingin kabur dan bebas dari keluarga Dior tapi semua itu sungguh mustahil baginya yang terlanjur terjebak dengan identitas seorang Sacha Ezm Dior


"selamat datang..."


"lihat kantung mata kalian, benar-benar mengerikan. pergilah. saya akan masuk sendiri" potong Sacha lalu berlalu dari hadapan kedua ajudan khususnya.


"oh hai" sapa Sacha dengan ekspresi riangnya, lebih tepatnya pura-pura terlihat ceria kala ia disambut tatapan tajam dua orang paru baya setelah ia melewati bingkai pintu utama


"papa tidak akan menanyakan kenapa kamu tidak pernah menjenguk kakak kamu selama di rumah sakit. tapi bisa kamu jelasin kenapa sampai kamu bahkan tidak balik ke rumah selama ini?"


"aku ada urusan di luar"


"urusan? pacaran yang kamu maksud?"


"pa, papa tahu apa yang aku lakuin di luar, bukan?" Sacha sungguh kesal dengan tuduhan papanya itu. pacaran apanya? selama seminggu ini baru dua kali ia bertemu Ezar itupun tak lama. selama ini ia menenangkan diri di pulau.bukankah Bartoli dan Bene setiap menit melaporkan kegiatannya selama ini pada pasangan Dior? lalu kenapa papanya bertanya demikian? cari gara-gara kah dengannya? atau mereka sudah tahu kalau ia bukan...


oh sial! kenapa ia tak berpikiran kalau lelaki brengsek si Max sialan itu bisa membongkar jati dirinya

__ADS_1


"kamu..."


Bersambung...


__ADS_2