
Warning 21+
"Max, kau mau buat dia mati? itu ada belingnya loh" Anne ikut menyahut, menampilkan wajah kasihannya padahal sorot matanya puas melihat pertunjukan suami dan madunya itu
"makan beberapa beling tidak akan membuatnya mati seketika" ujar Max dingin, lelaki itu menatap sinis pada Anita yang tergugu dalam tangis "tapi mungkin perlahan" lanjut Max lagi lalu beranjak
Anita mendongak, menatap pias lelaki yang lima bulan lalu berjanji akan membahagiakan dirinya. Anita tak pernah menyangka Max bisa berucap sekejam itu. apa tadi kata lelaki itu? mati perlahan? itukan maksudnya? jadi Max berencana membuatnya menderita lalu mati perlahan? kenapa Max yang ini tak Anita kenali? kemana Max yang menjanjikannya kebahagiaan?
"apa lihat-lihat? lo kecewa sama ucapan gue? makanya jangan berani macam-macam" ucap Max menantang sembari menepuk-nepuk kan kedua telapak tangannya seolah baru saja memegang sesuatu yang berdebu dan kotor
Anita mengetatkan rahangnya sembari mengepalkan tangannya kuat, sungguh ia tak terima diperlakukan seperti ini, harga dirinya dalam beberapa jam ini benar-benar dihempas pergi secara paksa oleh seorang pria yang ia percayai untuk mengantungkan seluruh hidupnya hingga tua kelak. tapi apa yang Max lakukan benar-benar membuatnya merasa dipandang layaknya sampah. Anita adalah keturunan terhormat dari keluarga terhormat! berani-beraninya ada orang yang... tapi bukankah keluarganya sendiri sudah membuangnya? Anita sontak menunduk layu bersamaan kepalan tangannya yang terurai setelah tersadar akan fakta menyakitkan itu.
ya, ia bukan siapa-siapa saat ini. orang tuanya membuangnya, dan suaminya pun membawa wanita lain ke rumah mereka yang berstatus sebagai madunya, dan entah siapa kelak yang akan bertahan disisi Max hingga akhir, ia kah atau wanita seksi itu.
"mau makan di luar sayang?" alunan suara lembut menarik atensi Anita dari pikirannya, itu adalah suara yang ia rindui dari suara suaminya namun kelembutan itu bukan lagi diperuntukkan untuknya tapi untuk wanita yang tengah Max elus pipinya dengan sayang
adakah kesempatan baginya untuk mengambil kembali kepercayaan Max? bahkan Max sudah jauh dari jangkauan, lelaki itu berbicara kasar padanya, bahkan pakai lo gue sedang dengan wanita itu Max begitu lembut.
"iya aku udah lapar banget ini, sayang" jawab Anne dengan suara manjanya
"yaudah kita makan di luar, yuk"
"tapi aku malas keluar sayang, mau makan di rumah aja" ujar Anne dengan suara mendayu-dayunya membuat Max gemas
cup
"oke sayangku" final Max setelah mendaratkan kecupan singkat di bibir wanitanya
__ADS_1
"heh! lo dengar apa mau istri gue?! cepat buat makan malam yang layak!!" perintah Max
"tapi aku..."
"gue nggak mau terima alasan bangs*t!! awas kalau lo nggak bisa, gue nggak segan-segan kasih pelajaran lebih dari ini!!" ancam Max tak main main
"AKU NGGAK BISA MASAK!!"
entah dari mana keberanian itu muncul, yang jelas suara teriakan Anita berhasil membuat sepasang suami istri siri itu terkejut.
Anita frustasi, Max selalu mengancam dan tak memberinya kesempatan berbicara. Max seolah makhluk yang paling benar dan tak pernah salah. Max berubah menjadi monster dalam sekejap dan menekannya membuat emosi Anita terpancing keluar yang ia tahan sedari munculnya Max dengan wanita seksi itu, Anita tak bisa lagi terbendung kekecewaan terhadap Max. ia adalah perempuan yang bebas dan tak pernah mendapat tekanan. bahkan kejadian lima bulan lalu sudah membuatnya hampir gila, ini Max makin menambah kefrustasiannya dengan terus menekannya akibat kesalahpahaman.
