DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Sebuah Kisah


__ADS_3

gemetar, tubuh Max dilanda rasa takut sekaligus cemas, meski kesusahan, ia melajukan mobilnya dan tetap memangku Anita agar gadis itu tetap aman, sebab ia menggunakan mobil pribadi. akan memakan waktu lama jika mereka harus menunggu mobil ambulance datang.


"jangan m4ti" bisiknya penuh permohonan, tangan kanannya tak lepas memegang kepala Anita agar tetap aman sedang tangan kirinya ia gunakan mengendalikan kemudi


"jangan"


rapal Max berulang kali nampak wajahnya tengah menunjukan bahwa ia di dera rasa panik, namun berselang beberapa detik tiba-tiba ia terdiam, pandangannya kosong ketika jeritan seseorang merasuki memorinya.


"jangan nyerah sampai disini" bisik Max lagi setelah tersadar


"kamu harus bertahan"


"jangan m4ti dulu sebelum Si brengsek Pratama menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bagaimana keadaanmu yang mengenaskan" bisik Max di telinga Anita bersamaan raut wajah itu berubah, senyum licik tercetak di bibirnya. jeritan sang ibu sungguh membuat dendamnya selalu membara pada gadis keturunan Pratama itu terlebih pada Pratama sendiri.


"dia harus melihat kamu... setidaknya di detik-detik terakhirmu agar dia semakin bersalah dan menjadi gila. dengan begitu, aku bisa membvnuhnya dengan tanganku sendiri untuk membalas dendam ibu dan aku. dia tidak layak hidup bahagia setelah membuat aku dan ibuku terlantar di negeri orang"


____________________


seorang anak lelaki berumur sekitar 7 tahun tengah menangis tersedu-sedu sendirian dengan kedua tangan memegang alat pembersih. ini sudah kamar mandi ketiga yang ia bersihkan, seorang diri, dengan tenaga kecilnya. tangan mungilnya yang kasar menyikat lantai yang berbau menyengat. bukan, bukan itu yang membuatnya menangis, tapi karna ia harus melaksanakan pekerjaan ini dimana semua teman-teman lainnya pada bersenang-senang berpesta di aula. padahal hukuman ini tidak harusnya ia terima lantaran ia tak melakukan kesalahan atau pelanggaran apapun.


namun karna ada salah satu temannya yang jail sehingga ia tertuduh mencuri sisa uang belanjaan ibu pengurus yang ada di kantong belanjaan.


tak sampai disitu ia juga ketahuan menyimpan beberapa bungkus Indomie dan roti di bawah tumpukan pakaiannya yang tak seberapa di sebuah karton bekas. bukan, bukan dia yang mencuri persediaan makanan itu tapi entah bagaimana barang bukti itu ada di karton pakaian lusuh miliknya.


jadilah ia di hukum di kurangi jatah makan juga harus membersihkan kamar mandi selama satu bulan penuh yang berjumlah 4 kamar. satu untuk para tamu atau biasa mereka sebut donatur, satu untuk anak--anak penghuni panti dan dua untuk pengurus.

__ADS_1


ya, dia adalah anak berusia 7 tahun yang hidup di bawah naungan panti asuhan karna tak memiliki orang tua, atau mungkin punya tapi kedua orangtuanya tak menginginkannya sehingga ia dibuang dan harus hidup di tempat pas-pasan bahkan sering kekurangan itu.


entah sejak kapan ia disana yang jelas sepanjang ia mengingat, ia sudah tumbuh di panti asuhan yang berada di salah satu daerah kecil yang ada ibu kota Jakarta itu.


