DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Invitasi


__ADS_3

Audi R8 Spyder berwarna putih melesat membelah jalanan ibu kota Madrid siang hari yang begitu terik. mobil yang hanya memiliki dua kursi itu melaju begitu gesit menyalip di jalanan yang cukup ramai kendaraan itu. tampak mata si pengemudi begitu fokus menatap jalan sedang tangannya aktif memainkan kemudi, mengambil beberapa kesempatan untuk menyalip, mengabaikan aksi berbahayanya yang beberapa kali hampir menyenggol kendaraan lainnya, mengabaikan umpatan beberapa pemilik kendaraan, bahkan si pengemudi mengabaikan rambu-rambu jalan.


si pengemudi yang tak lain adalah Maxime Whardana itu sepertinya memiliki urusan yang begitu urgent sehingga membuatnya berkendara seperti pembalap mobil internasional.


raut wajah tampan itu terlihat tegang


drt drt drt


tanpa melihat si pemanggil, Max mengangkat panggilan itu melalui headset yang sedari tadi bertengger di telinganya


"hm?"


"Nak..."


"ibu. ada apa bu?" raut wajah tegangnya semakin tegang, tak menyangka sang ibu lah yang menelponnya


"kamu dimana nak?"


"Max di jalan, mau ke rumah" Max berusaha mengatur nafasnya agar tak membuat ibunya khawatir namun justru ia yang khawatir karena mendengar suara wanita yang melahirkannya itu terdengar seperti orang ketakutan. mungkinkah...


"kamu sama gadis itu?"


"tidak. Max hanya sendiri, Anita masih belum pulih dan kembali pingsan waktu Max paksa pulang setelah tersadar" ujar Max memberitahu


gadis lemah itu memang kembali tak sadarkan diri selepas Max menuturkan kejadian sebenarnya sehingga mereka terlibat pernikahan sedarah, yang dimana semua terjadi murni atas nama balas dendamnya pada Pratama


"kenapa kamu tidak membawanya pulang ke mansion ibu saja?"


Max terdiam, mencerna usulan sang ibu. kembali berfikir mengenai keamanan meninggalkan gadis itu di rumah sakit. tapi dia sudah menyewa beberapa premannya untuk berjaga di sana sehingga ia berani meninggalkan gadis itu karna kabar dari salah satu orang kepercayaannya kalau rumahnya tengah kedatangan tamu... tamu spesial


"****!"


"kenapa, Max?"


"tidak bu, Max hanya nyenggol kendaraan lain" ujar Max memberitahu, lalu ia menghela napas sebelum menjelaskan pada sang ibu keadaan dirinya beberapa menit lalu saat ia mendapat kabar mengenai tamu terhormat yang tengah berkunjung ke rumahnya sehingga ia memilih menitipkan sang sandera pada orang kepercayaannya "waktu Max pergi dia masih di tangani dokter, Max tidak mungkin membawa dia pergi dalam keadaan seperti itu. bisa-bisa dokter curiga sama Max"


"apa ibu ke rumah sakit? biar ibu yang membawanya"

__ADS_1


"tidak usah bu. jangan paksakan keadaan ibu. nanti Max akan menghubungi Jade agar membawa Anita pergi dari rumah sakit"


"ibu tak apa-apa? kenapa suara ibu terdengar lain?" Max melontarkan tanya saat mendengar helaan panjang di seberang telpon


"ibu...ibu..."


"katakan bu" tanya Max dengan nada kentara khawatir


"ibu minta maaf"


"ibu nggak salah apa-apa, kenapa minta maaf"


"sebenarnya... ibu..."


"sebenarnya ibu kenapa?" tanya Max mulai tak sabaran, karena Nasya begitu lama mengantungkan kalimatnya membuat Max penasaran, mana posisinya sedang mengemudi lagi.


"Pratama ada di Madrid"


"dari mana ibu tahu?" tanya Max dengan nada terkejut. bagaimana sang ibu bisa mengetahui kabar kedatangan pria tua itu padahal Max saja baru mengetahuinya beberapa menit lalu? Max bahkan memerintahkan anak buahnya untuk tidak memberitahukan sang ibu karna Max ingin memberi kejutan pada wanita tuanya itu dengan membawa tubuh Pratama untuk bersujud di kaki Nasya


"maaf, ibu tahu ibu salah. seharusnya ibu tidak ikut campur rencanamu"


"ibu... jangan bilang ibu..."


