
terpekur tak berdaya
Max terduduk diam dengan mata menatap lurus tanpa kedip, sebelah kakinya ia selonjorkan menyentuh lantai marmer yang dingin. sedang kaki lainnya menekuk menjadi sandaran sebelah tangannya, kedua netranya berpendar kosong, sedang punggungnya ia sandarkan di dinding guna menopang tubuh yang babak belur
sebuah fakta yang tak pernah ia duga-duga merongrong keyakinannya atas kepercayaan yang telah tertanam kuat untuk sang ibu.
ia mempercayai sang ibu. tapi melihat bagaimana keseriusan yang terpancar dari kedua bola mata Pratama yang belakangan menjadi fantasinya untuk membalaskan dendam atas penderitaan yang dialaminya selama 25 tahun hidup membuat keyakinannya terpecah berai tak terkendali
siapa yang benar atas cerita masalalu itu? karna jelas keduanya memiliki versi alur yang jauh berbeda. perumpamaan langit dan bumi.
jika Nasya dengan cerita kesakitannya akibat ditinggal oleh Pratama demi wanita lain kala sedang mengandung dirinya. cerita versi Pratama berbeda, lelaki itu memang mengenal Nasya tapi sebatas mengenal sebagai seorang wanita yang bermimpi terlalu tinggi hingga menghalalkan segala cara untuk menggapai mimpinya.
Nasya muda, gadis berusia 20 tahun yang Pratama tahu (sebatas tahu karna memang Pratama muda tak berniat mengenalnya lebih dekat) adalah anak panti lulusan SMA yang pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah orang kaya namun tergila-gila pada anak majikannya hingga beberapa kali menggoda sang anak majikan, yang tak lain adalah Pratama muda. Pratama tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan Nasya selain antara majikan dan pembantu.
Hingga suatu ketika, rekan kerja Pertama datang menghadiri jamuan saat Pratama dan keluarga mengadakan perayaan kecil di mansion mereka. pria yang bernama Dimas itu tertarik pada Nasya yang hari itu kedapatan sering curi-curi pandang ke arah meja Pratama dan rekan-rekannya saat mengantur makanan di meja jamuan, dan semua berawal dari situ.
di masalalu, Nasya seorang gadis yang mudah tergoda rayuan, hingga terjatuh pada gombalan receh Dimas yang buaya. hingga mereka menjalin hubungan, tapi mereka terlalu jauh dan melewati batas. dan ketika Dimas dijodohkan oleh keluarganya dengan kerabat mereka yang berprofesi sebagai model cantik, Dimas dengan mudah meninggalkan Nasya
setelah tak pernah mendapatkan kabar dari kekasihnya yang ternyata telah menikah, Nasya pun tak habis akal, ia kembali mendekati Pratama, selalu mengambil kesempatan untuk bisa merayu Pratama. tapi Pratama tak pernah mengubrisnya, bahkan Pratama tak segan-segan mengusir Nasya dari hadapannya.
dan usut punya usut, ternyata hubungan Nasya dengan Dimas tidak berhenti disitu, setelah hilang kabar selama tiga bulan, Dimas datang lagi dengan semua rayuan buayanya, hingga Nasya kembali menjalin hubungan dengan Dimas padahal Nasya tahu Dimas sudah menjadi suami dari seorang model cantik. perselingkuhan itu terus berlanjut hingga Nasya Hamil. namun kebenaran pepatah mengenai sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. istri rekan kerja Pratama akhirnya tahu, dan menyusun rencana untuk menyingkirkan Nasya dari kehidupan rumah tangganya. Jadi kecelakaan yang Nasya ceritakan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Pratama, apalagi mengenai Max yang terlahir dari benih Pratama semua omong kosong. Pratama tidak pernah tertarik dengan Nasya bagaimana pun Nasya berusaha mencari kesempatan. Bagi Pratama yang terlahir dari keluarga kaya raya nan terpandang, pantang baginya untuk tertarik dengan yang berstatus dibawahnya. Lagian untuk apa tertarik dengan Nasya yang kecantikannya tidak ada apa-apa nya di Banding Angraini, kekasih Pratama yang sudah dua tahun di pacarinya, seorang dokter pula.
__ADS_1
sedang Nasya hanya anak panti yang asal usul nya tidak jelas menjadi satu hal yang tidak bisa menjerat Pertama. Dia adalah lelaki yang sangat perfeksionis, baik dalam pekerjaan apalagi mengenai hubungan seriusnya dengan seorang wanita, tentu ia sangat selektif dalam memilih perempuan untuk melahirkan anak-anaknya.
