DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
kecurigaan Darlina


__ADS_3

Alexandre menyusuri lorong dengan langkah lebar menuju sebuah ruangan yang telah diberitahu oleh asisten sang Istri.


tadi saat ia tengah membujuk sang putri untuk keluar kamar untuk memberitahu bahwa telah berhasil melumpuhkan Max, bos Vangster itu mendapat kabar melalui sambungan telepon bahwa Darlina sedang di rumah sakit.


"jika tahu begini sudah aku habisi nyawanya sejak awal"


sepanjang perjalanan dari mansion ke rumah sakit, mulut lelaki baya itu tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah terhadap Max.


karna Max, putrinya pulang dengan keadaan berantakan dan berakhir mengurung diri. dan sekarang, istrinya yang sekarat di rumah sakit setelah menemui Max.


sebenarnya berapa banyak nyawa sih yang Max punya? bukankah tadi Alexandre sudah sengaja mematahkan kedua kaki lelaki itu? lalu bagaimana bisa dengan keadaan kaki lumpuh dengan tubuh babak belur masih bisa menyerang Darlina? pikir Alexandre bertanya-tanya


"sialan! berani sekali dia mengelabuhi diriku" monolog Alexandre berang. Alexandre sekarang mengerti kenapa Max menerima amukannya tanpa balasan sedikit pun. semua agar Alexandre segera menyudahi menyiksanya.


"sayang!" panggil Alexandre sembari berlari ketika netranya menangkap sosok wanita kecintaannya tengah terduduk lesu di depan sebuah ruangan... UGD


"honey" Darlina beranjak dan langsung menghambur ke pelukan suaminya ketika Alexandre sudah di depannya. wanita itu menangis di pelukan Alexandre


"oh sayangku, maaf kan aku yang lalai menjagamu" Alexandre sungguh merasa bersalah pada sang istri


"dia..dia sekarat" gumam Darlina tercekat


"mana yang sakit?" Alexandre mengurai pelukan, ia tidak fokus dengan ucapan sang istri. lelaki itu memindai tubuh Darlina.

__ADS_1


"sayang, kamu berdarah?" tanya Alexandre panik melihat beberapa noda darah di pakaian Darlina yang tampak mengering. pasti lukanya parah karna sang istri sampai menangis. seingatnya Darlina sosok perempuan yang jarang mengeluarkan air mata semenjak kehilangan putra mereka 28 tahun lalu, terakhir kali istrinya menangis saat Sacha masih terbaring koma di rumah sakit.


"bukan aku. dia.. dia sekarat karna kita" Sedari tadi air mata wanita kecintaan Alexandre itu terus mengalir


"dia? siapa maksudmu? aku tidak peduli siapapun itu. kamu harus mendapatkan perawatan"


"aku tidak apa-apa"


"terus kenapa kamu menangis?"


belum sempat Darlina menjawab, pintu ruang operasi terbuka, segera wanita baya itu menghadap dokter dan mengabaikan suaminya


"bagaimana keadaannya dok?" tanya Darlina dengan perasaan cemas. wanita itu hampir saja terjatuh melihat helaan napas berat dari dokter pertanda buruk, untung saja Alexandre sigap menahan tubuh istrinya


"tidak tidak. tolong lakukan terbaik apapun itu. saya akan bayar anda 100 kali lipat asalkan Max bisa selamat" potong Darlina enggan mendengarkan penjelasan dokter lebih lanjut. wanita itu berucap dengan penuh iba


kenapa takdir harus sejahat ini? Ketika harapan sudah di depan mata untuk berkumpul dengan putranya yang 28 tahun lamanya menghilang, malah keadaan Max yang berada di ujung kematian


"semua gara-gara kita" Darlina menoleh ke arah lelaki yang memegang pinggangnya guna menopang dirinya


sedang Alexandre yang sedari tadi kebingungan siapa dibalik ruang operasi yang ditangisi istrinya merasa terkejut setelah mendengar nama Max, lelaki itu kesal setengah mati. bagaimana bisa sang istri mengkhianatinya dengan menangisi musuh mereka? Darlina membawa Max ke rumah sakit tanpa persetujuannya? lalu ketika Darlina berbalik menyalahkan karna keadaan Max yang sekarat, Alexandre semakin berang. bukankah harusnya Max mati di tangan mereka karna telah berani menganggu ketenangan mereka?


"apa maksud kamu Darlina?" Alexandre bertanya setelah melepas tangannya dari pinggang sang istri "kamu menangis karna lelaki muda itu? lalu sekarang kamu menyalahkan aku?"

__ADS_1


"bukan cuman kamu, aku juga ikut andil"


dan jawaban Darlina sukses membuat Alexandre meninju tembok. lelaki itu benar-benar marah dengan pembenaran sang istri. Darlina dan dokter sampai terjingkat kaget akan ulah Alexandre. lalu untuk pertama kalinya Alexandre menatap penuh amarah sang istri. ia benar-benar merasa kecewa pada Darlina. Sacha bahkan sampai mengurung diri karna Max tapi Darlina malah menyelamatkan lelaki brengsek itu?


"berani sekali kamu..."


"pa, dia kemungkinan putra kita yang hilang" lirih Darlina menatap tepat pada manik suaminya. wanita itu sama sekali tak bereaksi mendapat tatapan tajam suaminya


"a..apa?" tanya Alexandre dengan terbata. lelaki itu lalu terbahak mendapati anggukan kecil dari sang istri


"darah dia dan mama cocok pa, mama baru saja mendonorkan darah untuknya"


"Darlina, oh astagaaa" Alexandre tak bisa berkata-kata dengan ungkapan istrinya. ia marah tapi juga gemas dengan persepsi sang istri "kamu bahkan sampai mengorbankan darah kamu yang langkah itu hanya untuk dia?" tanya Alexandre dengan mimik kecewa


"terus papa mau lihat dia mati di hadapan kita setelah 28 tahun kita menanti kehadirannya?!" Alexandre terkesiap mendengar nada dingin penuh tekanan dari mulut istrinya


"papa ingat Alle kecil kita punya tanda lahir di pinggang bawahnya kan?" Tanya Darlina yang diangguki kaku oleh Alexandre "dia punya itu, pa. mama sudah periksa sendiri" lanjut Darlina


"permisi Mrs. ini hasil DNA anda dengan pasien" sahut salah satu dokter dari belakang tubuh Darlina yang baru saja tiba sembari membawa amplop


Bersambung...


siapa yang kemarin nebak Max anak si bos Vangster yang hilang? selamat anda bisa membaca jalan kehaluan Autor 👏👏👏

__ADS_1


__ADS_2