DENDAM TAK BERTUAN

DENDAM TAK BERTUAN
Donor Darah?


__ADS_3

nyatanya berduaan dengan Anne di rumah tak membuat Max melupakan sosok tubuh lemah yang tengah terbaring kaku di rumah sakit. kabar terakhir yang Max tahu dari laporan dokter bahwa gadis muda itu menitikkan air mata masih dengan keadaan mata tertutup rapat atau bisa dikatakan belum sadar, beberapa saat setelah Max menyusul Anne keluar kamar perawatan Anita


dan sampai saat ini belum ada kabar apapun lagi membuat Max tak bisa tinggal diam, entah rasa penasaran atau ada rasa lain yang membuat dirinya tak tenang berada jauh dari adik tirinya sekaligus istrinya itu.


"Max, kamu mau kemana?" sebuah tanya dari wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih berbalutkan jubah mandi menginterupsi langkah Max. tubuh jangkung Max yang berbalut pakaian rapi itu lalu menoleh ke arah sang wanita


"aku mau ke rumah sakit"


"lagi?" sarkas Anne dengan nada tak suka


"ya. dia perlu dijaga ketat. jangan sampai sadar disaat aku nggak ada dan dia memanfaatkan waktu untuk kabur" ujar Max apa-adanya


"dia itu wanita lemah dan bodoh, Max, tak mungkin bisa kabur dengan keadaan begitu" ujar Anne


"aku tahu, tapi aku hanya ingin memastikan. jangan sampai ia nekat bunuh diri. bisa batal rencana ibu sama aku" balas Max memberitahu kegelisahannya.


memang benar, Max takut Anita kabur, tapi lebih takut lagi kalau wanita itu sampai bunuh diri. entah dari mana pemikiran Max mengenai Anita berniat bunuh diri tapi Max benar-benar tak mau kalau Anita sampai berfikiran demikian. mengingat beberapa hari terakhir sebelum Anita sekarat, gadis muda itu hanya pasrah jika diberi hukuman, tak seperti biasanya yang memohon pengampunan dan belas kasihan darinya, sorot mata wanita itu sudah kosong layaknya frustasi berat dan tak ada gairah untuk bertahan hidup.


"ck, ayolah sayang. buat apa kamu punya puluhan orang bayaran kalau kamu tidak memanfaatkan mereka di situasi genting begini dan malah kamu yang mau terlibat langsung?" Anne mendekat, ia berharap Max tidak pergi kemana-mana lagi. ayolah mereka sudah berpisah selama satu minggu dan baru beberapa jam Max di rumah tapi suaminya itu sudah mau pergi lagi, mana perginya hanya untuk menjaga gadis lemah itu, rasanya Anne tak terima di abaikan karna alasan itu.


"Max, aku masih rindu" dan jurus andalan yang Anne keluarkan adalah bergelayut manja pada Max, membuat lelaki itu tak bisa berkutik dan membawa sang wanita ke dalam dekapan


"kamu bersabar sedikit lagi ya, setelah dendam ku terbalaskan waktuku 24 hanya untukmu" ujar Max lalu melepas pelukannya, ia berbalik pergi tanpa menoleh lagi sekeras apapun Anne berteriak memanggilnya


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Setibanya di depan ruang rawat Anita, Max bukannya masuk ia malah memilih duduk di kursi tunggu luar ruangan. pikirannya berkecamuk. ia didera kebingungan mengambil langkah apa setelah dokter mengatakan keadaan Anita.

__ADS_1


"keadaan pasien makin kritis, komplikasi penyakit organ dalam juga tekanan stres menyebabkan terjadinya infeksi parah sehingga pasien membutuhkan donor darah segera, namun karna rumah sakit ini masih tergolong kecil sehingga pemasukan donor darah kurang, kita jadi kehabisan persediaan kantong darah. sekiranya tuan bersedia mencari secara mandiri agar kami bisa segera menangani pasien untuk menyelamatkan nyawanya"


Max menghela napas panjang ketika sekelebat pesan dokter yang menangani Anita kembali terlintas dalan pikirannya.


