
"Ri, apa yang terjadi?" tanya Dewa ketika tiba di depan ruang IGD.
Riana yang melihat kedatangan sang kekasih segera memeluknya dengan erat.
"Mama... Mama jatuh dari tangga, Kak. Aku takut, aku takut Mama kenapa-napa," jawab Riana dengan di sertai dengan isakan.
"Memangnya apa yang terjadi? Kenapa Mamamu bisa sampai jatuh dari tangga?" tanya Dewa yang ingin mengetahui kronologi kejadian tersebut.
"Tadi Mama memanggilku untuk mengambilkan air minum untuknya. Tapi, karena aku terlalu fokus dengan pekerjaanku aku tidak mendengar panggilan tersebut dan membuat Mama akhirnya keluar dari kamar sendirian. Karena dia masih sakit saat akan menuruni tangga di terpleset dan jatuh. Ini semua salahku, Kak. Andai aku mendengar panggilan dari mama itu pasti sekarang keadaan mama masih baik-baik saja. Semua ini salahku." Sambil menangis, Ariana terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Ri, ini bukan salahmu. Kamu tidak bermaksud tidak mendegar panggilannya. Jadi jangan salahkan dirimu atas semua yang terjadi hari ini," tukas Dewa.
Dewa kembali mengusap punggung Ariana agar membuatnya lebih tenang.
"Tenangkan dirimu ya. Aku yakin Mamamu tidak akan kenapa-napa. Percayalah," ujar Dewa lagi.
"Aku tetap takut, Kak. Kakak tahu kan kalau di dunia ini aku hanya memiliki Mama dan Kakak. Kalian berdua adalah orang paling berharga di dalam hidupku. Aku tidak mau kehilangan kalian," jawab Riana yang masih dengan isakannya. "Tadinya aku mau menelpon Kyra, tetapi ini sudah lewat jam 12 dini hari. Aku takut mengganggunya, makanya aku hanya menghubungi Kakak."
Mendengar nama Kyra membuat Dewa langsung melepaskan pelukannya terhadap Ariana.
__ADS_1
"Ada apa, Kak?" tanya Ariana sambil menatap mata Sang Kekasih.
"Tidak apa-apa, Ri," jawab Dewa singkat.
"Lalu kenapa Kak Dewa melepaskan pelukan Kakak?" kembali Ariana bertanya.
"Bukan apa-apa kok, Ri. Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu."
"Sesuatu? Apa itu?"
"Bukan hal penting kok," jawabnya.
Dewa hanya bisa membiarkan Ariana memeluknya. Meski tahu hal yang ia lakukan saat ini tidak benar, ia tidak mungkin bisa menolak keinginan Riana saat kondisi wanita itu sedang bersedih karena sesuatu yang menimpa ibunya.
"Ra, maafkan aku. Padahal aku sudah janji untuk tidak memeluk Riana lagi. Tapi, sekarang aku malah memeluknya. Maafkan aku, Ra," batin Dewa.
Rasa bersalah Dewa kian besar-kala mengingat perlakuannya kepada wanita berstatus sebagai istrinya tersebut beberapa saat yang lalu. Dia yang meminta kepada istrinya untuk memberikan haknya sebagai suami. Tetapi malah dia sendiri yang meninggalkan Sang Istri ketika istrinya itu sudah siap untuk memberikan hak itu.
"Apa Kyra akan marah dengan perlakuanku tadi? Apa dia akan merasa direndahkan karena aku meninggalkannya begitu saja ketika kami tinggal selangkah lagi untuk melakukan penyatuan? Ya Allah, maafkan hamba-Mu yang tanpa sadar telah berbuat dzolim kepada istriku sendiri," batin Dewa lagi.
__ADS_1
Satu sisi Dewa ingin segera kembali ke rumah untuk meminta maaf kepada istrinya. Tetapi disisi lain, ia tidak mungkin membiarkan Ariana sendirian ketika kondisinya sedang kacau.
"Kak, Mama beneran tidak akan kenapa-napa, kan? Beliau akan baik-baik saja kan, Kak?" tanya Arian.
"Iya, Ri. Mamamu pasti akan baik-baik saja, percayalah," jawab Dewa.
Tidak lama kemudian seorang dokter dan seorang perawat keluar dari ruang IGD. Perawat itu berteriak menanyakan keberadaan keluarga pasien.
"Keluarga pasien," panggil perawat tersebut.
Ariana dengan ditemani Dewa segera menghadap Sang Dokter.
"Saya anaknya, Dok," jawab Riana. "Bagaimana dengan keadaan Mama saya, Dok? Beliau baik-baik saja, kan? Tidak ada hal yang serius yang terjadi padanya, kan?" cecar Ariana dalam keadaan cemas.
Sang Dokter masih diam sambil menatap Ariana.
"Dok," panggil Ariana. "Mamaku tidak apa-apakan, Dok?"
"Nona sebenarnya keadaan ibu Anda.... "
__ADS_1
Kembali Dokter menggantung kalimatnya. Ariana dan Dewa menatap dokter tersebut dengan tatapan cemas.