"ibu yang mengundang Pratama datang kemari"


"mengundang ke rumah Max, maksud ibu?" tanya Max memastikan. apa tujuan sang ibu yang terang-terangan mengundang Pratama ke rumah pribadinya, hunian yang sangat Max jaga privasinya?


"iya. tidak. jadi begini, tiga hari lalu kan kamu pernah bilang ke ibu kalau Pratama matia-matian mencari putrinya ke segala penjuru. ibu mau membantunya... dengan sedikit clue...tapi malah secepat ini dia menemukan keberadaan kita"


"sedikit clue yang bagaimana maksud ibu?"


"ibu mengirimkan potongan video cctv rumah kamu"


Chiiiiit!!!


sontak kendaraan kesayangan milik satu-satunya Max itu berhenti seketika saat si pengemudi menginjak rem tanpa perasaan. beruntung Max sudah memasuki area jalan menuju rumahnya sehingga tak ada kendaraan lain di belakangnya. jika tidak bisa jadi Max menemani Anita jadi pasien pesakitan di rumah sakit.

__ADS_1


"ibu... apa yang ibu lakukan?" tanya Max dengan ekspresi campur aduk. jika benar sang ibu melakukan hal itu, maka rencana yang sudah Max susun sedemikian apik tidak berarti sama sekali.


"ibu kasihan sama dia.. biarlah di cepat datang kemari, bertemu dengan Anita, kamu juga ibu"


Max memejamkan mata sembari memijat batang hidungnya, kenapa alasan sang ibu seperti tak berpikir rasional kalau menyangkut Pratama?


kemana sosok ibu yang menggebu-gebu ingin melihat dunia Pratama dan keluarga lelaki tua itu hancur secara perlahan di kala ia belum menikahi dan menjalankan aksi penyiksaan Anita?


"apa ibu mengharapkan dia kembali pada ibu?" tanya Max hati-hati. ia ingin memastikan langkah apa yang harus ia ambil dari jawaban sang ibu


"tidak. ibu sadar diri kalau ibu cacat"


"jadi tujuan kita hanya untuk membalaskan dendam karna dia telah menelantarkan dan membuang kita, kan?" tanya Max sekali lagi. ia butuh kekuatan untuk langkah selanjutnya.


jujur, dadanya sedang berdetak kencang, gugup, marah, benci, kecewa dirasanya saat akan menemui pria itu secara langsung di rumahnya sendiri.


"iya. ibu benci sama dia!" Max memejamkan matanya, pekikan sang ibu seakan mencederai indra pendengarnya


Max menghela napas panjang, ia mengetuk kemudi dengan jemarinya, berusaha menormalkan detak jantungnya sebelum melajukan kembali mobilnya. panggilan telepon dari sang ibu sudah diputus sepihak oleh wanita tuanya itu selepas pekikan terlontar. setelah meyakinkan diri bahwa yang ingin di ditemuinya bukanlah seorang manusia yang patut di hargai Max kembali menginjak gas untuk segera bertegur sapa dengan lelaki brengsek yang tega menelantarkannya sehingga ia harus tumbuh luntang-lantung di jalanan sebelum bertemu dengan sang ibu kandung beberapa tahun lalu.


seratus meter


lima puluh meter


sepuluh meter


dan kini mobil Max memasuki gerbang rumahnya


dapat ia lihat tamunya yang berada di pelataran rumah berbalik menatap mobilnya. Max menyunggingkan senyum sinis ketika lelaki paru baya yang nampak masih sangat segar itu bahkan berjalan menuju mobilnya yang baru saja terhenti di bawah pohon rindang depan rumah


lihat, tatapan tajam lelaki tua itu yang menghunus seolah hendak memusnahkan mobilnya membuat Max terkekeh. ia belum keluar, ia menikmati raut wajah marah dari mertua ehhh ayah biologisnya itu dibalik kaca film mobilnya


setelah puas, Max akhirnya keluar dari mobil. namun belum sempat ia menutup pintu kembali sebuah bogeman mentah menyapa pipinya, meninggalkan rasa panas nan remuk pada tulang pipinya


Bugh


sial!! wajah tampanku kena pukul. pakai tenaga dalam apa pria tua ini? pikir Max

__ADS_1


"mana putri saya, sialan!!" Hardik Pratama dengan kedua tangan mencengkeram kuat kerah baju Max


Bersambung...


__ADS_2