DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Epis 50 (Revisi)


__ADS_3

Malam harinya, informasi tentang Sacha sudah berada di meja Max. ia membacanya dengan teliti namun wajahnya mengerut saat membaca bahwa gadis itu telah memiliki kekasih yang sudah menjalin hubungan satu setengah tahun lamanya


“jadi dia ini sudah punya kekasih. Apa karna alasan itu kenapa ia selalu ketakutan berdekatan dengan pria lain, temasuk diriku?”


Santos mengangguk saja ”mungkin seperti itu”


Max mengetuk-ngetuk mejanya dengan jarinya yang panjang


“tapi itu hanya berlaku padaku. Bahkan denganmu ia tak beraksi apa-apa terakhir kali kita bertemu di perkebunannya, bukan?”


Santos mengangguk lagi membenarkan “benar juga ya, tuan”

__ADS_1


Seringai licik terbit di bibir tebal Max saat pikirannya menyimpulkan sesuatu “sepertinya benar dugaan mu saat di klub. Aku hampir saja tertipu dengan dia. Aku kira dia wanita berbeda ternyata dia sengaja menarik perhatianku dengan sikap cuek dan pura-pura ketakutannya itu”


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Esok harinya, Sacha tengah berlibur di pinggir pulau Santa Cruz, ia memilih pulau masih dalam area Palma karna tak mau antek-antek Vangster mengikutinya. Ia ingin merelaksasikan pikiran dan hatinya tanpa gangguan setelah melewati hari berat sidang kelulusannya kemarin. Bahkan sang kekasih pun tak ia ajak. Ia benar-benar sendiri.


setelah menikmati seharian ketenangan tak membuat Sacha puas diri, ia mash ingin tinggal dan beruntungnya kedua orang tuanya memberi izin dengan Syarat harus menjaga diri dan besok langsung pulang ke mansion


ya, yang ia maksud adalah Alexandre dan Darlina tentu saja. Karna orang tuanya yang lain, yang memilki darah yang sama dengannya telah membuangnya, bukan?


‘meski begitu aku tetap merindukan mereka’ batin Sacha dengan perasaan teriris.

__ADS_1


Meski kecewa namun rasa rindunya tak lekang oleh waktu. Apa kabar Pratama dan Angraini di sana? Apakah mereka sudah melupakannya?


Memikirkan itu tak terasa air mata Sacha meluruh, wanita cantik itu hanya mampu menunduk dalam tangisnya. Nyatanya kehidupannya yang dilimpahi kasih sayang oleh Alexandre dan Darlina tak membuat Sacha mampu melupakan kedua orang tua kandungnya yang mungkin telah berbahagia tanpa mengikutsertakan dirinya di sana, di Indonesia.


“pa, ma, Anita sudah lulus kuliah loh. Bentar lagi Anita akan berulang tahun ke dua puluh tiga, sudah sangat lama rasanya Anita tak merayakan hari kelahiran Anita bareng kalian. Anita rindu sama papa, mama dan kakak” lirihnya dalam tangis dengan menggunakan bahasa Indonesia


_ _ _ _ _ _ _ _ _


Malam hari Sacha makan di salah satu restoran pulau yang dekat dengan penginapannya. Ia memilih lantai teratas sehingga ia bisa menikmati makanannya dengan pemandangan air yang diterangi sinar rembulan dan jutaan bintang kerlap kerlip. Juga lampu-lampu gedung sekitaran restoran dan jalan terlihat seperti permadani cahaya yang indah.


Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan untuk ia nikmati seorang diri. Sacha baru saja mendapatkan paella yang ia pesan, menu makanan dengan nasi di goreng dengan toping berbagai seafood. Tak membuang waktu Sacha segera menyantapnya namun baru beberapa suap gerakannya terhenti ketika ia didatangi oleh seorang pria dengan tubuh tinggi dan tatapan yang dalam tepat di depan mejanya. Begitu melihat siapa pria itu, Sacha kembali bergidik dan rasa nyeri menyengat seluruh persendiannya. Itu adalah jenis trauma yang tak bisa hilang setiap kali mengingat lelaki itu apalagi sekarang Max berada di hadapannya, hanya mereka berdua disana. Sacha menarik tangannya ke bawah meja yang langsung mengepal kuat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2