
dan ketika mobil memasuki sebuah gerbang tinggi berkarat yang tak di jaga siapapun, Pratama melompat dan berguling ke arah batang pohon besar. untung saja tak ada yang menyadari pergerakannya.
ia lalu merogoh ponselnya, jarinya lalu bergerak di atas layar lalu kembali menyimpannya.
Pratama keluar dari persembunyiannya, bersamaan mobil berhenti di depan sana yang ternyata sudah banyak lelaki berbadan kekar berbaris menyambut kedatangan Max.
Pratama pindah bersembunyi di tempat lainnya agar bisa semakin mendekat, ia melakukannya beberapa kali hingga berakhir di belakang mobil van yang dikendarai Max tadi. dan ketika indra pendengarnya menangkap nama sang putri di sebut, Pratama tak tahan untuk tak menampakkan diri
"dia... dia.. kami kehilangan jejak, tuan. Anita kabur"
Anita?
Anita putrinya, bukan?
putrinya kabur?
dimana?
kemana?
"Apa?"
puluhan pasang mata sontak menoleh dan menjadikan Pratama pusat perhatian
"apa maksud kalian kalau putriku kabur?" seru Pratama sekali lagi dan berhasil membuat para lelaki bertubuh kekar itu siap siaga sedang Max masih berdiri mematung di tempatnya
__ADS_1
'bagaimana bisa si pria brengsek itu bisa berada disini? bukankah tadi masih sekarat saat ku tinggalkan?' batin Max bertanya-tanya
Pratama mengabaikan tatapan para Preman, kakinya maju dengan langkah pasti dan menyingkirkan tubuh beberapa preman yang menghalanginya maraih tubuh Max
"dimana putriku, brengsek!!" hardik Pratama dengan mata memerah marah, kedua tangannya berhasil mencengkeram kerah Max
Max tak melawan, namun kini ia terang-terangan menampilkan senyum licik di hadapan Pratama. sebelah tangan Max memberi isyarat agar para bawahannya tak ada yang bergerak. belum saatnya, ada hal yang ingin ia ungkapkan sebelum membuat Pratama menjemput kesakitan jiwa dan raganya
"kenapa mencarinya sampai seperti ini?" sebuah tanya yang meluncur dari mulut Max membuat Pratama mendaratkan tinjunya ke wajah Max
"saya tahu saya salah karna merelakannya untuk kamu. tapi sekarang saya datang untuk membawanya pergi dari lelaki iblis seperti mu!" hardik Pratama murka
"maksudku, kenapa hanya dia yang anda cari sampai seperti ini?" tanya Max dengan intonasi pelan namun terdengar dingin
"kenapa anda hanya mencari anak itu sedang anak anda yang lain anda buang begitu saja tanpa berniat mencari atau merasa menyesal seperti yang anda lakukan untuk Anita?" lanjut Max ketika Pratama menatapnya tak mengerti
"papa? cui!!" ulang Pratama dengan nada geli yang kentara lalu meludah ke samping sebelum melanjutkan kalimatnya "setelah apa yang kamu perbuat pada anak saya masih lancang kamu panggil saya dengan sebutan menggelikan itu? sampai kapanpun saya tidak sudi. saya tidak akan pernah menganggap kamu sebagai menantu..."
"AKU BUKAN MENANTU! AKU ANAK KANDUNGMU!!" pekik Max memotong ucapan Pratama.
entah teriakan menggelegar atau makna kalimat yang terlontar penuh emosi itu, yang jelas saat ini rahang Pratama turun saking terkejutnya
"Apa anda lupa atau pura-pura lupa kalau anda memiliki putra yang anda buang dua puluh lima tahun lalu?" Tanya Max berhasil membuat cengkraman Pratama mengendur
"Aku adalah anak itu. Anak yang terlahir dan tumbuh tanpa figur seorang ayah kandung karna ayahku memilih wanita lain dan bahagia dengan keluarga barunya sehingga aku dan ibuku dibuang dan dilupakan tanpa ada pertanggung-jawaban dari anda" imbuh Max kala hanya mendapati ekpresi tercengang dari lawan bicaranya, Pratama seolah kebingungan sekaligus terkejut atas semua pengakuannya
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?"
