
jika pecahan gelas kaca bisa menggambarkan keretakan hati Sacha maka mungkin saat ini gadis itu hanya perlu meringis terkena goresan tapi nyatanya gadis itu malah menangis sesenggukan di atas ranjang dengan keadaan meringkuk memeluk lututnya. napasnya terdengar putus-putus. sesekali ia memukul dadanya berharap dapat meredakan dadanya yang sesak
"Anita rindu, Anita rindu papa mama, kenapa jahat sekali sama Anita" racau Anita dengan suara serak teredam dengan suara tangisnya
saat ini Sacha berada di kamarnya, setelah beberapa menit lalu sampai ke mansion. ia memilih pulang walau acara jamuan belum selesai. memilih memesan superyacht untuk membawanya pergi dari perkumpulan para pengusaha dan pebisnis termasuk pasangan Pratama, Malik Pratama dan Angraeni Pratama, sepasang suami istri yang kelihatan semakin berjaya dan bahagia setelah membuang putri mereka, Anita.
kenapa ia berpikiran demikian? karna apa yang Sacha lihat adalah bukti nyata kalau dirinya benar-benar bukan apa-apa dan tak seberharga itu di mata kedua orang tua yang telah melahirkannya ke dunia 23 tahun lalu.
bayangan ekspresi enggan Pratama dan Angraeni saat salah satu tamu undangan bercelatuk menyinggung anak bungsu Pratama membuat hati Sacha kian teriris.
"seandainya Anita ada ditengah-tengah kita sekarang pasti dia seumuran kekasih Ezar ini"
seketika senyum ramah Pratama dan Angraeni hilang dan secepat kilat berubah pias. apa se- memalukan itu Anita bagi kedua orang tuanya? seperti sedang di hadapkan dengan hal yang sangat dibenci, kedua pasangan itu pamit dengan alasan hendak menyapa rekan lainnya, yang dimata Sacha menyimpulkan bahwa keduanya hanya muak ketika ada yang membahas Anita di hadapan Pratama dan Angraeni.
jika saat bertemu Aqram tadinya Sacha masih bisa menguasai diri meski harus bersusah payah untuk menenangkan diri dengan menyendiri di atas, namun Sacha tak bisa lagi berpikir jernih untuk tak segera menghilang dari sana ketika bertemu dengan kedua orang tua kandungnya yang sudah tidak mengharapkan dirinya sama sekali.
di dalam kamar Sacha terus meracau dengan kepedihan hatinya membuat seseorang di balik pintu kamar yang tak tertutup rapat itu mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang berkaca-kaca pula.
"maafkan aku, semua karna ku" lirihnya, Max memilih bersandar di tembok samping pintu, tak ingin meninggalkan Sacha seorang diri di tengah keterpurukannya, ingin sekali Max masuk dan memeluk, memberi kekuatan pada wanita itu namun ia sadar diri kalau dirinyalah sumber utama kesakitan wanita itu.
Max tak peduli dengan kakinya yang sudah gemetar karna berdiri terlalu lama, namun ketika menyadari tidak ada lagi suara tangisan, Max mengintip dari celah pintu sebesar jari kelingking. Max menyeret kakinya dengan gerakan hati-hati, memasuki kamar Sacha hati Max makin mencelos melihat wanita itu sudah pulas meski sisa tangis masih kentara, Sacha sesekali sesenggukan dalam tidurnya mirip anak kecil yang habis menangis kejer hingga tertidur.
Meski masih sering ngilu tapi Max bersyukur karna kaki dan tangannya sudah bisa berfungsi meski masih keterbatasan gerak.
"apa yang harus aku lakuin supaya bisa mengembalikan kebahagiaanmu, sayang?" bisik Max, tangannya gatal ingin menghapus jejak air mata Sacha namun ia takut gerakannya bisa mengusik tidur wanita itu.
Max tak tahu alasan kenapa Sacha balik terlalu cepat dari acara, seharusnya Sacha baru akan kembali besok malam. meski sudut hatinya ada kelegaan karna Sacha pulang cepat hingga ia bisa melihat wanita itu dalam jangkauan matanya tapi sungguh ia tak mengharapkan wanita itu kembali dalam keadaan kacau. pasti ada yang tidak beres, Max akan mengintrogasi pengawal Sacha setelah ini.
__ADS_1
"aku ingin menebus semuanya, aku janji. meskipun pada akhirnya kamu meminta nyawaku akan aku beri, tapi... tidak untuk sekarang, aku harus mengembalikan keadaan seperti semula, mengembalikan keceriaan dan kebahagiaanmu sebelum bertemu denganku"
sementara acara pesta jamuan di atas kapal pesiar besar itu masih berlangsung meriah. para tamu undangan bergantian menyumbang suara di atas panggung menunjukkan bakat tarik suara yang biasa saja. namun tampaknya sepasang suami istri paru baya tak ikut serta, mereka memilih menepi dari acara dan lebih menikmati bulan di atap, persis di tempat yang Sacha kunjungi tadi
"anak itu, sorot matanya mengingatkan ku sama putri kita, pa" gumam Anggraeni bersuara setelah mereka memilih bungkam dalam waktu lama.
