
Selesai makan malam Anita dan Max memilih untuk tidur, namun posisi tidurnya kali ini berbeda, tidak ada lagi guling penghalang di antara mereka, Bahkan lengan kanan Max jadi bantal untuk Anita, wajah Anita menempel pada dada bidang Max dengan tangan kiri Max menepuk nepuk lembut pundak Anita layaknya bayi saat mau di tidurkan oleh mamanya
Dengan sedikit godaan Max, Anita akhirnya setuju dengan posisi tidur seperti itu, toh ia juga nyaman berada dalam dekapan Max
Degup jantung Anita dapat Max rasakan dengan jelas yang memompa begitu cepat, lagi lagi seringai muncul di bibir lelaki itu.
ia berhasil membuat gadis itu takluk akan sandiwaranya.
setelah melihat Anita telah terlelap, Max meraih ponselnya dan mengetik pesan dengan satu tangannya, gerakannya sangat hati hati agar tidak menganggu tidur Anita
"sayang, siap siap seminggu lagi kita berangkat ke Madrid" tulisnya dan pesan itu terkirim pada kontak yang bernama "My Love" yang tak lain adalah Annabel
sedetik kemudian balasan datang dari Anne
"siap honey, aku sudah sangat siap"
Max tersenyum membaca balasan Anne, salah satu yang di sukai dari Anne adalah wanitanya itu selalu mengerti keadaan dan selalu ada untuk Max.
tanpa membalas lagi, Max menyimpan ponselnya di atas nakas dan kembali menoleh ke arah Anita. ia memandang lekat wajah damai gadis remaja itu.
'kamu cantik tapi sayang aku tidak tertarik' batin Max menyeringai jijik
Max mengalihkan pandangannya ke langit langit kamar, ia menghela napas panjang sebelum matanya terpejam untuk jatuh ke alam mimpi.
_ _ _ _ _
"sayang bangun yuk" suara seseorang dengan begitu lembut membangunkan seorang gadis remaja, bukannya terusik gadis remaja itu makin nyaman akan membelai lembut di kepalanya
maminya hanya geleng geleng kepala melihat tingkah putrinya yang kebiasaan susah bangun
"Nanti telat sekolah loh"
"5 menit deh mi"
"udah jam 7 sayang kamu masuknya setengah jam lagi"
tiba tiba gadis itu langsung duduk, meski nyawanya belum sepenuhnya terkumpul ia buru buru melesat ke kamar mandi namun di tahan sama maminya
"sayang hati hati nanti jatuh" maminya memeluk putrinya sambil mengusap usap pundaknya agar putrinya tenang dan tidak buru buru yang akan mengakibatkan ia tersandung
putrinya memang tenang namun tenang dalam tidurnya, ia kembali pulas dalam dekapan sang mami yang begitu menenangkan
"loh loh ko berat sih"
"Astaga Nita sayaaang bangun ih" mencubit gemas pipi Anita, ya gadis itu adalah Anita Angraini Pratama
"hihihi, mandiin mih" cengingiran kemudian menawar mau di bantu mandiin dengan manja
"ihh udah gede juga" menoel hidung putrinya "mandi sendiri yah sayang, mami mau siapin baju kerja papi, seragam kamu sudah mami siapin tuh dusana" bujuknya agar putrinya menurut dan menunjuk pakaian Anita dengan dagunya
__ADS_1
"Okedeh mamiku sayang makasih" mencium kedua pipi maminya dan bergegas kekamar mandi
Anita yang sudah siap dengan seragam sekolahnya turun kelantai dasar untuk sarapan dengan keluarganya
"Pagi pi" mencium pipi Papi Mami dan Aqram bergantian
"Pagi my princess" balas papi mencium kening Anita
"pagi tuan putri" balas Aqram mengacak gemas rambut adiknya
"ihh berantakan rambutku kak" ia mengerucutkan bibirnya sebal
"biarin" mencubit gemas bibir adik manjanya
"sudah sudah, duduk sayang sarapan" lerai sang mami,
"pagi mi" mencium pipi sang mami
"pagi sayang" mencium kedua pipi putrinya
selesai acara sarapan pagi itu mereka berangkat dengan tujuan masing masing, sebelum memasuki mobil masing masing keluarga rukun itu saling memberi semangat satu dengan yang lain serta saling memberi pelukan hangat.
tuan Pratama berangkat dengan supir serta asisten pribadinya menggunkan mobil Mercedes benz menuju perusahaan, Aqram membawa mobil lamborgini sendiri menuju kampus dan belakangan Angraini dengan Anita di mobil Ferrari,
Angraini akan mengantar Anita ke sekolah dulu baru ia akan ke rumah sakit. sebenarnya Anita memiliki supir sendiri namun jika jadwal Angraini tidak padat ia akan senang hati meluangkan waktu untuk mengantar sendiri tuan putri kesayangannya itu.
sesampai di sekolah Anita disambut dengan ke 4 sahabatnya. ya ia memiliki sahabat dekat yang juga putri putri dari keluarga konglomerat di antaranya ada Celine, Hana, Amora dan Rita.