Max sekilas tercengang mendengar tanya itu, setelah menguasai diri ia terkekeh, lalu kemudian terbahak, merasa lucu mendengar tanya dari mulut Pertama yang terdengar khawatir. bukankah harusnya yang Pratama lakukan adalah memeluk atau mungkin bersujud memohon pengampunan atas pengabaian figur seorang ayah di hidupnya selama ini? tapi lihat, lelaki itu hanya melontarkan tanya yang jelas jawabannya adalah TIDAK.
"Aku akan baik-baik saja jikalau dendamku untuk menghancurkan keluarga anda berhasil! Dan sekarang ini saatnya, anda, istri dan anak-anak kesayangan anda akan menderita untuk menebus kebrengsekan anda terhadap wanita yang melahirkan saya, anda mencampakkan ibu saya ketika tengah mengandung demi wanita lain sehingga saya harus menerima penderitaan dari sejak dalam kandungan hingga besar seperti ini. saya hidup penuh cacian semua karna lelaki brengsek tak bertanggung jawab seperti anda" ujar Max dengan nada dingin penuh amarah. ia tak peduli dengan siapa ia bicara. tak butuh sopan santun maupun kata segan. toh Pratama tidak pernah berkontribusi dalam hidupnya selain sumbangan dna. pikir Max
Berbeda dengan raut wajah Max yang memerah akibat menahan diri untuk tak menyerang saat itu, Pratama malah menampilkan raut kasihan yang kentara
'si4lan! aku berurusan dengan pria kurang waras' batin Pratama sembari menghela napas lelah
"dengar, saya tidak tahu kamu mengarang cerita untuk hal apa, tapi ekpresi kamu ini sungguh seperti nyata. seperti seorang aktor saja. kamu sehat kan? maksud saya, kamu menceritakan kisah menyedihkan mu itu dan menyangkut pautkan saya ke dalamnya apakah kamu sadar?" tanya Pratama pada akhirnya. ia marah tapi juga kasihan jika saja memang benar lelaki yang telah sengaja mencelakainya beberapa saat lalu itu tengah gangguan kejiwaan sehingga tidak bisa membedakan kisah halu dan kisah nyata. bagaimana bisa ia dilibatkan dalam skenario cerita yang menurutnya menyediakan itu.
dan apa katanya tadi? mau membuat ia dan keluarganya hancur? emang apa salahnya pada pria itu? justru pria itulah yang ingin Pratama hancurkan karna menculik Anita. pikir Pratama dalam hati
Max mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengetat kala perkataan Pratama terdengar mengoloknya alih-alih merasa bersalah. bahkan Pratama menuduhnya tidak waras?
sekali brengsek tetap brengsek!
"dari perkataan anda barusan meyakinkan saya, sampai kapanpun saya tidak akan menyesal dan meminta maaf telah mencelakai anda hari ini. dan juga dengan apa yang telah saya lakukan pada putri kesayangan anda. apakah anda tahu, kalau selama ini putri anda menderita di bawah kuasa saya? saya siksa dia, lahir batinnya, saya rusak mentalnya, fisiknya sampai berdarah-darah, saya gampar, tendang, cekik..."
bugh
"Biadab kamu!!" geram Pratama setalah mendaratkan tinju di hidung Max sehingga perkataan lelaki itu terpotong, bahkan Max sampai terjungkal.
kemarahan Pratama mendengar pengakuan tak manusiawi Max terhadap sang putri membuat amarah Pratama memuncak, bahkan tak peduli jika lelaki itu benar-benar kurang waras.
__ADS_1
bersambung...