
"biadab?" ulang Max lalu terkekeh, ia beranjak mendekati Pratama "ANDA YANG BIADAB!! SAYA BEGINI KARNA ANDA! SEMUA HANYA UNTUK MEMBALASKAN DENDAM SEORANG ISTRI DAN ANAK YANG ANDA TELANTARKAN!!" teriak Max dengan kilatan amarah di hadapan wajah Pratama. kedua lelaki beda generasi itu masing-masing memancarkan aura permusuhan
"sepertinya kamu memang benar-benar kurang waras..." ujar Pratama berniat menekan mental Max
"dua puluh enam tahun lalu, seorang gadis cantik bernama Nasya, gadis lugu yang telah menyerahkan hidup matinya kepada anda namun anda balas dengan penghianatan! anda meninggalkan dia saat mengandung demi wanita lain. anda buang ia bersama janin dalam kandungannya..."
"Na.. Nasya?" sela Pratama setelah sosok yang ia kenal di masalalu terlintas di pikirannya setelah merenung cukup jauh mengenai sebuah nama yang terlontar lirih dari mulut lawan bicaranya
apakah Nasya yang itu? batin Pratama menebak
"Nasya Zalianty, apakah anda ingat sekarang?" tanya Max mengoreksi
"dia masih hidup?"
__ADS_1
"apakah anda menunggu kabar kematiannya?" Balas Max marah
"oh jadi kamu anak itu" ujar Pratama sembari mengangguk takjub, sebuah tanggapan yang diluar ekspektasi seorang lelaki dewasa yang sudah menumbuhkan dendam selama belasan tahun
hanya itu?
tidak ada acara permohonan maaf?
mengetahui anak yang ia terlantarkan selama puluhan tahun di hadapannya hanya itu reaksinya? reaksi yang tak bisa Max jabarkan maksudnya.. cenderung biasa saja.
"berarti istri dari ayah kandungmu masih memiliki hati nurani dengan tidak melenyapkan ibumu saat itu" ujar Pratama dengan senyum miringnya
kalimat dan ekpresi itu berhasil menyulut emosi Max yang tadinya mulai reda. kini bukan hanya amarah berupa teriakan kesakitan dan memuakan tapi amarah itu tak akan padam jika tak membuat Pratama terkapar
__ADS_1
kedua tangan Max berhasil menyatu di leher Pratama, mencekik dibarengi sumpah serapah. bagaimana bisa lelaki yang begitu di cintai ibunya ini tak mau mengakui bahkan terdengar menyayangkan ibunya masih hidup.
Pratama tentu melawan, hingga perkelahian terjadi. bukan hanya Max dan Pratama yang berlaga, tapi puluhan bawahan Max yang tadinya siap siaga membantu atasan mereka menghajar Pratama juga mendapat serangan dari rombongan yang entah datang dari mana, puluhan orang berjaket kulit menyerang para preman-preman Max. bangunan tua yang memiliki pakarangan cukup luas menjadi riuh akan pertempuran tinju antar lelaki.
sebuah kekehan langsung mengudara kala salah satu kelompok sudah tergelatak kalah di tanah tak terkecuali atasan mereka.
pemilik tubuh yang terlihat masih bugar di usianya yang tiga tahun lagi memasuki setengah abad itu berjongkok di hadapan lelaki dewasa yang masih menatapnya penuh amarah meski tubuh kini sudah babak belur akibat pukulan bertubi-tubi dari lawan yang tak memberinya ampun.
"dengar, ini belum seberapa dari pembalasan saya terhadap perlakuan bejad kamu pada putri saya" ujar Pratama sembari menekan kakinya yang beralaskan sepatu dan dibawahnya terdapat sebuah jemari tangan lawan bicaranya, ia mengabaikan ekpresi kesakitan si lawan main.
"saya tidak tahu kamu salah mengenali orang atau memang kamu sengaja mencari masalah dengan saya dengan cerita konyol karangan mu itu. yang perlu kamu tahu, saya tidak akan melepas kamu untuk membalas perbuatan kamu terhadap putriku yang telah kamu tipu dan siksa selama ini" lanjut Pratama dengan kilatan penuh ancaman
Bersambung...
__ADS_1