"Pagi boskuh" Celine langsung merangkul lengan Anita
"Pagi! " Sahut yang lain barengan
"hei para tuan putri, belajar yang benar yah, jangan nakal" Angraini menyahut dari balik kemudi menatap Anita dan sahabat sahabatnya bergantian
"Siap bu dokter" mereka kompak mengangkat tangan dan menaruh di pelipis seolah hormat kepada atasannya
Angraini dibuat terkekeh dengan tingkah mereka "Ya udah masuk gih" katanya menyuruh mereka masuk kedalam sekolah.
setelah memastikan para gadis remaja itu memasuki sekolah, Angraini menancap gas menuju rumah sakit tempatnya bekerja mengingat sudah ada 4 pasien yang sudah membuat janji dengannya untuk bertemu pagi ini.
"Anita bangun kita sudah sampai" suara briton samar samar terdengar di telinga Anita. namun matanya enggan untuk terbuka
sedangkan si empunya suara briton mengeram marah karna tak dihiraukan. lengannya sudah kebas akibat Anita tertidur disana. dengan tanpa perasaan ia menarik kasar lengannya hingga kepala Anita terdorong kesamping.
Seketika Anita tersentak, kemudian ia berusaha mengumpulkan nyawanya, bola matanya memindai sekeliling. kenapa ia merasa kalau ia sedang berada dalam pesawat. pesawat! ya saat ini ia berada dalam pesawat. jadi tadi hanya sebuah mimpi? mimpi yang begitu nyata. kenyataan beberapa bulan lalu yang merangkap jadi sekelebat mimpi. ia ingat mimpi itu adalah kenyataan yang pernah terjadi yang sekarang menjadi kenangan indah baginya.
Buktinya saat ini ia dan lelaki di sebelahnya, suaminya, Max benar benar berada di kota Madrid. Negara Spanyol yang katanya tempat tinggal Max yang sebenarnya.
air matanya mengalir deras dari matanya, akankah ia sanggup hidup di negara ini, bagaimana dengan keluarganya yang ada di Indonesia, apakah ia akan terpisah jauh, bagaimana jika suatu saat keluarganya mencarinya, tapi apa mungkin ia akan di cari mengingat keuarganya sendiri lah yang meninggalkannya lebih dulu. lagi lagi dadanya sesak, hatinya bagaikan dicabik cabik mengingat semua kejadian demi kejadian.
__ADS_1
kembali ia menangisi nasibnya yang tak berharga di mata siapapun kecuali Max, mungkin.
"Max jangan pernah meninggalkan ku" ujar Anita sembari memeluk Max dari samping dengan suara serak akibat menangis
Max yang di peluk bergeming tak membalas pelukan Anita, ia hanya memutar bola malas melihat tingkah manja Anita
"sudah ayok kita turun" katanya merangkul pundak Anita meski terpaksa sebab Anita tidak mau melepas pelukannya.
setelah menempuh beberapa jam perjalanan dengan mobil tibalah mereka di depan sebuah rumah mewah yang dari depan tampak puluhan pria berjas hitam penjaga rumah.
"Turun! " perintah Max saat melihat Anita masih sibuk menganalisa kondisi rumah yang akan di tempatinya di Madrid
Anita menurut, ia keluar dari mobil saat salah satu penjaga membukakan pintu untuknya
puluhan pria berjas hitam itu mendekat dan memberi hormat kepada tuan mereka
"selamat datang kembali tuan!!" serempak dan membungkukkan badan tanda hormat
Max hanya mengangguk dan meraih tangan Anita menuntunnya masuk kedalam rumah
Seminggu sudah Anita tinggal di Madrid, ia mulai merasa kesepian karna Max jarang berada di rumah dengan alasan pekerjaannya yang sangat banyak dan penting.
Selama di Madrid pertemuannya dengan Max hanya pada saat ia baru datang ke rumah ini setelahnya Max tidak pernah lagi muncul menemuinya. Kabar pun hanya sekedar melalui chattingan karna Max tidak bisa berbicara lewat telpon karna alasan pekerjaan. Pesan Anita hanya dibalas sesekali padahal Anita setiap jam mengirim kabar padanya.
"Kamu kapan pulang? "
"Bisakah aku mengunjungimu? "
"Max, jangan lupa makan yah"
"aku merindukan mu Max"
Pesan Anita tak kunjung mendapat balasan padahal sudah ceklis biru. Anita tidak bisa berbuat banyak selain menunggu Max pulang.
Sedangkan di Mansion Max
"wanita itu menunggumu, pulanglah" sahut seorang wanita di depan Max
Max yang sedang membaca pesan masuk dari Anita segera mematikan ponselnya mendengar perkataan wanita paruh baya di depannya
Ia kembali melanjutkan makannya. Ia malas untuk menjawab perkataan wanita tersebut
"jadi?" tanya wanita itu yang tak lain adalah ibu dari Max
"gadis itu sungguh patuh bu. Tunggu sampai ia melakukan kesalahan baru game dimulai" Max menyeringai menatap sang ibu
"Hahahah" tawa ibu Max menggelegar "Apakah kau butuh bantuan ibu? sepertinya wanita itu patuh padamu karna takut akan dibuang seperti kedua orang tuanya membuangnya" lanjutnya masih dengan tertawa
Max mengendikan bahunya setuju dan juga ikut tertawa menantikan permainan di mulai
__ADS_1
"ibu akan selalu ada di belakangmu mendukungmu nak" kata Nasya, Ibu Max
Bersambung...