DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Epis 37 (Revisi)


__ADS_3

gadis cantik itu melajukan mobilnya melewati sebuah gerbang tinggi menuju garasi mobil, lalu setelahnya berjalan pongah memasuki sebuah mansion sembari bersiul, saat membuka pintu ia sigap memiringkan badannya, reflek sigap itu membuat benda yang meluncur melesat melewati tubuhnya


Sacha berdecak menatap kesal ke arah si pelempar lalu beralih melihat sebuh bola kasti yang sudah menggelinding jauh ke halaman


"papa sebenarnya sayang sama aku nggak sih? kalau kepala aku kena bola terus aku pingsan, koma lagi, nggak bangun-bangun, terus harus mulai belajar ini itu seperti dulu gimana?" seloroh Sacha dengan wajah ditekuk


"dih, dramatis sekali" ujar pria paruh baya yang masih terlihat segar bugar dengan pakaian santainya, lalu pria itu berbalik dan melangkah yang kemudian diikuti Sacha


"lebih baik papa yang kasih kamu peringatan dari pada orang lain. papa tahu batasan kemampuan putri papa, tapi orang di luar sana?" omel Alexandre saat lelaki itu sudah mendudukan bokongnya di sofa ruang keluarga, matanya terhunus menantang sang putri


"pa, ayolah, buktinya tadi aku kembali berhasil melumpuhkan musuh kita, kan?" Sacha berdecak sebal, membalas tatapan jengah lelaki kecintaan sang mama


"Sacha, kamu itu perempuan, ini sangat berba..."


"mama juga perempuan, tapi baik-baik aja tuh" potongnya menantang lelaki keturunan Dior itu


"mama dari muda sudah terlatih dan fisiknya kuat! kamu?... ayolah sayang, pekerjaan papa dan mama tak seharusnya kamu geluti juga, kamu kuliah yang benar aja"


"papa nggak asik, ah”


"Sacha..."

__ADS_1


"Sacha udah besar, pa, udah sehat, kuat fisik, jiwa raga, bukan lagi anak kecil yang sakit-sakitan" Sela gadis itu dengan nada berlebihan


"papa takut kamu terluka sayang, pekerjaan ini tidak aman"


"kalau begitu ajari Sacha memegang pistol" pintanya dengan nada menantang


"kamu udah bisa. kamu pikir papa nggak tahu kalau kamu sering bolos kuliah gara-gara kursus menembak dan bela diri" geram Alexandre menatap kecewa pada putrinya


mata bulat itu mengerjab dengan mulut terbuka, selanjutnya menampilkan cengiran bersalah, tak menyangka kelakuannya ketahuan sang papa. Ah pasti geng Vangster nih biang keladinya. Tuduhnya dalam hati mengingat ratusan anak didik Vangster yang menyebar di seluruh pelosok Spanyol, jadi tak heran pergerakan sekecil apapun yang ia lakukan pasti akan sampai di telinga sang bos Vangster


Sacha mendekat dan ikut duduk di samping papanya "yaudah, karna papa udah tahu, sekarang papa ijinkan Sacha menggunakan Pistol, ya" pinta gadis itu sembari bergelayut manja di lengan Alexandre, meminta hal berbahaya lainnya alih-alih ketakutan karna ketahuan apa yang ia perbuat di luar sana


Hal itulah yang membuatnya memberontak dan berlatih diam-diam dibelakang kedua orang tuanya.


Melihat papanya tampak menyelanya, Sacha segera bersuara dengan niat negoisasi "oke! aku janji tidak akan bolos lagi dan akan melanjutkan studi lagi, tapi aku juga..."