ck! niat hati membawa Anita ke rumah sakit kecil agar tak terbebani oleh biaya perawatan mahal namun malah ia dibebani oleh masalah lainnya. tunggu... haruskah ia merasa terbebani? bukannya keadaan Anita yang sekarat adalah tujuannya menyiksa gadis muda itu? lalu ada apa dengan dirinya? kenapa ia bisa didera rasa tak tenang hanya karna kabar kritis seorang Anita yang notabenenya adalah anak dari lelaki yang mencampakannya dan sang ibu? pikir Max


tapi...apa Pratama akan mengemis memohon pengampunan padanya dan sang ibu jika ia membunuh putri kesayangan lelaki itu?


yang Max butuhkan adalah Pratama bersujud di kakinya meminta maaf dan pengakuan dari ayah biologisnya itu, bukan? kenapa ia malah melangkah terlalu jauh?


Arghhh


geram Max sembari mengacak rambutnya frustasi


haruskah Max, mendonorkan darahnya untuk Anita?


_ _ _ _ _ _ _ _


sementara di belahan bumi lain, sepasang pemilik mata tajam nan tegas itu kini meredup, ia dihantam rasa bersalah atas apa yang ia putuskan dalam keadaan emosi beberapa bulan lalu...


"Nona muda datang ke Mansion setelah beberapa menit kepergian Tuan dan Nyonya ke Bandara. nona muda datang untuk meminta pengampunan dan meminta restu tuan dan nyonya untuk pernikahan nona dan suaminya"


"nona muda begitu terpukul mendengar kepergian tuan dan nyonya tanpa memberitahu padanya. nona menangis sampai terduduk lemas di tanah"


"Bodoh kau Pratama!!" sebuah maki disertai kepalan tinju keras menghantam dinding, pelakunya tentu adalah pemilik nama itu sendiri Pratama.


lelaki paru baya itu mengurung diri di ruang kerjanya karna di dera rasa sesal, kecewa, marah dan sedih mengaduk jiwanya setelah salah satu penjaga mansion menceritakan kapan terakhir melihat putrinya, Anita.

__ADS_1


Anita, putri kecilnya yang sangat ia sayangi itu bahkan masih datang untuknya setelah ia menyumpah-serapahi. tak harusnya Pratama langsung berbalik pergi hanya karna satu kesalahan anak perempuan kesayangannya itu. bahkan ia meninggalkan putrinya tanpa sepeser uang pun!. meski perbuatan Anita fatal tapi dirinya tetaplah ayah kandung, bahkan seberapa banyak pun darah yang keluar dari pergelangan tangan demi memutuskan ikatan darah diantara ia dan darah dagingnya tidak akan pernah bisa menghapus fakta bahwa Anita lahir dari dirinya.


oh, putrinya, Anitanya yang ia cintai dari masih janin hingga besar pasti merasa bahwa benar-benar telah dibuang olehnya padahal ia hanya didera rasa kecewa atas fakta di hotel waktu itu


Pratama salah.


ya, ia sadar salah.


tapi sudah terlambat!


"Argh!!" Pratama sekali lagi melampiaskan amarahnya pada dinding bercat putih membuat punggung tangannya memerah bahkan berdarah


tidak, dia boleh saja terlambat tapi ia akan tetap mencari putrinya hingga ketemu dan kembali memberi putrinya kehidupan yang layak.


ia segera mencari ponsel dan mendial kontak orang kepercayaannya


"saya menginginkan tambahan orang untuk mencari putri saya di segala penjuru Indonesia...."


setelah meninggalkan tanpa perasaan kini ia mati-matian mencari... mencari buah hatinya yang entah berada dimana saat ini


"tidak... tambah orang sebanyak mungkin, jika perlu cari di segala penjuru dunia" sambung Pratama lalu memutuskan panggilan bersamaan dengan helaan napas berat


"Papa akan menemukanmu sayang, untuk kali ini papa yang akan meminta maaf. maafin papa karna lepas tangan begitu saja" lirihnya sembari menatap pigura besar keluarganya yang tergantung indah di dinding ruang kerjanya


Bersambung....


mohon bersabar... namanya novel yah pasti alurnya keluar sedikit demi sedikit ... karna kalau langsung tho the poin jatuhnya jadi cerpen dong.

__ADS_1


__ADS_2