Anita membalas tatapan tajam Max, seolah menyampaikan kalau ia tak bisa ditekan oleh Max namun keberaniannya hanya bertahan beberapa detik sebelum tubuhnya seketika basah kuyup
Byuur
diliputi amarah karna tak terima di bentak oleh anak bungsu Pratama si musuh bebuyutan sang ayah, Max kembali berjongkok, menj*mbak rambut basah Anita dan menyeretnya ke dapur
"Max... sa...kit..."
"wanita murahan keturunan bangs*t sepertimu tak pantas dikasihani!" geram Max tak peduli kesakitan istri sahnya itu
Duar
bagaikan di sambar petir, Anita terkejut mendengar ucapan Max. bahkan rasa sakit akibat tarikan di rambutnya tak terasa berganti rasa sakit hatinya. Max tidak hanya mengoloknya tapi juga sang papa tercinta. Anita tak terima
"Aarggghhh" bukannya berontak Anita malah berteriak kesakitan kala tangannya di pangg*ng di atas api, entah sejak kapan Max menghidupkan kompor tanam itu, yang jelas tangan Anita saat ini sudah perih
__ADS_1
"kalau lo berani membantah sekali lagi, gue nggak segan-segan gantikan tangan lo dengan wajah lo disini" desis Max dengan nada penuh ancaman
_ _ _ _ _ _ _ _
ada yang bilang hidup itu seperti roda, permukaannya kasar dan menggelinding di tempat yang juga tak rata, terasa lambat dan juga tak menyenangkan, namun tahu-tahu sudah terlewat begitu saja. ada juga yang bilang hidup itu bagai roller coaster. Kadang kita di bawah, di atas, bahkan terombang-ambing. Tutup mata dan nikmati saja.
tapi bagi Anita hidup itu seperti seluncuran air, hanya butuh sepersekian detik untuk berada di bawah dan tenggelam di kedalaman air, membuat mereka yang tidak memiliki persiapan bekal berenang akan kesusahan untuk merangkak kembali ke dasar. seperti itulah yang Anita rasa saat ini, beberapa bulan lalu ia masih menjadi seorang putri yang begitu di manja dan di sayang oleh semua orang, tau-tau musibah datang dan ia dihempas paksa menerima penolakan. kini ia tak tahu bagaimana caranya keluar dari penderitaannya sebab ia tak memiliki bekal apapun mengenai persoalan dunia orang dewasa yang penuh intrik
"Shs, perih banget" suara lemah wanita muda itu terdengar seperti bisikan sebab suaranya serak akibat menangis berjam-jam
"Max, tolong keluarin aku dari sini, aku takut" pintanya mengiba entah pada siapa sebab hanya kesunyian dan kegelapan yang menemani
Max tega mengurungnya di gudang belakang yang gelap gulita hanya karna Anita tidak bisa menyiapkan makan malam yang diminta Max
dugh dugh dugh
"tolong maafkan aku, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi" mohonnya mengiba sembari menggedor pintu dengan kakinya sebab tangannya tak bertenaga akibat melepuh
Brugh
dan untuk ketiga kalinya dalam 4 jam di dalam gudang Anita pingsan akibat tak sanggup menahan perih yang menjalar hingga ke tulang-tulangnya, luka bakar di tangannya adalah luka tersadis yang pernah anak manja sepertinya alami
entah berapa lama Anita tertidur atau mungkin pingsan, yang jelas saat terbangun tubuhnya sudah berada di kamarnya, kamar barunya yang baru di tempati kemarin berada di belakang berdampingan dengan para kamar pembantu. ya, Max bahkan tak mau Anita menempati kamar tamu setelah ia terusir dari kamar utama. kata Max, kamar tamu terlalu bagus untuk penghianat sepertinya.
ceklek
Bersambung
__ADS_1