
"te... terimakasih"
"sudah?" tanya Max memastikan
"hm" jawab lemah Anita
Max lalu menyingkirkan tangannya yang memegang botol air mineral di depan dada Anita lalu menutup kembali dan menaruhnya di tempat semula
ya, entah kesambet apa Max tergerak membantu Anita melepaskan dahaganya, mulai dari membantunya mengambil botol air, lalu mengambilkan sedotan dan membantu memegang botol air mineral. sebab memang jemari tangan dan tulang-tulang Anita belum sepenuhnya bisa berfungsi baik setelah tertidur cukup lama. tubuh itu terlihat kaku
"sudah mendingan kan? aku mau pulang sekarang"
"hm" balas Anita sembari mengangguk kecil. lebih cepat Max pergi lebih bagus untuknya. pikir Anita
"kamu udah bisa jalan kan?" tanya Max memindai kaki Anita yang belum bergerak sama sekali
lelaki iblis ini! pertanyaan bodoh apa itu? batin Anita mengumpat
"nanti aku bisa kok. kamu bukannya mau pulang? silahkan, terimakasih sudah sudi menjenguk"
"tapi aku maunya kamu bisa jalan sekarang. aku nggak mau repot-repot membebankan diriku karna menggendong tubuhmu itu" ujar Max tak berperasaan "cukup darahku saja yang sudah aku sia-siakan hanya untuk menyelamatkan nyawa tak berharga mu itu" lanjut Max mencemooh
"ka...kamu apa? donorin darah kamu untuk aku?" beo Anita memastikan dengan nada terkejut
"ya iyalah. kalau bukan karna aku, kamu udah tinggal nama sekarang"
__ADS_1
'tapi karna kamu juga aku berada disini dan hampir kehilangan nyawa' batin Anita
"darah kita benaran cocok?" alih-alih mengutarakan isi hatinya Anita justru menanyakan kecocokan dna darah mereka
"ya iyalah. aku juga terlahir dari benih pria br*ngsek yang membuat kamu hadir di dunia, aku ingatkan kalau-kalau kamu lupa"
"jadi benar papa kita sama..." gumam Anita sembari menunduk, sekali lagi ia kecewa mendengar fakta mengenai kecocokan darah mereka, padahal ia sudah berusaha untuk tidak mempercayai bahwa papanya memiliki masalalu sekejam itu. meninggalkan istri dan anak kandung demi wanita lain yang tak lain adalah mamanya sendiri.
"nggak usah nunjukin muka sedih jelekmu itu. jangan buang-buang waktu, cepat bangun, makin lama kamu disini makin membengkak biaya rumah sakit. ayo bangun, jalan sendiri, jangan manja"
pria ini! apa dia memiliki hati? mungkin punya tapi tak dipergunakan selayaknya. lihatlah bagaimana arogan dan tak berperasaannya langsung menyuruh pasien yang belum ada lima menit sadar dari koma sudah disuruh jalan dan pulang. sinting! pikir Anita dengan dada membuncah muak
"untuk membuktikan kalau kita memang saudara satu ayah, bagaiamana dengan tes DNA?" usul Anita berhasil membuat Max terdiam, lelaki itu tampak memikirkan tawaran itu
tes DNA?
persetan dengan tes DNA! Max percaya dengan perkataan ibunya. ucapan Nasya beberapa tahun lalu adalah kebenaran. pikir Max
lagian bukti apa lagi yang harus diperjelas? bukankah bukti nyata sudah terpampang nyata? bahwa tubuh Anita bisa menerima donor darahnya tanpa kendala adalah bukti terakurat kalau mereka memang sedarah, lahir dari ayah biologis yang sama.
"lo pikir tes DNA bisa merubah fakta yang ada, Hah?!" dengan suara dinginnya Max menanggapi, bahkan kini nada bicaranya kembali terdengar layaknya orang asing
"tapi bisa jadikan ada kekeliruan..."
