DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Perubahan sifat


__ADS_3

Anita terjengkit kaget ketika dalam tidur setengah sadarnya indra pendengarnya menangkap suara mesin mobil memasuki halaman mansion. sontak ia beranjak dari sofa dan berlari kecil ke arah pintu


"Max, kamu pul..." ucapan Anita terpotong ketika mendapati bukan hanya sosok suaminya yang melangkah menaiki pelataran rumah, ada sosok perempuan seksi nan cantik di samping sang suami, tapi bukan itu yang membuat seketika dada Anita terhimpit, melainkan tautan tangan keduanya yang begitu mesra dan Max sesekali mencium tangan wanita itu yang berada dalam genggaman


"Max, siapa dia?" tanya Anita ketika Max dan wanita itu sudah berada di hadapannya


"sama seperti kamu punya lelaki lain, saya juga bisa. tapi karna saya takut dosa jadi saya langsung menikahinya supaya hubungan kami halal" ujar Max dengan lantang "perkenalkan dia Anne, istriku yang terhormat" lanjut Max tak peduli wajah syok Anita "Anne perkenalkan dia Anita" kali ini Max berucap sembari menoleh ke arah sang istri siri sembari mengelus penuh cinta sisi wajah wanitanya


Anne menanggapinya dengan senyum manisnya sebelum mendaratkan sebuah kecupan singkat di ujung bibir Max. saat tangan Anne terulur untuk berjabat dengan Anita, Max menepisnya "tidak perlu, jangan kotori tanganmu dengan menyentuh wanita murahan sepertinya" larang Max dengan lirikan jijik ke arah Anita


Brug


selepas perkataan Max, tubuh Anita meluruh ke lantai. bagai kesetrum.. tidak, rasanya Anita seperti disambar petir di siang bolong. otot dan tulang-tulangnya seketika berubah selembek jelly, menopang tubuhnya saja ia tak mampu. tolong pada siapapun katakan apa yang ia hadapi saat ini hanya sebuah mimpi buruk.


sedang Max yang menyaksikan itu hanya tersenyum licik, tak mau peduli dan tidak mau tau dengan keadaan sang istri kecil sah, Max berlalu dengan melangkahi tubuh Anita yang menghalangi pintu, jangan lupakan ia menarik juga Anne


"Pelan-pelan, sayang, keinjak kan dia" tegur Anne pura-pura padahal ia sengaja menginjak betis Anita


dan yang di injak hanya bisa terisak menyedihkan


_ _ _ _ _


suara gaduh dari arah tangga menyeret Anita dari kesakitannya, dengan mata yang masih dialiri air mata ia beranjak berdiri dari ambang pintu rumah. dan betapa terkejutnya ia ketika dari arah tangga netra buramnya melihat koper yang dibawahnya sebulan lalu ke rumah ini tengah bergelinding di sana. buru-buru Anita mendekat


"apa maksudnya ini?" tanya Anita menatap tak suka pada perempuan di atas sana yang tengah tersenyum remeh padanya


"menyingkirkan barang-barang sampah dari kamar tidurku dan suamiku" jawab Anne sembari bersedekap dada, tubuh rampingnya ia sandarkan di pembatas lantai dua

__ADS_1


"berani sekali kau..." langkah Anita yang hendak menginjak anak tangga untuk menyusul Anne terhenti ketika suara berat menginterupsinya


"berhenti disana!"


Anita refleks menoleh ke sumber suara, di sana, Max tengah terduduk pongah di sofa panjang menghadap tangga


"M.. Max.."


"turuti apa kata Anne" ujar Max berhasil membuat Anita menganga tak percaya dengan apa yang indra pendengarnya tangkap


"tapi itukan kamar ki..."


