Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 40


__ADS_3

"Sayang mama pamit ya. Baik-baik sama Om Ryan soalnya Bik Lastri lagi pulang kampung." Kyra berpamitan kepada Sang Putra, Arsyanendra Devanand.


Anak laki-laki yang belum genap berusia 5 tahun itu mengerti. Kyra kira Arsya-panggilan akrab anaknya akan protes dan mengeluh seperti yang sudah-sudah. Namun tampaknya anak itu sudah semakin mengerti dengan pekerjaan ibunya yang kadang harus pergi meninggalkannya.


"Mama disana berapa hari?" tanya Arysa.


"Paling lama seminggu, tapi mama usahakan sebelum seminggu mama sudah kembali. Mama harap selama mama pergi, Arsya nurut ya sama Om Ryan," jelas Kyra.


Arsya menatap Ryan sebentar, ia kemudian mengangguk paham.


"Yan, titip Arsya ya. Kalau ada apa-apa kamu telepon aku segera!"


"Iya, Mbak. Pasti aku akan jagain Arsya dengan baik," jawab Ryan.


Ryan Bara Andaru, lelaki berusia 20 tahun sudah Kyra anggap seperti adik kandungnya sendiri. Kyra pertama kali bertemu dengan Ryan 5 tahun yang lalu karena sebuah kejadian.


Tin!


Bunyi klakson dari depan rumah terdengar. Itu artinya taksi pesanan Kyra sudah datang. Dengan cekatan Ryan membawa koper milik Kyra itu keluar rumah.


"Sayang, mama pergi dulu ya. Ingat jangan nyusahin Om Ryan!" Kembali Kyra mengingatkan putra semata wayangnya.


"Iya, Ma."


Kyra memeluk Arsya kemudian mengecup keningnya.


"Mama pergi dulu ya, Sayang. Assalammualaikum." Kyra lalu naik ke taksi yang sudah menunggunya. Ia membuka sebagian kaca dan melambaikan tangan.


"Waalaikumsalam," jawab Arsya dan Ryan bersamaan. Keduanya juga membalas lambaian tangan Kyra.


Ryan dan Arsya kemudian masuk ke dalam rumah. Ryan kembali duduk dan melanjutkan bacaannya yang sempat terhenti tadi. Apalagi sepertinya si Tuan Muda kecil tidak ada tanda-tanda mau keluar. Anak itu masuk ke kamarnya.


"Tumben itu bocah diem lama di kamar," gumam Ryan ketika Arsya belum juga keluar kamar.


Ia kemudian meletakkan buku yang sedang dibacanya dan naik ke lantai dua menuju ke kamar Arsya.


"Lho, kok kamu bawa tas, Sya? Mau kemana?" tanya Ryan ketika mendapati bocah itu baru saja keluar dari kamar dengan membawa tas punggung padahal hari ini sekolah anak itu sedang diliburkan.

__ADS_1


"Aku mau pergi, Om," jawa Arsya.


"Ouh... Arsya ada janji main sama temen. Ya udah ayo Om anter." Ryan mengira anak dari Kyra itu hendak pergi bermain dengan teman sekelasnya yang kebetulan tinggal di komplek yang sama. "Eh, tunggu! Kok mau main kamu musti bawa tas sih?"


Arsya menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan. "No, Om. Arsya bukan mau pergi main. Tapi, Arsya mau pergi ke tempat yang jauh."


"Pasti ke playzone," tebak Ryan. Dia tahu bocah cilik itu tidak bisa berdiam diri di rumah. "Ya udah, udah ayo Om anterin. Tapi, Om ganti baju dulu. Arsya tunggu sebentar ya."


"Bukan ke playzone, Om."


Langkah Ryan terhenti. Dia memutar badan dan menatap bocah cilik berwajah tampan di hadapannya. Konon, wajah Arsya mirip dengan papa kandungnya. Meskipun Ryan belum pernah melihatnya secara langsung, setidaknya itulah yang ia dengar dari pembicaraan Kyra dengan kedua orang tuanya.


"Kalau bukan ke playzone, memang kamu mau pergi kemana? Ke taman kompleks?" tanya Ryan. "Om tetap harus anterin. Tapi, Om mau ganti baju dulu," lanjut Ryan.


"Arsya mau ke Jakarta, Om."


Jawaban Arsya membuat Ryan membelalakan matanya.


