DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Darah Cocok


__ADS_3

Bola mata berwarna hitam pekat itu bergerak memindai ruangan, ruangan serba putih beraroma desinfektan yang menyengat indra penciuman, sontak pemilik tubuh itu langsung beranjak duduk setelah tersadar jika dirinya tengah berada di atas ranjang pesakitan di dalam salah satu ruangan donor darah.


oh ****!!!


"pelan-pelan tuan, jarum infus darahnya bisa terlepas" peringat perawat yang duduk di dekat brangkar Max


apa yang terjadi?


dan pertanyaan dalam benaknya itu terjawab saat Max mengangkat lengannya.


darahnya tengah ditransfer keluar melalui selang kecil... tunggu, penglihatannya kembali kabur hanya karna melihat pergerakan cairan berwarna merah yang nampak samar mengalir keluar dari lengannya


"sebaiknya tuan kembali berbaring dan jangan melihat selang darahnya kalau itu membuat tuan ketakutan"


"lepas ini, sus" ujar Max datar sembari membuang pandangan


"sedikit lagi tuan, kantongnya belum penuh"


"berapa banyak lagi?"


"sekitar 170 cc, tuan"


"kenapa masih banyak! kalau darah saya habis bagaimana?" tanya Max kesal, perasaan dia sudah berbaring cukup lama


"tidak tuan, darah anda sehat dan sangat layak. hanya anda satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan nona Anita saat ini. sebaiknya tuan tiduran lagi kalau tuan merasa pusing"


menolong nyawa Anita dan dia yang harus menanggung sakit? demi apapun tadi dia tidak tertidur tapi pingsan!! dia kehilangan kesadaran karna di dera rasa takut dan berakibat ia kehilangan kesadaran di tengah berbaringnya


author "lelaki lemah! donor darah aja ketakutan gimana kalau ngerasain jadi Anita?"


"saya tidak peduli. lepas ini sekarang juga!" titah Max dengan nada dinginnya.


"jika tak bisa menjadi manfaat bagi banyak orang setidaknya bisa bermanfaat untuk satu jiwa yang membutuhkan pertolongan. terlebih anda adalah satu-satunya wali dari pasien" ujar suster memancing Max menoleh ke arahnya dengan pandangan tak suka "apa anda tega melihat nyawa nona Anita tak tertolong karna darah yang anda donorkan kurang?" lanjut suster wanita yang sebaya dengan ibu Max itu, balas menatap Max namun tatapan yang diberikan begitu teduh


oke, demi kemanusiaan!


"ck. bikin susah saja" dumel Max lalu berbaring pelan

__ADS_1


autor "yang bikin susah itu kamu vangkek"


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _


"kenapa dia tidak sadar juga, dok? apa dua kantong darah saya nggak cukup untuknya?" tanya Max ketika dokter selesai memeriksa perkembangan Anita yang masih damai dalam dunia gelap gulitanya


"transfusi darah yang tuan sumbangkan sangat membantu perkembangan kondisi pasien, mohon tuan bersabar menunggu...?"


"ist... adik saya" koreksi Max memberitahu


"....adik tuan untuk sadar sebab pasien sudah melewati masa kritis" jelas dokter dengan nada sabarnya


"apa dia beneran belum sadar dok? dia tidak sedang ekting kan? jelas tadi saya melihat jari telunjuknya bergerak sebelum saya memanggil dokter kemari"


Dokter tersenyum geli mendengar tuduhan-tuduhan wali dari pasiennya itu


"tuan kok terdengar nggak percaya gitu sama adik sendiri"


"eh nggak gitu.. saya... saya hanya tidak sabar menunggu adik saya bangun, kasihan dia sudah lama terbaring koma di sini. iya, saya kasihan sama dia" Max berujar dengan nada riuhnya


"baik-baik, saya percaya sama tuan. oh iya, pesan saya selagi saya mengingatnya, tolong setelah adik anda terbangun tolong lebih perhatian sama dia, lakukan pendekatan agar adik anda tak merasa kesepian. juga... saya menemukan di tubuh adik anda ini banyak bekas luka mengerikan. apa anda tahu penyebabnya?"


seketika tenggorokan Max tercekat


ini adalah salah satu alasan kenapa ia tidak mau membawa Anita ke rumah sakit jika sedang sakit. ia takut diinterogasi mengenai kekerasan yang dialami Anita yang diakibatkan oleh perbuatannya.


