
derap kaki melangkah dengan arogan mendekat membuat Anita yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung siap siaga. tanpa peduli bagaimana penampilannya, segera ia melompat dari kasur dan membuka pintu.. pagi ini ia bangun kesiangan, mungkin efek dari tangisnya yang baru berhenti saat pukul 4 dini hari
"M...Max" lirihnya mendapati tubuh tinggi tegap itu di depan pintu dengan posisi kaki menggantung di udara, sepertinya lelaki itu hendak menendang pintu kamarnya jika saja Anita tak cepat membukanya
"siap-siap sana" ujar Max dingin
"ma..mau kemana?"
"mulai lagi!!" suara Max yang naik satu oktaf membuat Anita mengangguk paham
aturan pertama, Anita memang hanya boleh menerima perintah tanpa bisa bertanya
"cepat. saya tunggu 5 menit di mobil" setelahnya, lelaki yang hanya berpakaian santai itu melenggang pergi dari sana
Anita yang sudah terbiasa diburu waktu perintah Max itu bergerak cepat. tak membutuhkan waktu lima menit ia sudah siap dan segera menyusul Max
"berhenti!" teriakan Anne yang duduk di sofa ruang tengah membuat Anita menoleh, namun hanya sekilas sebelum ia kembali mengayun langkahnya. sebab ia tahu Anne hanya akan mencari gara-gara agar ia terlambat menyusul Max. pikir Anita
"heh? lo nggak dengar apa kata gue" Anne segera beranjak dan secepat kilat menarik rambut Anita dari belakang
"Aaauuu"
"berani sekali lo pura-pura tidak dengar kata gue, hah!!" hardik Anne sembari menguatkan tarikannya
"lepasin, Max menungguku" ujar Anita dengan suara datarnya, tidak terdengar kesakitan sama sekali, mungkin sudah terbiasa merasakan sakit yang lebih parah dari hanya sekedar jambakan, atau mungkin karna tak mau terlihat lemah di hadapan istri kesayangan Max itu.
"gue nggak peduli" balas Anne dengan nada mengejek, setelahnya Anne menghentak kasar tubuh Anita hingga gadis muda itu terjengkang dan terpantuk di sudut sofa
bukannya meratapi kesakitan, Anita segera beranjak setelah menghela napas panjang. namun ketika melewati tubuh Anne, tubuhnya kembali terhuyung karna Anne menjulurkan kakinya
"wah udah bagus yah reflek tubuh keringmu, tidak sia-sia Max melatihmu" sambil bersedekap dada, Anne berujar dengan nada takjub yang mengandung ejekan
"sana cepat pergi, semoga saja, kamu balik hanya tinggal nama" setelah mengucapkan kalimat yang membuat Anita mematung, istri siri Max itu melenggang pergi menuju kamar utama dengan tergelak
sedang Anita di tempatnya merenung setelah memaknai ucapan istri siri Max itu
balik hanya tinggal nama?
__ADS_1
tinggal nama!
jadi waktu ini tiba juga? bahkan ia belum mematangkan rencana kaburnya dari belenggu Max, tapi ternyata Max bertindak lebih dulu untuk menyingkirkannya
ya, menyingkirkannya dari kehidupan lelaki itu atau bahkan dari dunia ini
pada akhirnya Anita hanya mampu tersenyum kecil, senyum yang menyiratkan kekalahan. ia berusaha menyembunyikan tangis dalam diamnya pada kenyataan.
"pas!" satu kata yang Max serukan saat melihatnya muncul dari pintu, lelaki itu menatap jamnya kembali lalu memasuki mobil
"cepat masuk!!"
"di depan" titah Max ketika Anita membuka pintu mobil bagian belakang. wanita muda itu pikir Max tak mungkin sudi berdekatan dengannya
"apa yang mau kamu lakuin?" tanya Anita waspada ketika melihat Max mengambil kain dan mendekatkan ke wajahnya tepat ketika Anita sudah menduduki kursi penumpang depan
"diam saja" ujar Max dengan nada dingin lalu melilitkan kain hitam di kepala Anita, menutup penglihatan wanita itu.