"lo nuduh ibu gue berbohong, begitu?" potong Max sembari tangannya mencengkram pipi kering Anita
__ADS_1
"ti..tidak. maaf. tolong lepasin. sa...kit"
Wajah Anita terhempas ke samping kala Max melepas cengkramannya dengan dorongan kuat
"terima saja fakta bahwa papa kesayangan lo itu tak sebaik yang lo pikir. dia lelaki pec*ndang dan br*ngsek!!" desis Max tepat di telinga Anita
Saat Max menegakkan tubuhnya, Anita mengikuti dengan arah pandangnya "jika kamu tahu kita sedarah, kenapa kamu tega menyentuhku?" tanya Anita. sebuah pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan pada Max tapi ia tak punya keberanian. dan hari ini ia mencoba peruntungan menanyakan beban pikirannya itu selagi mereka membahas hubungan darah diantara mereka
"menyentuhmu?" beo Max lalu terbahak setelahnya. usai menguasai tawanya, kembali Max melemparkan tanya "kapan? kapan aku menyentuhmu? kamu nggak mimpi kan? tubuh kecilmu itu apa ada yang spesial sampai aku sudi menyentuhnya? bahkan kamu telanjang pun dan mengangkang di hadapanku tak membuat aku bernafsu. kurus kering begitu ck ck ck" olok Max tak berperasaan sembari memindai tubuh lemah Anita di brangkar
"di hotel waktu itu" lirih Anita dengan air mata mengenang di pelupuk mata. bukan, bukan sedih karna olokan Max, tapi sedih dan menyesal mengingat kejadian dimana papa dan mamanya kecewa padanya dan berakhir membuangnya. kejadian dimana awal dari penderitaannya yang tak kunjung menemui tepi.
"oh waktu itu" ujar Max santai, lelaki itu lalu mengeser kursi dan mendudukan bokongnya di sana
"ya, itu hanya rekayasa. aku merencanakan semuanya dari awal. aku sengaja mengikuti mu dan membayar temanmu untuk memberi mu minuman yang sudah aku campur obat bius. dan yah, aku membawamu bersamaku di hotel yang dimana si baj*ngan Pratama dan istri jal*ngnya sedang ada acara di sana. aku merancang semuanya begitu apik. menghubungi pihak hotel untuk menciduk kita di kamar. dan yah, papa kita yang br*ngsek itu ikut menciduk dan berakhir tak mengakui mu sebagai anaknya dengan cara menyayat lengannya" diakhir kalimat Max meringis geli. merasa lucu dengan cara Pratama yang kekanakan itu
"kamu tahu, itu adalah hari pertama aku ketemu langsung dan berada di ruangan yang sama dengan lelaki yang menghadirkan aku di dunia ini namun dengan tega membuangku. aku bahagia sekali hari itu. bukan karna bisa bertemu langsung dengan dia tapi bahagia karna bukan hanya aku yang akhirnya di buang tapi kamu juga"
"pikir baik-baik Anita, seandainya dia adalah seorang ayah yang baik, mana tega ia begitu gampang memutuskan pertalian darah dan membuangmu hanya karna kesalahan yang biasa anak-anak seusiamu lakukan?"
"menggelikan sekali, menyayat dirinya demi terbebas dari ikatan darah denganmu. hahahah"
"dan menyaksikan kejadian itu, aku semakin yakin bahwa Pratama memang sebr*ngsek itu! anak tak begitu berarti baginya. karna yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri"
Max bercerita begitu semangat, mengabaikan bahwa ada hati seorang gadis belia yang menjerit kesakitan akan fakta yang Max utarakan
__ADS_1
"oh iya, aku tidak melakukan apapun selain membuka bajumu waktu itu. itu saja. jangan ge-er, aku tidak sudi menikmati tubuh perempuan yang sedarah denganku. aku masih manusia berakal yang pantang menikmati tubuh jelekmu itu"
Bersambung....