"ti...tidak dok. saya baru bertemu dengannya beberapa hari ini, dan kondisinya sudah seburuk itu" dusta Max yang dipercaya saja oleh sang dokter


"saran saya, tolong setelah ini adiknya di jaga ketat ya, tuan. jangan sampai kembali mengalami kekerasan. usia muda sangat rentan memendam trauma dan mengakibatkan perkembangan berpikirnya jadi tak stabil" jelas dokter sembari memberikan senyum hangatnya "dikhawatirkan dia tumbuh jadi pendendam di kemudian hari" lanjut dokter, setelahnya berpamitan keluar, meninggalkan Max yang mematung di tempatnya


"mungkinkah kelak Anita akan membenci dan balas dendam atas apa yang aku lakukan padanya saat ini?" monolog Max bertanya pada dirinya sendiri


ah, bodoh amatlah. Max tidak akan terpengaruh seberapa dendam dan sebenci apa Anita padanya kelak, karna setelah Max melumpuhkan Pratama, Max tidak akan dan tak akan sudi lagi berurusan sama adik tirinya tersebut. tujuannya saat ini hanya ingin menghancurkan Pratama melalui Anita. pikir Max final


_ _ _ _ _ _ _ _ _


Max memindai tubuh lemah Anita yang tak kunjung ada pertanda akan bangun dari tidur panjangnya. jujur ia lelah harus berjaga di rumah sakit, bahkan ia jarang pulang membuat istrinya yang berada di rumah merajuk, seperti sekarang ini, ia hanya bisa berhubungan melalui panggilan telpon dengan Anne sebab Max melarang Anne untuk berkunjung ke rumah sakit.

__ADS_1


"aku tidak melupakan mu sayang, bahkan aku sangat rindu padamu, pada tubuhmu, desahanmu, tapi aku tidak bisa meninggalkan putri Pratama ini begitu saja.." rayuan Max terpotong ketika suara Anne menyelanya dari seberang telpon


"....."


"bukan gitu Anne istriku yang cantik jelita. aku tidak sepeduli itu kalau tidak dalam situasi terancam gini. aku kan udah kasih tahu kamu beberapa hari lalu kalau Pratama mulai keluar kandang mencari putrinya ini" Max berujar sembari menggeser kursi untuk dirinya duduki disebelah brangkar Anita. sebelah tangannya memegang ponsel yang menempel di telinganya, satunya lagi tengah menoel-noel lengan pucat Anita.


"woi..woi bangun" bisiknya yang terabaikan. bagaimana tidak? orang yang dicolek masih koma kok.


"...."


Max sontak menjauhkan ponsel dari telinganya kala suara tinggi dari seberang telpon seolah meledakan indra pendengarnya


"dengar sayang... aku dengar kamu kok. tadi itu aku menguap karna ngantuk banget" ujar Max beralasan namun tangannya masih nakal, kini berpindah menoel-noel dagu Anita berharap si empu merespon dan segera bangun


"....."


"aku nggak ada bosannya bicara sama kamu sayangku, tapi aku beneran ngantuk, sumpah"


"....."


"makasih udah mengerti. yaudah aku tutup ya, aku mau tidur, aku janji setelah Anita bangun aku langsung membawanya pulang. kita bisa menghabiskan waktu sepuasnya berdua, hanya berdua di kamar"


"....."


"iya sayang, aku janji. yaudah dadah. umuah umuah" Max menutup telpon dengan memperagakan mulut monyong-monyong ke layar


"a...a....aaauus"


"eh kaget!!" pekik Max mendengar suara bisik dan menemukan kedua kelopak mata yang dua minggu terakhir terpejam kini terbuka. saking kagetnya bahkan ia tak sadar ponselnya terlempar entah kemana


"a...aaaus. num"


"hah? ngomong apa lo?" tanya Max sembari mendekatkan telinganya


Anita melirik ke arah nakas yang dimana ada air mineral di sana.


dengan tenaga yang tak seberapa ia berusaha menggerakkan tangannya, lalu terulur ke arah nakas, berusaha mengambil air minum sendiri karna ia tahu dan tak lupa jika lelaki yang ada bersamanya tidak akan dan tak sudi membantunya.

__ADS_1


meski kehilangan kesadaran selama belasan hari, tapi mengenai Max, perilaku dan semua kenangan menyakitkan bersama pria itu entah mengapa langsung hadir dalam benaknya begitu ia mendapati wajah Max di depan wajahnya.


Bersambung...


__ADS_2