DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Kehilangan jejak


__ADS_3

Max masih menimbang, apakah ia harus menghubungi Anne? atau sang ibu? tapi ia tak mau melibatkan keduanya apalagi merepotkan kedua wanita itu dalam urusannya. tapi ..sepertinya hanya mereka berdua harapan Max saat ini


namun belum sempat Max mendial nomor Anne, nomor orang kepercayaannya menelpon.


"jemput saya sekarang!"


titahnya dengan nada dingin setelah ia menerima panggilan itu lalu memutus secara sepihak.


selang beberapa puluh menit menunggu, Mobil yang sangat Max kenali berhenti tepat di hadapannya.


"tuan? anda baik-baik saja? apa yang terjadi?" tanya si pria jangkung dengan mata membulat kaget, syok melihat penampilan Max


"bawa saya ke markas cepat!" titah Max mengabaikan pertanyaan orang kepercayaannya yang bernama Bartoli


"ba... baik tuan"


Max sempat melirik sekilas, terganggu dengan nada gugup itu. tapi ia mencoba abai, ia akan memastikan dulu keadaan Anita sebelum memberi hukuman kepada para bawahannya yang berani-berani mengabaikan panggilannya.


jujur Max ingin melampiaskan amarahnya, amarah karna diabaikan juga karna dipandang remeh oleh beberapa pengendara lainnya tadi. namun ia tahan agar segera bisa sampai di markas.


"cepat jalan, sialan!!" seru Max semakin kesal melihat Bartoli malah terdiam mematung di balik kemudi


"ada yang kamu sembunyikan?" suara Max mengudara disela-sela keheningan dalam mobil yang tengah melaju itu. sebuah tanya dengan nada intimidasi.


sedang Bartoli yang sedari tadi mengemudi dengan pikiran berkecamuk dan gelisah tersentak mendengar pertanyaan bosnya


"se.. sebenarnya..."


"katakan saja di markas, kita sebentar lagi sampai" potong Max. entah kenapa ia tak siap mendengar kabar buruk apapun mengenai... tawanannya...adik tirinya, Anita. ia ingin memastikan secara langsung.


dan berselang beberapa menit kemudian mereka sampai. perasaan Max yang tadinya tak tenang semakin gelisah ketika melihat para preman yang bekerja dengannya berbaris menyambut kedatangannya dengan kepala tertunduk


ada yang terjadi! pikir Max

__ADS_1


sebab para preman itu akan melakukan hal demikian jika melakukan kesalahan


Max segera turun dari mobil ketika salah satu dari mereka membukakan pintu


"mana dia?" tanya Max bersamaan kakinya menyentuh tanah


"maaf tuan..."


air muka Max seketika berubah masam, bukan kata maaf yang ia harapkan!


"KALIAN APAKAN ADIK SAYA, HAH!!" bentak Max sembari mencengkeram kerah baju salah satu dari mereka


"dia... dia.. kami kehilangan jejak, tuan. Anita kabur"


"Apa!!"


belasan pria berbadan kekar itu menoleh ke arah sumber suara, tak terkecuali Max. sontak bola mata Max membulat sempurna melihat siapa yang tengah bertamu di markasnya


_ _ _ _ _ _ _ _ _


"Anak sialan, tidak tau malu!"


"Mulai hari ini kau bukan lagi anakku. Kau bebas berbuat semau mu, bermain-main dan menjajakkan tubuh kotor mu itu"


"Papih, Anita akan jelasin pi"


"Jelasin? tidak perlu. saya. tidak. butuh"


"Saya jijik di sentuh gadis kotor sepertimu" bersamaan dengan kalimatnya, tangannya menepis kasar sosok gadis yang hendak menggapainya


"papi, Anita anak papi"


"dan saya menyesal punya anak sepertimu. Menjijikkan!"

