
seolah dewi keberuntungan membersamai, bangun-bangun Sacha mendapati pemandangan menyejukkan mata membuat rasa kesal bercokol di hatinya sejak semalam kini menguap dan menghilang. Semalam ia harus menahan kesal karna acara menenangkan diri harus berakhir atas kehadiran Max yang berhasil membuat moodnya langsung down dan memilih pulang ke Mansion
pagi ini Sacha mendapat angin segar melihat kemarahan Alexandre pada seseorang pria dewasa yang tempo hari begitu sombong dengan keyakinannya akan membeli perkebunan. dalam ketenangan Sacha menikmati tontonan menarik dimana sang papa tengah bersitegang dengan Max yang tak sadar telah mengantarkan diri ke dalam lubang kematian
"ternyata ini wajah Alexandre yang sebenarnya? tak seperti yang dikata orang-orang diluar sana yang katanya sosoknya bijak dan tak emosian" cibir Max menghilangkan kesopanan dan mengabaikan pengusiran Alexandre
sedang darah dalam tubuh Alexandre sudah mendidih siap untuk menyaksikan operasi dadakan alias pengeksekusian.
"berhenti menatap saya seperti itu! anda pikir saya akan terintimidasi, tidak! sekarang duduk dan tanda tangani surat perjanjian penjualan perkebunan" perintah Max dengan suara meninggi. lelaki itu tak peduli jika statusnya sekarang dialah sebagai tamu di mansion orang. yang ia peduli bisa secepatnya melakukan transaksi pembelian
"ayo lah, saya akan membeli dua kali lipat dari harga seharusnya. anda mau apa? bahkan saya bisa membeli pulau ini jika anda mau sebagai ganti rugi perkebunan anda" ujar Max lagi ketika Alexandre tak melepaskan tatapan membunuh padanya
__ADS_1
"tidak. jangan menyuruh saya membuat perkebunan baru. saya sudah sangat tertarik pada perkebunan anda, jadi anda saja yang membuka perkebunan baru dengan lahan yang lebih luas. akan saya siapkan untuk anda" ujar Max memaknai tatapan Alexandre yang menyuruh dirinya membuka lahan baru tanpa mengusik perkebunannya. Max memang bisa membeli lahan yang lebih luas dari milik Alexandre tapi dia tidak mau memulai dari awal. ia inginkan perkebunan Alexandre yang sudah subur dengan tanah yang subur pula
'pongah sekali lelaki ini' batin Alexandre dengan seringai tipisnya, yang jika disaksikan para anggota Vangster, mereka akan lari terbirit-birit karna ketakutan. namun Max yang hanya tahu cerita luar akan sosok dermawan seorang Alexandre, menjadikan Max sombong dan mengintimidasi pria tua itu. yang lebih parahnya, ia berlaku demikian di kandang orang.
bahkan Max berani menggunakan cara licik demi pertemuan ini. Alexander mengizinkan Max menemuinya di rumah karena pembicaraan awal Max akan membeli hasil panen dengan puluhan ton namun setelah duduk berhadapan dengan Alexandre, Max malah ingin membeli perkebunan dengan caranya yang pemaksa. Alexandra merasa telah dibohongi tentu tak terima
"sebenarnya anak muda, saya tidak butuh uang anda sebagai pembayaran atas perkebunan saya" ujar Alexandre akhirnya dengan nadanya yang tak biasa. namun Max yang tak mengenali Alexandre salah mengartikan, ia pikir Alexandre setuju memberikan perkebunan dan ia akan membayar berapapun dan menggunakan apapun sesuai kemauan Alexandre asalkan perkebunan akan menjadi miliknya
"kalau begitu saya mau kedua kaki anda, bagaimana?"
"baik...APA?! jangan main-main anda sama saya! saya bisa meluluh lantahkan tempat tinggal dan perkebunan anda, tuan" ancam Max memancing gelak tawa Alexandre. tawa yang terdengar mengerikan di telinga Sacha yang tengah mengintip di balik tembok pemisah ruang tamu dan ruang keluarga
__ADS_1
"ternyata tak perlu mengotori tanganku untuk melihatnya lenyap dari kehidupan ini" batin Sacha bersorak
"anda yang jangan main-main dengan saya!" tekan Alexandre setelah meredakan tawa yang mengandung kehausan membunuh
"Si*lan! anda rupanya tak percaya kalau saya bisa melakukan apapun demi mencapai tujuan saya. baiklah saya akan tunjukan pada anda seberapa berkuasanya seorang Maxime Wardhana" Max segera meraih ponselnya dan menelpon seseorang. bukannya wajah ketakutan yang Max tangkap dari raut wajah Alexandre saat Max dengan lantang memerintahkan anak buahnya untuk datang dan menyerang, tapi malah wajah santai yang ia lihat di wajah tua itu
dibalik wajah keras Alexandre, sisi lain dirinya mengakui bahwa lawan bicaranya adalah sosok keras dan tak pantang menyerah. namun Max salah memilihnya sebagai lawan.
"saya ingin melihat sebesar apa pengaruh anda" gumam Alexandre dengan tenang, lebih tepatnya berusaha menutupi wajah aslinya dengan sikap santainya itu
"maka saat itu juga anda akan berlutut dan memohon pengampunan pada saya" ujar Max penuh keyakinan
__ADS_1
Bersambung...