Brugh


sebuah remote meluncur melayang ke arah Anita, untung saja meleset


"diamlah kalau kau tidak mau tidur di luar. saya masih berbaik hati menampung wanita murahan seperti kamu" potong Max dengan kilatan amarah


"aku bisa jelasin, yang tadi pagi kamu lihat itu hanya salah paham" lirih Anita memohon sembari meraih tangan Max namun diluar dugaannya Max malah menepis kasar tangannya


'kenapa Max jadi begini? kemana sikap lemah lembut dan penuh kesabaran Max yang selalu ditunjukan padaku? atau ini kah sifat asli Max? tidak, pasti Max hanya terbawa emosi karena kesalahpahaman tadi pagi' batin Anita mencoba memahami kekecewaan Max karna mendapati seorang lelaki lain di kamar mereka


"Max, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan ap..."


"jangan menyentuhku dengan tangan kotor mu itu si*lan!!" bentak Max menarik kasar tangannya dari genggaman Anita membuat tangan wanita muda itu terantuk di ujung meja kaca


"kamu lupa apa yang pernah saya ucapkan? SAYA AKAN BAIK DENGAN ORANG YANG PENURUT DAN BISA JAHAT PADA ORANG PEMBANGKANG APALAGI PENGHIANAT!!" beritahu Max dengan suara tinggi, matanya penuh amarah siap menerkam mangsanya saat itu juga, meski sang mangsa sudah tersaji siap eksekusi di depan mata tapi Max tak akan melakukannya saat ini sebab ia tak mau secepatnya menghabisi, tapi ia mau menghabisinya secara perlahan dengan caranya yang tentunya akan membuat mangsanya berada di pilihan sulit, mati enggan hidup pun tak mau.

__ADS_1


"kemas barang-barangmu, cepat! dan segera siapkan makan malam untukku juga istriku" titah Max membuat Anita sontak mendongak menatap Max, lagi-lagi ia tak percaya dengan apa yang Max katakan


memasak?


ingat, dia adalah nona muda dari keluarga Pratama, ayahnya pengusaha kaya raya di Indonesia dan ibunya seorang dokter ahli kecantikan. maid di mansion keluarganya ada belasan. dia terlalu dimanja sehingga hal-hal demikian ia tak tahu.


bukankah Max tahu kalau dirinya tidak pandai... bukan, tapi memang ia tidak bisa berada di dapur untuk mengolah makanan. Anita hanya tahu makan! selama ini ia selalu dilayani oleh pembantu, bahkan jika Max pulang, Max lah yang akan memasak untuknya.


celaka!


_ _ _ _ _


Prank!!!


"lo mau bunuh gue sama istri gue hah?" teriak Max dengan kilatan amarah setelah membanting piring yang berisikan potongan buah


oh ayolah, Max menyuruh Anita memasak makan malam, namun perempuan manja itu malah memberinya berbagai macam potongan buah... yang tak layak makan. bagaimana tidak? gadis berusia 17 tahun itu tidak tahu apa-apa, potong buah saja Anita harus menangis diam-diam karna tangannya ikut teriris, dan bukan hanya satu atau dua luka disana tapi ada banyak, tangannya sudah berlumuran tetesan darah


seketika Anita menyesal karna selama ini terlalu dimanja oleh kedua orang tuanya hingga ia buta akan segala hal yang menyangkut pekerjaan dapur selain makan.


"shs, sakit"


Max menarik paksa tangan Anita tanpa peduli luka wanita muda itu, tubuh Anita lalu di hempaskan ke lantai dan di susul Max berjongkok di hadapannya.


"makan ini, makan!" Max mencengkram kuat pipi Anita dan menyuap paksa potongan buah yang sudah bercampur dengan beling piring pecah ke dalam mulut Anita. jangan lupakan di beberapa potongan buah juga terdapat noda darah, itu darah dari tangan Anita yang ikut tercampur di sana sewaktu memotong buah tadi, padahal ia sudah mencuci dengan air bersih sebelum menghindangkan ke hadapan Max


Bersambung

__ADS_1


yang typo tolong tandai ya!!


bentar kalau ada waktu aku revisi


__ADS_2