__ADS_1


"Anita darah daging papi"


"Hah!!! Darah daging"


Sreekkk, Darah mengalir deras ke lantai setelah lengannya terkoyak dengan pisau buah


"Mulai detik ini aku haramkan diriku mengakui mu sebagai darah daging ku"


isakan pilu menggema, wajah remaja cantik di hadapannya menatap nanar berlinang air mata. mata bulat indahnya sembab membengkak.


wajah kuyu nan letih itu berpendar kosong, lalu perlahan menoleh ke arahnya, menatapnya lelah tanpa berniat mendekat padahal tangannya terulur untuk meraih gadis cantik itu. semakin ia menuntun tubuh mendekat, gadis itu semakin jauh. perlahan sosok gadis itu memudar, menjauh hingga menghilang dari pandangannya


"tidak, jangan, jangan pergi"


mata yang sebelumnya terpejam erat akibat kehilangan kesadaran sontak terbuka lebar. napasnya terengah bersama peluh bercampur darah menetes di pelipis.


"Anita?" panggil Pratama sembari menoleh ke segala arah namun alih-alih menemukan keberadaan sang putri, ia malah disadarkan kenyataan jika dirinya tengah terjebak di dalam mobil ringsek akibat kecelakaan


ternyata ia hanya mimpi. lebih tepatnya sebuah ingatan masalalu dimana dengan tega dan tak berperasaannya ia meninggalkan putrinya tanpa memberi kesempatan untuk berbicara. ingatan yang hadir melalui mimpi yang mampu mengoyak hatinya perlahan, begitu perih dan menyakitinya. bahkan luka yang ia dapatkan akibat kecelakaan dahsyat tak ada apa-apanya dibanding sakit akan penyesalannya kepada sang putri tercinta


"tunggu papi sayang, papi akan menjemput Nita dan membawa Nita pulang" monolog Pratama penuh tekad, lalu lelaki paru baya itu mengumpulkan semua tenaga yang tersisa untuk mencari jalan keluar dari ruang kecil yang terhimpit itu. meski badan terasa remuk, tubuh yang terlihat sekarat, tapi semangat untuk menemukan sang putri mengalahkan segala luka dan keadaannya. lelehan darah dari kepalanya ia tepis kasar sebelum ia melangkah menuju sumber bising kendaraan yang sesekali membunyikan klakson, itu berarti posisinya saat ini tak terlalu jauh dari jalan umum.


tubuhnya lelah, sudah puluhan langkah ia lalui dan membuat kepalanya kian pusing. ia berhenti sejenak untuk bersandar di sebuah pohon. namun manik hitamnya kembali berbinar kala menoleh dan mendapati bayangan jalanan, samar terlihat sesekali di lewati kendaraan


kembali semangat juangnya bertumbuh, segera ia merobek kausnya yang tersembunyi di dalam jaket kulit mahalnya itu lalu diikatkan di kepala guna mengahalau cairan merah yang tak henti menetes. menghembuskan napas panjang, mensugesti diri bahwa menemukan putrinya adalah tujuan utama hidupnya untuk saat ini. lalu lelaki berusia 47 tahun itu melanjutkan langkah ke arah jalan. berharap semoga ada diantara kendaraan yang lewat mau menolongnya.


ketika jalanan sudah terpampang nyata di hadapan mata, rahang Pratama mengetat, kedua tangannya mengepal kuat. melihat seseorang yang membersamainya dalam tragedi mobil terpental karna kesengajaan lelaki yang menjadi pusat titik netranya saat ini.


orang itu tampak di tuntun oleh seorang lelaki bertubuh kekar yang dibaluti pakaian serba hitam memasuki sebuah mobil van berwarna hitam.


seolah dewi keberuntungan membersamainya, mobil van itu tidak langsung melaju pergi, Pratama tanpa pikir panjang berlari, dan bersamaan ketika mobil perlahan bergerak Pratama sudah berada di belakang mobil dengan menguatkan pegangan tangannya di badan mobil dengan ke dua kaki bertumpu pada pijakan kaki bagian belakang mobil


jangan tanyakan bagaimana lelahnya ia harus menggantung diri di belakang mobil, namun demi menemukan keberadaan sang putri, Pratama memaksakan diri untuk kuat bertahan. bayangkan puluhan menit dalam keadaan habis kecelakaan parah ia bergelantungan dengan mengeluarkan semua tenaganya agar tak terjatuh. ia harus bertahan apapun yang terjadi.

__ADS_1


hingga tiba mereka memasuki sebuah lorong sempit, tembok tinggi menjulang mengapit jalan yang penuh coret-coretan absurd. dan Pratama yakin jika dirinya tengah memasuki kawasan berbahaya.


Bersambung....


__ADS_2