"Sacha Ezm Dior" seru seorang wanita yang baru saja memasuki rumah dengan pakaian ala ibu-ibu petani kota. Helaan napas panjang langsung dipraktekan Sacha sembari menegakan tubuhnya meski tak melepas rangkulan tangannya di lengan Alexandre


"tidak ada tapi-tapian. Hanya fokus kuliah. mama dan papa hanya ingin kamu tidak terlibat dengan pekerjaan berbahaya" ujar wanita cantik yang di kenal dengan nama Darlina Dior, dia adalah istri dari Alexandre Dior, mamanya Sacha, nada bicara wanita dewasa itu tegas membuat Sacha tak berkutik


“yaudah, aku nurut kata mama” seru Sacha lalu beranjak pergi, ia kesal karna tak juga dibiarkan terjun dengan dunia rahasia orang tuanya.

__ADS_1


Kenapa rahasia? Karna pasangan marga Dior itu begitu pintar menyembunyikan identitas mereka pada masyarakat, hanya anggota Vangster lah yang mengetahui siapa sosok di balik topeng wajah mereka yang berlakon sebagai petani sukses di Palma, salah satu ibu kota di kepulauan Balears, Spanyol


Melihat kepergian sang putri Darlina mengulum bibir gemas “dia kenapa sih selalu pergi setiap mama belum selesai memberi masukan” keluh Darlina


“itu karna dia sadar kalau berhadapan dengan mama, dia selalu berakhir kalah” balas Alexandre dengan nada jenaka sembari menatap punggung Sacha yang mulai menjauh dan hilang di balik kamar sang putri yang ada di lantai dua


Jangankan Sacha, Alexandre saja akan kalah atau akan suka rela mengalah pada apapun keputusan Darlina. Bagi Alexandre dan Sacha, Darlina adalah wanita terbaik yang tidak akan bisa mereka kecewakan. Alexandre memang Bos Vangster tapi jika di rumah Darlina adalah bos paling berkuasa yang wajib bagi Alexandre dan Sacha hormati.


“papa aja yang nggak bisa tegas sama dia. Pokoknya mama akan maju paling depan untuk menantang keinginannya itu. Dia adalah putri kita satu-satunya, harta paling berharga yang kita punya bahkan dibandingkan apapun d dunia ini, bagaimana bisa kita menyetujui Sacha masuk di dunia gelap yang penuh bahaya? Tidak, tidak, sampai kapan pun mama tidak akan setuju” ujar darlina menggebu.


"papa jangan luluh ya sama anak itu. ingat pa, fisik dia tidak kuat, sudah cukup lima tahun lalu mama hampir mati ketakutan melihat kondisinya, untung saja dia bisa bertahan dan kembali ke sisi kita" lanjut Darlina dengan mata yang sudah berkaca-kaca, setiap mengingat dimana sang putri tercinta terbaring lemah di rumah sakit dan mengalami koma selama dua tahun membuat hatinya selalu merasa sesak


kehilangan putra pertama mereka saja masih sangat membekas hingga sekarang padahal itu sudah 20 tahun lebih berlalu. Darlina tidak akan sanggup melanjutkan hidup jika harus kehilangan putrinya juga


"tapi ma, selama tiga tahun terakhir sakitnya tidak pernah kambuh lagi, kan? putri kecil kita itu udah sehat" ujar Alexandre mengingatkan perkembangan luar biasa sang putri, sebab sejak lahir baru kali ini Sacha bertahan selama ini dan tak pernah lagi pingsan tanpa sebab seperti yang anak itu alami sewaktu kecil hingga lima tahun lalu "kalau memang dia bersikeras, papa akan mewujudkan keinginannya, lagian dia sudah beberapa kali membantu papa melumpuhkan musuh" lanjut Alexandre sembari mengelus tangan sang istri


"kita latih saja dia perlahan ya, bagaimanapun juga dia adalah pewaris kita satu-satunya” bujuk Alexandre, mencoba peruntungan membantu sang putri mendapatkan izin dari sang istri


“kita tidak akan mengulangi kesalahan kita lima tahun lalu kan, ma? apalagi dia udah semakin dewasa, papa takutnya dia lebih nekad dari lima tahun lalu" lanjut Alexandre mengingatkan kenangan pilu dimana sang putri nekat kabur dari mereka hingga terjadi musibah yang hampir melenyapkan nyawa putrinya


Bersambungg…

__ADS_1


__ADS_2