Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 46


__ADS_3

Malam itu Arsya tidak bisa tidur. Dia berjalan mondar-mandir di samping tempat tidur. Tentu saja hal itu membuat Ryan akhirnya juga tidak bisa tidur.


"Sya, kalau kamu baru bisa tidur setelah melihat wajah mama kamu harusnya tadi kamu setuju saat mamamu meminta untuk video call." Ryan berkata setelah menghela napas.


"Om, kalau tadi Arsya setuju video call sama mama yang ada mama tahu dong kalau kita sedang tidak berada di rumah," jawab Arsya.


"Terus sekarang kamu mau ngapain? Kamu kan nggak bisa tidur kalau belum melihat wajah mama kamu secara langsung." Ryan pun jadi ikut memikirkan.


"Entahlah, Om. Arsya juga bingung harus ngapain," ucap Arsya cemberut.


"Kamu punya foto mamamu kan di galery ponsel? Kenapa kamu nggak coba lihat itu." Ryan menyampaikan idenya dan berharap idenya itu berhasil.


"Dari tadi Arsya sudah lakukan itu, tapi belum bisa tidur juga," jawab Arsya. Memang setelah ia mengakhiri pembicaraan dengan mamanya di telepon, Arsya berusaha membuat matanya mengantuk dengan mamandangi foto Kyra di galery ponsel. Sayangnya hal itu sama sekali tidak ada pengaruhnya.


"Terus sekarang Arsya mau ngapain supaya bisa tidur?" tanya Ryan. Dia tidak mungkin membiarkan keponakan angkatnya terjaga sendirian.


"Om, temenin Arsya melihat bintang dong. Siapa tahu setelah Arsya melihat bintang, Arsya jadi ngantuk!" Ryan melihat jam digital di ponselnya.


"Tapi, ini sudah larut, Sya. Sudah hampir jam 12 malam. Om takut kamu masuk angin." Ryan sedikit mengkhawatitkan kesehatan keponakanya.

__ADS_1


"Kan pakai jaket, Om."


Ryan terlihat berpikir. Ia tahu, kalau ia tidak menuruti keinginan Arsya bisa-bisa anak itu akan terjaga semalaman dan itu tidak baik untuk kesehatannya.


"Ya sudah, kita lihat bintang sebentar. Tapi, kalau masih tetap nggak bisa tidur, terpaksa kita telepon mama kamu lagi ya dan minta video call. Kalau akhirnya kita ketahuan dan disuruh pulang, kita langsung pulang. Deal!" Ryan mengulurkan jari kelingkingnya untuk membuat kesepakatan dengan Arsya.


"Berarti kita nggak bisa ketemu papa dong kalau pulang besok." Arsya terlihat sedih.


"Ya mau gimana lagi? Daripada kamu sakit karena gak tidur, pasti Om Ryan yang bakalan kena omel mama kamu," jawab Ryan.


"Baiklah, tapi kalau Arsya bisa tidur setelah melihat bintang, kita tetap di sini sampai bisa ketemu sama papanya Arsya ya!"


Akhirnya Arsya dan Ryan saling mengaitkan jari kelingkingnya sebagai simbol perjanjian.


Setelah mematiskan keponakanya mengenakan jaket tebal, Ryan dan Arsya pun keluar dari kamar. Keduanya sudah sepakat untuk pergi ke atas gedung untuk melihat bintang.


"Tunggu sebentar, Om." Arsya menginterupsi saat Ryan mau menutup pintu kamar.


"Ada apa lagi? Apa ada yang mau kamu bawa?" tanya Ryan sambil menatap mata keponakanya.

__ADS_1


Seperti biasa Arsya hanya menunjukan cengiran kudanya.


"Ya udah sana masuk! Bawalah apa yang ingin kamu bawa!" Suruh Ryan, ia tahu kalau keponakanya pasti hendak membawa sesuatu.


Arsya kembali masuk ke dalam kamar, tidak lama ia keluar lagi. Mata Ryan melotot ketika melihat hal yang dibawa keponakanya.


"Sya, memang kita lagi mau nonton film pakai bawa snak kayak gitu?" tanya Ryan ketika melihat beberapa snak yang dibawa oleh Arsya.


"Siapa tahu kita lihat bintangnta lama, Om. Pasti kan lapar." Arsya beralasan.


"Ya sudahlah, bawa saja!" Ryan mengizinkan toh meski dilarang pun pasti Arsya akan tetap membawanya.


"Kalau nih bocah lihat bintang sambil ngemil kayak gitu, gimana mau tidur nanti." Ryan berbicara dalam hati.


Ryan dan Arsya akhirnya berjalan meninggalkan kamar. Kebetulan keduanya berada di kamar yang ada di lantai 10, kebetulan hotel tersebut terdiri dari 16 lantai jadi masih harus melewati 6 lantai lagi untuk naik ke rooftoop. Ryan dan Arsya berdiri tepat di depan pintu lift. Keduanya langsung melangkah masuk saat lift yang ada di hadapan mereka terbuka. Sayangnya karena tidak berhati-hati Arsya menabrak seseorang yang baru saja keluar dari lift.


"Maaf, kami tidak sengaja." Ryan mewakili Arsya meminta maaf.


Mata orang itu membeliak ketika melihat wajah Arsya. Dia menggeleng sambil berucap, "Tidak mungkin! Tidak mungkin kamu anaknya! Tidak mungkin!"

__ADS_1


Arsya dan Ryan saling tatap, keduanya merasa bingung dengan reaksi orang yang baru ditabrak oleh Arsya.


__ADS_2