"Argh" murka Max sembari meninju udara kala kembali teringat cerita Pratama beberapa saat lalu sebelum lelaki baya itu pergi. pergi meninggalkannya setelah melempar sebuah bukti di wajahnya. namun bukan wajahnya yang kesakitan namun jantungnya yang serasa di bogem mentah sehingga menimbulkan rasa penyesalan tiada tara
Max tidak mau percaya, namun sialnya, selebaran bukti deskripsi hasil tes DNA antara ia dan Pratama menjadi tamparan kuat baginya untuk percaya.
lima jam lalu, tanpa kata, Pratama menyeret tubuh tak berdayanya ke rumah sakit terkenal di ibu kota Madrid, rumah sakit besar bertaraf internasional. Max pikir lelaki baya itu bersudi hati untuk memberinya pengobatan setelah tubuhya di hajar habis-habisan oleh Pratama. namun setelah sampai, bukannya di beri pertolongan, malah darah serta rambutnya diambil untuk di tes bersama darah dan rambut Pratama.
sembari menunggu hasilnya, Max tak dibiarkan untuk melakukan perawatan, sebab Pratama mengambil kesempatan untuk menceritakan kisah masalalu.
hingga beberapa menit lalu, hasilnya keluar. baik secara darah maupun dari rambut, semua mengeluarkan deskripsi bahwa tidak ada kecocokan dna di antara ia dan Pratama.
lelaki itu bukan ayah biologisnya. pria itu benar jika Max salah membalas dendam
tidak. Max tidak boleh terprovokasi. ia harus menemui sang ibu, menanyakan kembali duduk permasalahannya dan mencocokkan cerita yang ia pegang saat ini.
dengan langkah gontai Max beranjak. ia berencana menuju mansion sang ibu untuk mendapatkan penjelasan. karna saat ini pikirannya rumit. bahkan ia menolak tawaran dokter dan suster untuk diberi perawatan.
saat ini bukan raganya yang sakit, tapi perasaannya. ia merasa ditipu. tapi rasa kecewa itu tak seberapa menggerogoti relung jiwanya, ada sebuah nama yang terlintas sedari tadi di pikirannya yang berhasil membuat setiap detak jantungnya merasakan sesak... sesak karna merasa bersalah telah tega menganiaya gadis yang tak ada sangkut-pautnya dengan penderitaannya selama ini.
Anita bukan adiknya! gadis yang ia nikahi untuk disiksa guna membalaskan dendam tidak harusnya mendapat perlakuan bejatnya.
__ADS_1
menghembuskan napas yang kian sesak meremas jantungnya, Max merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan masuk
sontak saja, langkah yang semula terayun lesu berubah lebar, bahkan ia berlari mengabaikan luka di betisnya yang kian membengkak membiru, begitu gesit menghindari beberapa orang di lobi, Max segera memasuki taxi yang baru saja menurunkan penumpangnya. setelah menyebut lokasi tujuan, taxi segera meluncur dan membawa mereka pergi dari rumah sakit
pergi menuju lokasi yang diberitahukan oleh salah satu orang kepercayaannya mengenai keberadaan gadis muda yang berani kabur darinya. bahkan rencana bertemu sang ibu hilang begitu saja.
entah apa yang akan Max lakukan pada gadis itu jika bertemu nanti, mungkinkah memberi hukuman atau mungkin membiarkannya hidup seperti awal mereka menikah, yang jelas Max saat ini ingin bertemu gadis itu sebelum Pratama.
ia harus membawa Anita bersamanya apapun yang terjadi!
namun ambisi itu harus sirna dalam sekejap ketika ditengah perjalanan ia mendapat laporan melalui sambungan telpon, mengabarkan bahwa lokasi yang ditempati Anita mengalami ledakan dahsyat. rumah makan yang Anita kunjungi meledak akibat bom yang belum diketahui motif dibalik aksi itu. bangunan luluh lantah dengan puluhan korban yang sudah tak berbentuk. pengunjung bahkan karyawan dipastikan tidak ada yang selamat.
itu artinya...
Anita?
tidak. Anita tidak boleh mati!
melempar ponsel ke sembarang arah, Max menarik si sopir untuk bertukar posisi. setelah berpindah ke kursi kemudi, ia menginjak gas hingga batas maksimal. persetan dengan umpatan para pengemudi lainnya bahkan pemilik taxi sendiri, Max harus segera tiba di lokasi untuk memastikan gadis muda itu baik-baik saja. Max menolak percaya jika Anita adalah korban di sana.
Anita harus tetap hidup!! teriak Max tanpa suara, sedang matanya tetap fokus dan jeli membelah jalanan
__ADS_1
Bersambung...