
tuk tuk tuk tuk
langkah kaki berbalut heels beradu dengan lantai menggema di lorong sebuah bangunan, langkah itu menuju sebuah ruangan. ketika pintu terbuka, wajah penuh amarah namun tak dapat mengurangi kadar kecantikan di umur yang kian baya itu berdecak kesal melihat seonggok tubuh manusia tergelatak bersimbah darah di lantai
"ck! gue disisakan mayat. gimana mau balas dendam" dumel Darlina kesal bukan main. padahal ia sudah bersabar menunggu gilirannya memberi pelajaran pada Max yang telah berani memberi luka pada wajah suami tercintanya, Alexandre beberapa hari yang lalu
"sudah tak ada yang bisa kita jual, dia sudah mati. lempar saja mayatnya ke Den" titah Darlina pada dua orang asisten bedah
Den adalah nama kandang hewan buas milik Vangster. semua jenis hewan buas ada disana.
"suruh papanya Sacha segera pulang ke Mansion sekarang" Dioego dan Festo, dua orang yang diberi titah itu menelan ludah dengan kasar
istri bosnya sedang mode marah, buktinya tak lagi menyebut Alexandre dengan kata 'suamiku' melainkan 'papanya Sacha', panggilan ketika Darlina sedang marah atau kecewa pada Alexandre
"baik, bu bos"
Darlina sekali lagi melempar tatapan berang pada mayat Max alih-alih kasihan, namun saat ia hendak berbalik untuk beranjak pergi dari sana langkahnya terhenti ketika matanya dengan jeli menangkap pergerakan kecil dari jari Max
sepersekian detik selanjutnya Max mengeluarkan batuk kecil dengan mulut berlumuran darah
seketika senyuman iblis terpatri di bibir Darlina yang memperlihatkan sedikit kerutan di sana
"bu bos, sepertinya dia masih hidup"
"bukan sepertinya, tapi dia memang memberikan saya kesempatan untuk membalas perbuatannya pada suamiku" ujar Darlina berbinar, binar penuh dengan aura membunuh
"saatnya kita operasi. satu orang tak berharga bisa menghasilkan uang ratusan euro dengan organ dalamnya" imbuh Dioego yang di angguki Darlina
__ADS_1
Darlina memposisikan diri di sisi brangkar, sedang dua orang asisten bedah membopong tubuh Max ke atas brangkar. sedari tadi mata Darlina tak lepas dari tubuh bagian bawah Max
"kedua kakinya patah" beritahu Festo menyadari arah tatapan orang penting nomor dua Vangster itu
"ck, si Alex benar-benar keterlaluan menyiksanya" ujar Darlina dengan raut sedih yang dibuat-buat
"bu bos mau memulai dari mana?"
"kita mulai dari usus dulu, kasihan kalau langsung jantung nanti tidak bisa merasakan rasanya ditinggal sama organ dalam yang sudah menemaninya selama dia hidup"
Dioego dan Festo sontak terkekeh, menyoraki ledekan Darlina juga mengejek nasib Max
Darlina memasang sarung tangan sembari menunggu Dioego menyusun alat tajam di hadapannya sedang Festo melepas baju Max
"m..ma..af" lirih Max dengan susah payah mengeluarkan suaranya, bahkan matanya tak lagi bisa terbuka
"a..pa se..be..sar i...tu ka...mu mem...benci ku?"
"oh tentu" jawab Darlina cepat
"ba..ik lah. la..ku..kan a..pa..pun. a..sal ka..mu me..maaf kan a..ku" Max pasrah jika harus mati di tangan Anita demi menebus kesalahannya pada istrinya itu
"diam lah. saya muak mendengar suara jelek mu. dan bersiap lah, keluarkan teriakan kesakitan merdu untuk saya, agar saya puas"
"bo..leh a..ku me..li..hat wa..jah ka..mu un..tuk ter..akhir ka..li?" tanya Max bersamaan dengan kelopak matanya yang perlahan terbuka
"A..ni..ta" panggil Max ke arah Darlina, seulas senyum tipis terpatri di wajah bonyoknya. netra Darlina dan Max bertemu dengan satu arah pandang lurus
__ADS_1
"ka..mu ca..ntik" puji Max dengan penglihatannya yang buram
"aku.. siap ma..ti di ta..ngan mu. bu..nuh a..ku. si..lah..kan ba..las per..buatan ku pa..damu di ma..sa..lalu"
setelah mengucapkan kalimat terakhirnya dengan susah payah, wajah Max berangsur tenang meski dadanya semakin kembang kempis akibat jantungnya tak lagi bisa memproses darah dengan baik. berbeda dengan reaksi Darlina yang melangkah mundur dengan mata membulat sempurna.
"bu bos baik-baik saja?" tanya Festo
"dia...dia sebenarnya iblis seperti apa?" tanya Darlina dengan suara tercekat
jika tadi ia penuh tekad ingin mencincang tubuh Max namun melihat bola mata Max membuat wanita berumur 50 tahunan itu seperti orang kehilangan keyakinan dalam sepersekian detik
mata itu mengingatkannya pada seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya
"tidak mungkin. dia tidak mungkin" Darlina menggeleng untuk menghilangkan dugaannya
lalu matanya cepat memindai tubuh bagian atas Max yang sudah tak di selimuti kain apapun.
"bu bos mau ngapain?" tanya Festo dan Dioego bersamaan dengan pekikan tertahan
Darlina tak peduli, ia tetap menyingkap celana Max
"astagaaa!!" Darlina terpukul mundur dengan apa yang ia dapatkan di balik pinggang bawah bagian kanan Max
"panggilkan dokter terbaik sekarang!!" pekiknya dengan suara tercekat dan tubuh yang gemetar
"apa yang telah kami lakukan padanya?" monolog Darlina dengan lelehan air mata
__ADS_1
Bersambung...