
"Kak Dewa," panggil Ariana ketika tidak ada jawaban dari ujung sana.
"I-iya, Ri," jawab Dewa dengan sedikit terbata.
Riana menghela napas. "Kak Dewa mau ngomong apa barusan? Kok malah diem sih?" tanya Riana lagi. "Kak Dewa benar-benar nggak nyembunyiin sesuatu dari aku, kan?"
"Ri."
"Iya."
"Seandainya aku menikah sama orang lain apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dewa dengan berhati-hati.
"Kok tiba-tiba Kak Dewa tanyanya gitu sih? Jangan-jangan Kak Dewa ada niatan lagi mau nikah sama orang lain," kata Ariana curiga.
"Bukan begitu, aku kan cuma bilang seandainya. Dan yang namanya seandainya kan belum tentu terjadi," ujar Dewa.
Ariana berpikir sebentar, tidak lama kemudian barulah ia membuka mulutnya. "Jika hal itu yang terjadi, maka lebih baik aku mati. Di dunia ini aku hanya memiliki Ibu dan Kak Dewa. Jika salah satu diantara kalian meninggalkan aku, maka lebih baik aku mati," jawab Ariana dengan nada yang serius.
"Jadi, Kakak harus janji padaku kalau selamanya Kak Dewa nggak akan ninggalin aku. Apa pun yang terjadi, Kak Dewa akan di sisiku selamanya!" pinta Ariana.
"Ri.... "
"Berjanjilah, Kak!" potong Ariana.
__ADS_1
"Iya."
"Kok cuma iya?"
"Iya, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi," jawab Dewa.
Tepat pada saat itulah, Kyra yang kebetulan sedang berada tepat di depan pintu kamar Dewa tersebut mendengar kata-kata itu. Dia pun mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Dewa dan memilih kembali ke kamarnya.
Ketika sampai di dalam kamar, Kyra meremas dadanya yang terasa begitu sakit. Ia tahu ini salah, karena sejak awal Dewa memang bukan miliknya. Dewa memang menikah dengannya, tetapi yang Kyra tahu hati pria itu hanyalah milik Ariana seorang. Air mata Kyra pun meluncur dengan bebasnya.
Sejak ia memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya terhadap Dewa beberapa tahun yang lalu, dia sudah terbiasa melihat kemesraan yang sering dipertontonkan Dewa dan Ariana. Dan dia tidak pernah menangis untuk hal tersebut. Tetapi kali ini ia tidak bisa memahami hatinya sendiri. Sejak sah menjadi istri Dewa, Kyra gampang sekali menangis untuk hal apa pun yang menyangkut suaminya dan Riana.
Tok! Tok! Tok!
"Ra, kamu belum tidur kan? Ra," panggil Dewa dari luar pintu.
Kyra tidak menyahut dan berpura-pura sudah tidur. Saat ini ia tidak mau Dewa melihat matanya bengkak kerana menangis.
"Ra, kamu belum makan malam kan? Barusan aku masak makanan untuk kita, ayo makan sama-sama!" ajak Dewa.
Sayangnya masih tidak ada jawaban dari Kyra.
"Kyra," panggil Dewa lagi sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
"Aku masuk, ya?" tanya Dewa sambil meminta izin.
Dewa khawatir kalau istrinya akan sakit karena tidak makan. Apalagi menurut keterangan Ariana, seharian ini Kyra tidak makan karena terlalu fokus dengan pekerjaan.
Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Kyra, Dewa pun langsung membuka pintu kamar istrinya tersebut.
Ceklek!
"Pantesan dipanggil nggak nyahut, sudah tidur rupanya," gumam Dewa. Dia berjalan mendekati Kyra dan duduk di tepi ranjang tempat tidur istrinya itu.
"Ra, ayo bangun! Makan dulu, kata Riana kamu belum makan dari siang tadi. Kalau kamu nggak makan, kamu bisa sakit, Ra," ujar Dewa.
Dewa menghela napas kemudian menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu. Saat itulah ia menyadari jika istrinya sedang menangis.
"Ra, kamu kenapa nangis? Ada yang sakit?" tanya Dewa cemas.
"Siapa yang nangis? Aku nggak nangis kok," jawab Kyra.
"Mata udah sembab begitu masih mau ngeles dan bilang nggak nangis," ujar Dewa. "Katakan apa yang membuatmu menangis!"
"Sudah aku bilang, aku tidak nangis. Aku hanya kelilipan tadi," jawab Kyra yang masih kekeh menyangkal, jika dirinya tidak sedang menangis.
"Jika cuma kelilipan, kenapa harus pura-pura tidur saat aku datang memanggilmu? Apa kamu begini karena aku?" Pertanyaan Dewa memaksa Kyra untuk menatap ke arahnya.
__ADS_1