
Ariana terlihat bingung kala Dewa menaruh map di hadapannya.
"Apa ini?" tanya Ariana.
"Surat kesepakatan bercerai dan surat penyerahan hak asuh Caca," jawab Dewa. Dia menyandarkan punggung di sandaran kursi sambil melipat tangan di depan dada.
"Tidak! Sudah aku bilang aku tidak mau bercerai denganmu," tolak Ariana, dia bahkan menggeser map di depannya menjauh.
"Kalau begitu bersiaplah untuk berhadapan dengan hukum," ujar Dewa santai.
"Maksudmu?"
"Aku sudah dengar tentang kasus yang menimpamu dengan para peserta lomba yang kamu adakan selama ini. Aku tahu mereka menuntutmu dengan uang yang tidak sedikit dan aku yakin jumlahnya sangat besar."
"Kamu menyelidiki aku?" tanya Ariana lagi.
"Lebih tepatnya mencari kelemahanmu." Dewa mengoreksi. "Kamu tahu kan jika sampai kamu tidak memenuhi tuntutan mereka, mereka akan membawa kasusmu ke ranah hukum. Dan kamu tahu apa yang akan terjadi? Karirmu akan hancur. Karena selain kamu tetap harus membayar ganti rugi, kamu juga akan mendekam di balik jeruji besi dan itu lumayan lama," terang Dewa yang sengaja menakut-nakuti.
"Tapi, jika kamu mau menandatangani surat cerai ini dan menyerahkan hak asuh Caca kepadaku, maka dengan senang hati aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu itu," tambah Dewa.
"Aku bisa menyelesaikan masalahku itu, jadi jangan harap aku akan mau menandatangani dokumen itu." Ariana masih kekeh menolah.
"Sungguh kau tidak ingin berubah pikiran?" tanya Dewa dengan nada sedikit mengejek.
Belum sempat Ariana memabalas pertanyaan Dewa, ponselnya berdering dan itu dari pengacaranya. "Ada kabar apa?" jawabnya ketus.
"Maaf, Bu. Para peserta itu tetap kekeh akan membawa kasus ini ke pengadilan, Bu kalau Ibu tidak segera memberikan ganti rugi," cerita karyawan.
__ADS_1
"Kamu urus dong! Kan kamu dibayar untuk membelaku!" sentak Ariana.
"Tapi, Bu. Bukti-bukti yang mereka miliki cukup kuat, apalagi salah satu pengacara yang membantu mereka adalah pengacara terbaik saat ini, Pak Anand. Dia selalu menang dalam menangani kasus."
"Anand?" Ariana menatap Dewa. Setahu Dewa Anand adalah salah satu pengacara Dewa. "Kita bicara lagi nanti." Ariana menutup panggilan telephon tersebut.
"Kamu sengaja memberikan pengacaramu untuk membantu mereka?" Riana ingin mengkonfitmasi hal yang baru didengarnya barusan.
"Hm. Seperti yang kamu tahu," jawab Dewa santai.
"Jika aku sampai dipenjara keluargamu lah yang akan malu karena menantu mereka menjadi seorang pesakitan."
"Kenapa harus malu? Aku tinggal menggugat cerai dirimu dan menunjukan video panasmu malam itu. Semua orang pasti akan lebih memihakku," jelas Dewa.
"Jadi Kakak sudah merencanakan semua ini?" Ariana mengepalkan tangan.
"Benar. Untuk menghadapi wanita licik dan jahat sepertimu aku memang harus melakukannya."
"Mau tanda tangan?" tanya Dewa yang seoalah tidak peduli dengan umpatam Ariana barusan.
Ariana dalam posisi terpojok saat ini. Jika dia menolak untuk tandatangan, karirnya di dunia fasion akan hancur. Tapi, jika dia menandatangani surat itu tidak ada lagi hal yang bisa ia gunakan untuk mempertahankan Dewa di sisinya.
"Aku yakin kamu tidak akan tega membiarkanku di penjara karena Caca akan menanyakan tentang keberadaanku." Ini usaha terakhir Ariana untuk tetap bisa menjadi istri Dewa.
"Caca saat ini sedang bersama Kyra, dia sudah mulai bisa menerima keberadaan Kyra. Bahkan kamu tahu dia tadi tanya apa? Dia tanya apa kalau Kyra jadi ibunya, dia akan diperlakukan lebih baik dari cara kamu memperlakukannya selama ini? Dan jika kamu dipenjara pun, Caca pasti mengira kalau kamu kerja dan mengabaikan dirinya seperti biasa," jawab Dewa panjang kali lebar.
Ariana menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Baiklah, aku akan tanda tangan itu," ucapnya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Ariana mau menandatangani surat-surat yang diberikan oleh Dewa.
"Mulai sekarang kita bukan lagi suami-istri karena detik ini juga aku jatuhkan talak kepadamu dan terima kasih karena kamu sudah bersedia memberikan hak asuh Caca kepadaku." Dewa membereskan surat-surat yang sudah ditandatangani oleh Ariana.
"Saat ini kalian boleh senang dulu, tapi lihat saja sebentar lagi orang-orangku akan membawa pergi anak kandungmu dan Kyra. Anggaplah ini impas karena aku sudah memberikan anakku kepadamu." Ariana membatin. Dia senang karena meski Kyra menang darinya tetap saja, dialah pemenangnya.
Ariana berjalam meninggalkan ruang kerja Dewa dengan senyum misterius dan hal itu tentu saja membuat Dewa sedikit khawatir.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Dewa sambil menjegal pergelangan tangan Ariana.
"Tidak ada," jawab Ariana sambil tersenyum. Dia melepaskan pergelangan tanganya dari cekalan Dewa.
Tidak lama seorang pelayan datang ke ruangan tersebut. Pelayan itu terlihat panik.
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Pak... Den Arsya.... "
"Arsya kenapa?" tanya Dewa tak sabaran.
"Den Arsya hilang," jawab pelayan itu.
"Apa!!" pekik Dewa. "Bagaimana bisa dia hilang? Dimana Kyra dan Caca?"
"Nyonya Kyra pingsan di kamarnya karena kena pukulan dan Non Caca terus menangisnya," jelas pelayan itu.
Dewa menatap tajam ke arah Ariana. "Apa ini perbuatanmu?"
__ADS_1
"Dari tadi aku bersama Kakak, bagaimana mungkin aku melakukannya," jawab Ariana. "Aku ada urusan permisi!"
Ariana melenggang pergi dari ruangan tersebut.