DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
pada akhirnya-End


__ADS_3

sudah sejam lamanya tubuh gadis itu di paksa untuk bertahan oleh tangan-tangan ahli para dokter, sementara di luar ruangan, Mereka semua ketakutan dalam penantian, doa terus menggema di hati masing-masing agar pengharapan mereka bersambut baik, mendapat kabar baik dari dokter akan keadaan gadis malang yang mencoba menyerah berjuang melawan trauma dengan mengiris nadinya


bunyi pintu ruangan mengalihkan perhatian mereka dari rasa duka penuh penyesalan. semua langsung menghadap dokter


"bagaimana keadaan putri saya?"


"bagaimana keadaan putri kami?"


"bagaimana keadaan adik saya?"


"bagaimana keadaan istri saya?"


suara itu saling berbarengan membuat wajah dokter semakin keruh


"maaf..."


"saya tidak butuh maaf dokter!" itu suara Max yang melengking membuat Pratama dan Aqram menoleh kearahnya dengan tatapan tajam, sedang Darlina menggeser sedikit tubuh Max untuk melindungi putranya dari tatapan maut mereka


"pasien kehilangan banyak darah. waktu kejadian diperkirakan jam 3 dini hari, dan pasien baru mendapatkan penanganan jam 6 pagi. darah yang tuan Max donorkan di tolak oleh tubuh pasien, begitu juga dengan darah dari tuan Pratama karna memang pasien sudah menyerah sebelum kantong darah tuan Pratama di masukan ke tubuhnya"

__ADS_1


Anita baru ditemukan oleh Max ketika lelaki itu lelah menunggu Anita keluar dari kamarnya. biasanya Anita akan keluar jam setengah enam pagi untuk melakukan kegiatan rutinnya (lari pagi) namun hingga jam enam tak ada tanda-tanda gadis itu akan keluar sehingga Max dengan sedikit keberanian mengetuk pintu, takut kalau langsung masuk dianggap kurang ajar dan semakin menumbuhkan benci di hati sang wanita. semalam Max memilih menjaga Anita di luar pintu kamar, ia rela tidur dengan posisi duduk selonjoran di lantai dingin, berharap dengan aksinya itu dapat menemani Anita yang merasa sendiri di dalam sana. ketika tak ada sahutan dari dalam kamar, Max memberanikan diri membuka perlahan pintu kamar, mengintip sebentar dan matanya langsung membulat melihat cairan merah mengenang di lantai, pintu kamar kemudian di buka lebar bersamaan suara teriakan Max memanggil nama Anita. Max langsung mengangkat tubuh lunglai Anita dan berlari menuruni tangga, Max tak merasakan sakit apapun pada kaki ataupun tangannya akibat rasa takut yang menderanya lebih mendominasi


penjelasan Dokter membuat Max memegang kepalanya yang berdenyut sakit. kenapa? kenapa seperti ini.


"ma-maksud dokter?"


"pukul 06.23 pagi, pasien dinyatakan meninggal dunia"


tidak! tidak mungkin!


jantung mereka seperti lepas dari posisinya


"kamu janji akan mengabari saya kalau Anita ketemu!" Geram Pratama sembari mencengkeram kuat kerah baju Max


"maaf.."


"saya muak mendengar maaf kamu, Max!" satu tinju mendarat di wajah Max, kali ini pasangan Dior hanya bisa terdiam, selain memahami kemarahan Pertama mereka juga terpukul atas kepergian anak gadis mereka


"jika saja kamu langsung memberitahu saya keberadaan Anita jauh-jauh hari saya bisa langsung menjemput putri saya dan pasti putri saya masih hidup saat ini"

__ADS_1


Max tertohok, benar kata Pratama, jika saja ia mengatakan kebenarannya kalau orang tua kandung Anita masih mencari gadis itu mungkin Anita tak memilih mengakhiri hidupnya karna merasa tak ada yang berada di pihak gadis itu. namun karna keegoisannya yang ingin mendapat maaf dan simpati sang wanita dengan cara liciknya yang terus berpura-pura masih lumpuh mengantarkan Anita pada titik lelahnya.


kenapa bukan kau saja yang mati, Max! rutuk Max pada dirinya


Max tahu alasan Anita menangis setelah pulang dari acara jamuan setelah mengintrogasi pengawal gadis itu. "nona terlihat tak nyaman setelah berbincang dengan pebisnis asal Indonesia" beritahu Bartoli. Max yang curiga langsung mencari gambar keluarga Pratama dan kedua pengawal Anita mengangguk membenarkan. dari sanalah Max tahu keberadaan Pratama dan langsung menghubungi Pratama tadi pagi setelah Anita dimasukan di ruang igd


"lihat, kamu berhasil merebut putri saya untuk kedua kalinya! kamu pembunuh! kamu brengsek!!"


"pa cukup pa, kita harus menemui putri kita pa" Pratama yang hampir melayangkan kembali tinjunya berhenti ketika mendengar suara lirih istrinya, ia menoleh dan mendapati istrinya terduduk lemas di lantai dengan tatapan kosong, di sampingnya ada Aqram yang berusaha menguatkan mamanya meski jiwa anak lelaki Pratama itu tak kalah terguncang. tubuh Max langsung terhuyung dan terjatuh ke lantai ketika Pratama menghempaskan pegangannya lalu meraih istrinya. Alexandre dengan cepat membantu putranya untuk berdiri


tidak lama setelahnya beberapa dokter dan perawat keluar mendorong brangkar yang berisikan mayat Anita. sontak paduan suara dengan irama memilukan menggema di lorong rumah sakit.


wajah cantik itu terlihat begitu damai seolah mengejek mereka semua. Gadis itu memilih menyerah. menghukum orang-orang dengan penyesalan paling menyakitkan. Anita terlihat bahagia meninggalkan orang-orang yang tengah berjuang mendapatkan maafnya. gadis itu memilih bahagia sendiri setelah meninggalkan kehidupan suramnya yang penuh penderitaan. kini ia bisa terbang jauh dan terbebas dari belenggu dendam tak bertuan yang Max ciptakan


Tamat


yuhuuuu.... akhirnya setelah 3 tahun story ini bisa sampai ending juga, setelah beberapa kali hiatus, dan alurnya yang sering berganti.


maaf atas ketidaksempurnaan cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2