DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Epis 42 (Revisi)


__ADS_3

“baik, tuan Alexandre. Saya akan merekomendasikan hasil panen perkebunan anda hanya pada orang yang memliki etika bisnis seperti yang anda mau” Alexandre mengangguk saja akan balasan dari Lincoln lalu mengajak sang putri pergi dari sana.


Sedang di sudut lorong, Max menatap kepergian mereka dengan tatapan tak terbaca.


“kenapa mereka pergi secepat itu bahkan acara inti belum di mulai?” monolog Max bertanya-tanya


Max merasa hari ini adalah salah satu hari terburuknya, perkebunan yang ia inginkan berada dalam genggaman tangannya dengan bantuan pemerintah Baleares namun tiba-tiba Lincoln tak bersedia menjadi perantaranya dengan Alexandre karna alasan memiliki kesibukan padat padahal sebelumnya Lincoln sudah sepakat akan mengatur pertemuannya dengan Alexandre. Tapi mengingat daerah Baleares bukan kekuasannnya, Max mau tak mau tak bisa berbuat apa-apa selain menerima putusan sepihak Lincoln. Untung Saja Lincoln memberinya nama lengkap Alexandre sehingga Max bisa mencari alamat lelaki pemilik perkebunan Black Henbane itu.


Max akhirnya tidak memiliki mood untuk melanjutkan pesta dan memutuskan pulang ke penginapan.


_ _ _ _ _ _ _ _ _


Saat ini Sacha tengah menenangkan diri di sebuah klub untuk menghilangkan ingatannya akan kejadian dimana ia bertemu seseorang yang begitu mirip dengan pria laknat nan brengsek yang ia kenal di masalalu.


Ya, pria yang ia temui di toilet hanya kebetulan mirip seperti Max, tapi dia bukan Max. itu adalah suara hatinya meyakinkan diri, lebih tepatnya menolak percaya jika ia kembali dipertemukan dengan lelaki yang mempunyai tempat dihatinya sebagai lelaki nomor satu yang paling Sacha benci

__ADS_1


“sayang, jangan sampai mabuk. Kamu mau tuan Alexandre menggorok leherku ketika aku membawamu pulang dalam keadaan mabuk?” tegur seorang lelaki yang setahun lebih ini menjadi kekasih Sacha


“maka jangan bawa aku pulang” jawab Sacha asal membuat kekasihnya mendengus


“maka restu yang tengah aku perjuangkan akan sia-sia dengan kematian ku di tangan papamu”


“berisik, Ezar”


“sayang, sudah yuk. Kita pulang ya” Ezar merebut gelas Sacha dan menjauhkan dari gadis itu


“melihatnya? Siapa yang kamu lihat?”


“bukan dia, tapi lelaki yang mirip seperti lelaki biadab itu”


Ezar mengerutkan keningnya, bingung Sacha berbicara ngawur karna pengaruh alkohol atau memang ada seseorang yang tengah mengusik kekasihnya tanpa ia tahu?

__ADS_1


“sudah lupakan. Tidak penting. Aku mau ke toilet sebentar” lanjut sacha lalu beranjak berdiri


“mau aku temani?”


“aku tidak mabuk. Memangnya kamu yang baru seteguk sudah teler” cibir Sacha membuat Ezar meringis. Ezar memang sangat sensitif dengan minuman keras itu


“yaudah tunggu sini ya, aku ke toilet sebentar” Ezar mengangguk mengiyakan sebagai balasan


Saat berjalan menuju toilet, Sacha tak sengaja menangkap keberadaan dua orang mencurigakan dengan gerak-geriknya. Tapi sedetik kemudian ia hanya menghela napas ketika menyadari siapa mereka. Sacha memberi isyarat dengan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya, ia arahkan ke kedua matanya lalu kearah dua orang anggota Vangster itu ‘jangan mengikutiku’ arti kode itu


Bartoli dan Bene hanya mengangguk samar. lagian aman saja asal kekasih dari putri bosnya tak ikut masuk toilet. Pikir mereka


Setelahnya Sacha melanjutkan langkahnya sembari mengoceh “Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi anak kecil bagi Alexandre dan Darlina”


Beberapa saat kemudian sacha keluar dari kamar mandi dengan jalannya yang mulai tak stabil. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Tubuhnya berbenturan dengan dada bidang yang keras dan membuatnya kehilangan keseimbangan sehingga ia hampir jatuh ke belakang namun ketika ia menutup mata dan tengah bersiap dengan rasa sakit akibat jatuh ke lantai, tiba-tiba lengan kokoh tadi melingkari pinggangnya dan membantunya tetap berdiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2