"heh Bekti" tangan kecil yang masih menggosok kloset berkarat menggunakan sikat besar itu spontan berhenti bersamaan dengan kepalanya mendongak guna melihat pemilik suara yang memanggil namanya


"minggir, aku mau kenc*ng" suruh anak lelaki yang berkisar berusia 3 tahun diatas Bekti itu


"aku lagi membersihkan. lagian ini toilet untuk ibu pengurus, kak Awan tidak boleh menggunakannya" beritahu Bekti pada anak lelaki yang bernama lengkap Marwan itu


"bodo amat. ibu panti tidak melihat" balas Marwan sembari melangkah masuk.


memang para anak-anak maupun pengurus sedang sibuk di aula karna ada perayaan kecil-kecilan dari salah satu donatur


"minggir... atau aku kenc*ngin" perintah Marvan sembari tangannya menarik resleting celananya


"Arghhh"


Tubuh jangkung Max tersentak saat seseorang menepuk-nepuk pipinya. seketika ia menegang ketika merasa ada yang mengalir membasahi kepala hingga dahinya


"hei, kamu kenapa?"


"An..Anne?" panggil Max memastikan keberadaan wanita cantik di hadapannya


"iya ini aku. kamu kenapa sampai keringat gini?" tanya Anne sembari mengelap dahi suaminya yang penuh bulir keringat

__ADS_1


bukannya menjawab pertanyaan istri sirinya tersebut, Max malah terdiam dengan pandangan kosong


"Max?!" panggil Anne yang kesekian, berhasil menarik Max dari lamunan


"sayang, ini dimana?" tanya Max terdengar seperti pertanyaan orang linglung


"menurutmu" balas Anne sembari mengendikan dagu ke arah brangkar dimana di sana seorang gadis muda tengah terbaring dengan berbagai alat bantu sumber kehidupan menancap di tubuhnya


seketika Max langsung tersadar setelah melihat istri sahnya di sana. wanita yang ia nikahi 7 bulan lalu karna sebuah misi balas dendam


"kamu kenapa ke rumah sakit, sayang?" tanya Max beralih menatap wanita pilihan hatinya, wanita yang selalu ada untuknya, menemaninya melewati masa sulit


"aku mau jemput kamu pulang. sudah satu minggu loh kamu disini, katanya benci tapi di jaga" dumel Anne sembari menunjukan sikap merajuknya, ia bersedekap dada dengan bibir di manyunkan bukti ia tak terima Max mengabaikan dirinya demi menjaga Anita yang lemah itu.


"sayang..." Max beranjak dari kursi guna membujuk sang istri, namun ucapan Max terpotong dengan kalimat panjang Anne yang berisi tuduhan-tuduhan


"atau kamu sudah bosan sama aku? kamu lebih memilih dia yang menjadi sumber deritamu sejak kecil dibandingkan aku yang selalu ada di sisimu baik suka dan duka? kamu lebih perhatian sama adik tiri mu dari pada aku istrimu? kamu tidak merindukan ku sementara aku mati-matian menahan rindu? menunggu suamiku pulang yang tak kunjung datang karna menjaga istri sekaligus adik tirinya yang hampir mati? kamu jahat Maxime!!" setelah melontarkan isi hati dan pikirannya, wanita yang selalu menghangatkan ranjang Max itu melangkah pergi dengan isak-an tangis yang mengiba, berharap Max mengejarnya dan benar saja, Max langsung mengejarnya keluar dari kamar rawat Anita


"sayang tunggu? dengar aku dulu" panggil Max berlalu menyusul


sementara itu, gadis muda yang divonis dehidrasi, kekurangan oksigen, cedera di berbagai organ tubuh serta komplikasi penyakit organ dalam sehingga membuatnya kehilangan kesadaran selama berhari-hari itu tengah meneteskan air mata sementara mata itu masih tertutup rapat.


sumber derita Max sejak kecil?


tidak, ia tidak mau menjadi sosok seperti tuduhan Anne itu. ia tak mau menjadi sumber derita siapapun, siapapun termasuk Max. toh ia tak pernah meminta untuk lahir sebagai Anita yang mana akan menjadi penyebab seseorang berjiwa iblis karna dendam.

__ADS_1


jika saja boleh meminta, ia tak ingin dilahirkan jika harus mendapati kebencian semua orang


Bersambung....


__ADS_2