Pratama menoleh sebentar kearah sang istri dan kembali menatap lurus ke depan mengikuti arah pandang ibu dari dua anaknya itu.
"hm, papa juga melihatnya"
"mama rindu sekali sama Anita"
hati Pratama tertohok, ia pun sangat merindukan sang putri, sangat sampai rasanya ia ingin sekali memeluk gadis muda tadi namun ia tahan karna tak mau berlaku kurang ajar, alhasil ia beralasan pamit karna takut tak bisa mengendalikan diri untuk tak memeluk gadis yang katanya kekasih anak dari rekan bisnisnya.
saat rekan bisnisnya menyinggung soal Anita, Pratama sungguh tak terima. memang insiden bom lima tahun lalu di Madrid sudah bukan rahasia lagi kalau Anita termasuk korban di dalamnya, namun Pratama tak bisa menerima kenyataan meski telah berlalu sekian tahun. baginya Anita, putrinya tercinta masih hidup. lalu saat menatap gadis yang katanya bernama Sacha, Pratama tak bisa menahan gejolak pedih dalam dada, bukan hanya sorot mata gadis itu yang mengingatkannya pada Anita tapi sesuatu dalam dirinya merasakan kehadiran putrinya yang diduga menjadi korban atas peristiwa mematikan lima tahun lalu.
_ _ _ _ _ _
di malam yang sama, Sacha terbangun dengan keringat dingin. dadanya terasa sesak dipenuhi ketakutan mengingat mimpi yang baru saja dialaminya. dalam mimpi buruknya Sacha merasa tenggelam di dalam kolam karna kepalanya di tahan oleh Alexandre dan tangannya di tarik kuat oleh Darlina yang ada di dalam kolam.
"kau harus mati karna kau bukan Sacha anak kami!" ucap Alexandre membuat Sacha langsung terbangun dengan wajah pucat
tangan Sacha meraba dirinya, memastikan tubuhnya tidak basah, ia lalu mencari remote dan menyalakan lampu sehingga ruangan yang tadinya temaram kini terang benderang. 03.17 angka yang tertera pada penunjuk waktu yang tertempel di dinding tepat di atas tv.
lalu ia melihat pakaiannya, masih stelan yang ia gunakan pada acara jamuan. dengan rasa putus asa Sacha menekan dahinya dengan kuat, mencoba meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja dan tak perlu panik. itu hanya mimpi buruk!
Sacha kembali berusaha memejamkan mata setelah mengenakan baju tidurnya dan meneguk habis air dalam gelas, namun nyatanya mimpi buruknya kembali tersambung
__ADS_1
"mati saja kau! kau telah mengecewakan saya dan istri saya!" teriak Pratama ikut menekan kepala Sacha di kolam membuat Sacha kembali menjerit ketakutan
tawa enam orang menggelegar di telinganya, semuanya terlihat bahagia melihat dirinya diperlakukan seperti itu, semua orang tampaknya sangat mengharapkan kematiannya
Sacha ketakutan, ia menutup telinganya dengan dua tangannya, suara tawa itu terus berputar-putar di luar kepalanya
Sacha langsung melompat dari ranjang, ia kesetanan mencari sesuatu, setelah mendapat sebuah buku dan polpen segera ia mencoret-coret disana.
semua orang menginginkan dirinya mati!
lebih baik ia mati terhormat seorang diri dari pada ia mati seperti dalam mimpinya. demi apapun tawa mereka sungguh mengerikan baginya.
dia harus mati sebelum orang-orang itu menyiksanya! ia tak ingin kembali merasakan kesakitan seperti yang pernah ia alami di masalalu
ya, ia harus mati segera!
harus mati!
mati!
brak!
kaca yang semula utuh kini pecah dengan beling berserakan di lantai, tanpa pikir panjang segera ia mengiris nadinya hingga darah bercucuran dari sana.
"tenang Anita, kamu sudah aman" ucapnya pada dirinya sebelum ia terkulai lemas bersandar pada lemari nakas
akhirnya ia berhasil meraihnya seorang diri, akhirnya ia berhasil juga berada dititik ini, hal yang ingin sekali ia lakukan beberapa tahun lalu namun takut karna belum meminta maaf pada orang tua kandungnya, tapi sekarang ia sudah tak peduli semua itu, toh tak ada yang mengharapkannya. akhirnya ia bisa menutup mata tanpa rasa takut akan terbangun esok harinya. Dini hari itu, Sacha, bukan, Anita menjemput bahagianya dalam kedamaian, meninggalkan sepucuk surat yang teronggok di atas kasur
__ADS_1
Bersambung...