DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Sandiwara


__ADS_3

Sacha baru saja pulang dari luar ketika menemukan Max dan dokternya di ruang tengah. mendapati kedua pasangan Dior tak ikut mendampingi putra mereka seperti biasa, Sacha mengabaikan dan melanjutkan langkahnya tanpa repot-repot menyapa, ia tak perlu berdrama.


"nona, Mr. Dior meminta anda menemani tuan muda..."


langkah Sacha terhenti, ia menoleh melalui pundaknya dengan tatapan tak bersahabat membuat dokter kepercayaan keluarga Dior menelan kalimatnya


"papa sama mama saya kemana?" tanyanya kemudian


"Mr. dan Mrs Dior beberapa saat lalu keluar karna hal urgent" jawaban dokter membuat senyuman miris tercetak di bibir Sacha yang ditujukan pada Max


"kamu tidak begitu penting bagi mereka sekarang. mungkin mereka lelah sama keadaanmu yang tak berguna itu" ucapnya enteng tak peduli bagaimana perasaan Max. Sacha tak perlu takut dilapor oleh dokter pada pasangan Dior sebab ia menggunakan bahasa Indonesia yang hanya ia dan Max yang tahu artinya


"nona, maafkan saya, tapi saya harus pergi sekarang karna ada pasien yang tengah kritis di rumah sakit sekarang. saya titip tuan muda Alex" bersamaan kalimat intrupsi yang terlontar selesai, dokter segera beranjak setelah mencantol tas peralatannya yang sepertinya sudah dibereskan dari tadi


protes yang sudah berada di ujung lidah kembali tertelan karna percuma meneriakkan ketidaksetujuannya pada keputusan dokter itu.


"bik, tolong antar dia ke kamarnya, saya lelah" ujar Sacha akhirnya pada asisten rumah tangga yang muncul dengan nampan berisi potongan buah


Lagi dan lagi hanya kekecewaan yang Max dapatkan pada harapan akan kepedulian wanita itu padanya. sudah 2 bulan lamanya mereka seatap dengan keadaannya yang memperihatinkan namun tak sekalipun Max dapatkan wanita itu tulus perhatian padanya selain karna terpaksa.

__ADS_1


rasa sakit yang Max berikan di masalalu pada Anita remaja kini menimbulkan rasa benci yang sangat mendalam pada gadis itu. jangankan prihatin pada keadaannya, gadis itu malah terlihat jijik setiap mereka berdekatan. Max tahu gadis itu tidak jijik karna kelumpuhannya tapi pada dirinya yang memang sangat memalukan dan tak termaafkan.


siapa yang tidak jijik jika dulu dia dengan brengseknya bercinta dengan Anne di sofa dan mempertontonkan pada gadis remaja yang baru saja ia tampar dan berakhir terduduk menyedihkan di lantai, dan Max malah gila-gilaan mendesah bersama Anne menyahuti suara tangisan Anita remaja.


mengingat itu Max bahkan jijik dengan dirinya sendiri.


"Anita..."


langkah kaki Sacha yang sudah menginjak anak tangga pertama terhenti mendadak


"saya benar-benar menyesal atas kelakuan saya di masalalu. saya tulus meminta maaf. tolong ampuni saya" kalimat panjang yang begitu lancar membuat Sacha langsung berbalik menghadap si pemilik suara


ucapan Sacha terpotong kala Max menjatuhkan dirinya dari kursi roda seolah bersimpuh di sana "saya sudah mendapatkan karma seperti yang kamu bilang jauh dari sebelum kita bertemu pertama kali disini. tolong beri saya ampun" mohon Max dengan mata berkaca-kaca tak seperti Sacha yang semakin menyorot tajam lelaki itu


"tapi kamu tidak sehancur aku. lihat, kamu malah bertemu dengan keluarga kandungmu setelah semua ini. sedangkan saya? saya sudah dibuang bahkan kedua orangtuaku tak peduli saya mati atau hidup saat ini. semua karna perbuatan brengsek kamu!!" jerit Sacha sembari menuding Max


"apa yang harus saya lakuin supaya kamu mau memaafkan saya?" tanya Max sungguh-sungguh. ia beneran akan bertanggung jawab atas semua kesalahannya pada gadis itu


"mati. matilah dan menghilang untuk selamanya" desis Sacha lalu segera membalikan badannya, berlari menaiki tangga dengan dada yang bergemuruh.

__ADS_1


jika saja Max tak sampai menghancurkan mentalnya di masalalu Sacha mungkin bisa menjalani hidupnya tanpa trauma berkepanjangan.


Max tersentak kala mendengar suara pintu kamar terbanting keras. ia menatap nanar ke arah lantai 2


"maaf..." lirihnya pilu


tak berselang lama ia tertawa miris sembari menoleh ke arah dua orang yang baru saja keluar dari salah satu ruang


"dia menginginkan ku mati" beritahu Max dengan nada datarnya membuat Darlina segera menghampiri dan memeluk putranya. kembali ia menggunakan bahasa kebangsaan Spanyol ketika berbicara dengan kedua orang tuanya


"dia membenciku begitu dalam karna perbuatan ku sendiri di masalalu. aku siap melakukan apapun asalkan dia mau memaafkan ku" Max kembali bersuara tanpa membalas pelukan wanita baya yang belakangan ia tahu sebagai ibu kandungnya. seorang wanita yang begitu baik dan begitu lembut memperlakukannya tak seperti Maya yang ikut andil dalam balas dendam Max dan berakhir penuh penyesalan.


Darlina sosok ibu yang Max dambakan terlepas jika wanita baya itu berada dalam mode nyonya Vangster yang lihai menggunakan pisau apabila menyangkut musuh


"maafin mama sayang, mama nggak bisa bantu kamu lebih dari ini" ujar Darlina dengan linangan air mata


sedang di belakang Darlina, Alexandre juga tak bisa melakukan banyak hal. lebih tepatnya lelaki baya yang terkenal punya seribu cara dalam menaklukan musuh kini hanya bisa berdiri sebagai orang tua yang seolah tak tahu apa-apa mengenai permasalahan rumit putra dan putrinya yang sebulan ini ia tahu ternyata bukan Sacha, putri kandungnya itu sudah meninggal dan ia malah menyelamatkan anak gadis orang merangkap sebagai istri dari putranya yang hilang. sungguh takdir begitu tak terduga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2