"M.. Max. ka.. kamu ingin membunuhku?" meski sudah menerka, tapi Anita tetap melontarkan tanya
"iya" jawab Max seperti terdengar ogah-ogahan. mungkin ogah membalas jawab pertanyaan Anita untuk terakhir kalinya. pikir wanita muda berpakaian celana panjang dan kaos panjang itu. meski dengan pakaian tertutup sekalipun, tapi bekas luka di tubuhnya tidak mampu tersembunyi. lihat saja wajahnya yang masih terdapat beberapa memar biru.
_ _ _ _ _ _ _ _ _
dering ponsel membuyarkan atensi seorang pria dari pigura di tangannya. sebelum mengangkat telpon ia menghela napas panjang, sorot matanya begitu sendu
"bagaimana?"
"......"
"cari lagi! saya nggak mau tahu kalian harus berhasil menemukan mereka!" titahnya dengan nada tak puas. lalu mematikan panggilan sepihak karna berita yang ia tunggu tak sesuai harapannya
"kemana lelaki bangsat itu membawa putriku?" monolog tanya yang terlontar dari bibirnya sembari tangannya mengelus foto seorang gadis cantik disana
"kamu bahagiakan sama pernikahanmu, sayang?"
tok tok
__ADS_1
"mas?" ketukan di barengi panggilan dari sang istri membuat lelaki yang tak lain adalah Pratama itu sontak membuka laci dan menyelipkan foto anak bungsunya di antara tumpukan berkas berharga lainnya
"masuk, sayang" seru Pratama mempersilahkan sang istri
"apa aku menganggu?"
"tidak sama sekali, ada apa?" jawab Pratama sembari mengulurkan tangan ke arah sang istri agar mendekat
"Aku mau balik jakarta besok, Mas mau ikut atau tidak, aku tetap mau balik" ujar Reni tanpa basa-basi, ia memilih berdiri sembari bersedekap dada alih-alih mendekat
menghela napas lelah, Pratama bangkit, mendekat lalu membawa sang istri ke dalam dekapan
"maafin mas kalau selama ini sikap mas buat kamu bersedih" ujar Pratama, ia tahu selama mereka tinggal di Bali, Angraini selalu bersedih alih-alih bahagia seperti yang ia harapkan. sejujurnya ia pun sama, hanya saja sisi egoisnya yang merasa harga dirinya di coreng oleh putri kesayangannya masih memenuhi hatinya
"aku kangen Nita, mas" lirih Angraini membalas pelukan suaminya
"iya"
"aku mau pulang"
"baiklah, besok kita pulang" putus Pratama
"mas serius?" Angraini mendorong Pratama untuk melihat keseriusan ayah dari anak-anaknya itu
"iya"
"makasih mas"
"sama-sama, sayang" Pratama membalas pelukan sang istri dengan senyuman tulusnya. jujur, ia juga tidak tahan lagi bermain kucing-kucingan, terlihat abai padahal ia juga terpukul. sudah sebulan terakhir ia selalu mencari tahu bagaimana kabar putrinya di Jakarta, namun naasnya kabar Anita seolah hilang di telan bumi
ya, setelah dua bulan terakhir didatangi mimpi kenangan bersama sang putri, Pratama akhirnya luluh dan meruntuhkan egonya. dan sebulan lalu saat mimpi aneh datang mengenai putrinya yang tampak pucat meminta pertolongan padanya, Pratama akhirnya mulai mencari tahu kabar Anita melalui kaki tangannya, namun berselang beberapa minggu, ia belum juga mendapatkan kabar keberadaan putri dan lelaki yang menikahi putrinya itu.
_ _ _ _ _ _ _ _ _
"ka.. kamu bawa aku kemana?" tanya Anita setelah Max membuka penutup matanya. dapat Anita lihat mobil mereka kini terhenti di sebuah bangunan mewah. di halaman, banyak lelaki bertubuh besar berpakaian serba hitam berjaga
"turun!" titah Max, mengabaikan pertanyaan Anita, setelahnya lelaki itu keluar mobil lalu berlalu tanpa menunggu Anita
__ADS_1
"bawa dia masuk" perintah Max pada salah satu preman yang langsung di indahkan
Bersambung...