DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Epis 41 (Revisi)


__ADS_3

‘mau kemana wanita itu?’ batin Max yang sedari tadi tak melepas tatapannya dari Sacha yang terlihat menjauh dari kerumunan tamu. ‘Astaga! Kenapa aku harus peduli pada urusan orang lain yang bahkan tak ku kenali’


Lincoln yang memerhatikan ekspresi Max menolehkan kepala mengikuti arah pandang sang tamu, pejabat Provinsi itu tersenyum mengerti “apa anda berniat mendekati putrinya untuk melancarkan bisnis yang akan anda jalin dengan tuan Alexandre?” bisiknya


“ide bagus” jawab Max cepat lalu meninggalkan Lincoln yang melongo melihat kegesitan lelaki yang terkenal dengan bisnis Narkobanya itu


Ketika kaki Max hendak memasuki lorong menuju toilet, langkah Max terhenti. Max terdiam cukup lama dan tak menyadari ada beberapa orang melewatinya, ia berusaha memahami arah pikiran dan hatinya yang tengah berperang. Sisi lain dirinya ada rasa penasaran yang entah datang dari mana akan gadis itu, ada dorongan untuk menyusul dan mungkin akan berkenalan dengan putri pemilik petani itu, tapi sisi lain lagi ego menahannya.


‘Target ku hanya pemilik perkebunan Peyote, bukan dengan anak pemilik perkebunan’


Hanya saja beberapa detik kemudian bukannya menjauh pergi, langkah Max berlanjut kearah toilet


‘aku hanya ingin menggunakan kamar mandi’ batin Max meyakinkan diri sendiri. Ia adalah pria acuh dan dingin yang tak mau lagi terlibat dengan seorang wanita dalam bentuk hubungan apapun.


Begitu sampai di depan toilet, Max tidak masuk dan memilih menyalakan gulungan kertas berisi tembakau lalu menghisapnya sembari bersandar di dinding menikmati suasana sunyi. Sesekali matanya mengarah ke pintu toilet khusus wanita.

__ADS_1


Matanya terpejam sesaat untuk menikmati hirupan tembakau bakar di mulutnya, namun bersamaan dengan itu wajah penuh kebencian Anita menyapa dalam bayangan. Sontak kedua mata Max terbuka lebar dengan napas memburu. bagai berada di wahana Wicket Twister ketika netranya langsung bersirobok dengan netra milik gadis yang baru saja keluar dari toilet wanita dengan tubuh mematung dan mata membulat. Max seperti merasa tersedot ke depan dan secepat kilat di sedot mundur dengan kecepatan200 km/jam. Max seperti diserang dalam dunia khayal dan dunia nyata.


“khem” suara deheman keras mampu menarik atensi Sacha, gadis itu menormalkan ekspresinya menjadi datar dan melanjutkan langkahnya, melewati Max yang masih terpaku di tempatnya.


Bartoli dan Bene menyusul anak bosnya setelah memberi tatapan tajam kearah Max yang bahkan tak melihat mereka


“sepertinya pria itu baru pertama kali melihat wanita cantik seperti nona” ujar Bartoli dengan suara kecilnya


“ho’oh, lihat saja ia seperti terhipnotis bagaikan baru saja melihat bidadari turun dari kayangan” balas Bene membenarkan


“apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa ia terlihat seperti melihat monster mengerikan saat menatap ku” monolog Max yang terganggu dengan pandangan pertama mereka padahal rupa wanita itu baru pertama kali ia temui


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Selepas dari toilet Sacha berusaha tenang dan menyusul sang papa yang kini tengah berbincang dengan tuan Lincoln. Sacha membalas senyum sebagai bentuk hormatnya.

__ADS_1


“kamu mau pulang sekarang?” Tanya Alexandre yang dapat merasakan ketidak-tenangan sang putri


“boleh?” tanya Sacha balik dengan cepat, ia tak lagi berusaha menyembunyikan gestur tak nyamannya


Tanpa menjawab pertanyaan putrinya, Alexandre segera berpamitan pada Lincoln


“mohon maaf tuan, sepertinya saya tidak bisa tinggal sampai acara selesai”


“oh tidak masalah tuan Alexandre. Terimakasih sudah menyempatkan hadir serta nona Sacha”


“sama-sama tuan. Oh iya ini ada sedikit obat pereda sakit kepala untuk membantu tuan dalam menjalankan tugas mengelola Baleares kita yang sejahtera ini”


dengan bola mata berbinar Lincoln tanpa sungkan menerima bingkisan kecil dari tangan Alexandre yang dikeluarkan dari saku jas “terimakasih atas perhatian anda. Saya jamin perkebunan anda akan aman hingga tujuh turunan”


“ya, saya hanya menjual hasil panen dengan orang-orang yang saya kehendaki. Tidak dengan orang-orang yang tidak beretika apalagi ingin membeli perkebunan saya” ujar Alexandre begitu tenang namun mengandung makna yang membuat Lincoln kesulitan menelan ludah

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2