"Ke Jakarta? Mau ke tempat siapa?" tanya Ryan lagi. Setahu Ryan tidak ada kerabat Arsya yang tinggal di kota megapolitan tersebut. Nenek-kakek Arsya tinggal di Bandung.


"Arsya mau cari papa," jawab Arsya.


Arsya mengangguk.


Ryan bukan tidak tahu kalau ayah kandung Arsya masih hidup, tapi selama ini baik Kyra maupun kedua orangtuanya sengaja tidak menyinggungnya di hadapan Arsya. Dari sana Ryan tahu kalau mereka sengaja tidak memberitahu Arsya tentang ayah kandungnya.


"Tapi Arsya mau cari papa dimana? Jakarta kan luas. Kata orang Jakarta itu menakutkan." Ryan berusaha agar balita di hadapanya ini mengurungkan niat kesana.


"Arsya tidak takut. Kalau Om Ryan takut, Arsya akan pergi ke Jakarta sendiri." Bocah itu hendak melangkah pergi, namun buru-buru Ryan menahannya.


"Kita izin sama Mama dulu ya?"


"Mama pasti nggak ngizinin." Arsya cemberut.


"Nah, itu Arsya tahu. Jadi, Arsya nggak usah kesana ya," bujuk Ryan.


"Arsya hanya ingin bertemu dengan papa Om, meskipun itu hanya sekali. Arsya mau tanya sama papa kenapa dia nggak nyari Arsya dan Mama?" Wajah Arsya terlihat sangat sedih saat mengatakannya. "Teman Arsya aja kemarin papanya nyariin, kenapa papa Arsya nggak nyariin Arsya dan mama?"

__ADS_1


"Tapi, Arsya.... "


"Arsya mohon, Om! Please!" Arsya mengatupkan kedua tangan di depan dada. "Kalau Om nggak mau nemenin, Arsya akan ke Jakarta sendiri," ancamnya.


"Memang kamu tahu jalan ke Jakarta?"


"Tahu. Dari sini Arsya tinggal naik angkutan menuju ke terminal atau stasiun. Terus tinggal cari deh bus atau kereta yang mau ke Jakarta. Arsya juga udah downloud aplikasi buat pesen tiket kereta." Arsya menunjukan layar hapenya kepada Ryan.


Pantas saja selama seminggu ini, Arsya selalu minta naik angkutan atau taksi saat berangkat dan pulang dari sekolahnya ternyata tujuan anak itu adalah ini. Dia juga sering bertanya kepada supir angkutan ataupun taksi yang dinaikinya bagaimana cara pergi ke Jakarta.


Iya. Arsya memiliki kecerdasan di atas anak seusianya. Anak itu bahkan bisa mengingat nama jalan dengan mudah.


Ryan yakin, jika ia menolak untuk menemani anak itu pergi ke Jakarta, bocah yang memiliki pipi chubby itu akan nekat pergi sendiri.


"Baiklah, Om akan temenin Arsya. Tapi, Om siap-siap dulu ya!" Terpaksa Ryan menyetujui keinginan bocah itu.


Tidak lama, Ryan keluar dengan membawa koper. Keduanya kemudian pergi ke stasiun dengan menggunakan taksi. Beruntung masih ada sisa penjualan tiket menuju ke Jakarta yang dijual secara offline di stasiun sehingga keduanya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pergi ke Jakarta.


"Memang Arsya tahu dimana papa?" tanya Ryan ketika mereka sudah duduk di kursi salah satu gerbong kereta dengan tujuan Jakarta.


Anak kecil itu menggeleng. Namun, ia mengambil sebuah brosur dari dalam tas dan menunjukkanya kepada Ryan.


"Aku dengar papa pemilik hotel dan restoran ini. Sayangnya foto papa tidak dipajang disana."


Ryan ikut melihat. "Darimana kamu dapatkan brosur itu?"


"Waktu itu nenek datang dan menunjukan brosur itu sama mama." Arsya kembali memasukan brosur itu kedalam tas.


"Lho kok dimasukan ke dalam tas kan Om belum lihat?"


"Lihatnya nanti saja setelah sampai di Jakarta. Takut ilang," jawab Arsya.


"Arsya selama kita di Jakarta nanti, Arsya panggil Om Ryan papa ya. Takutnya kalau kamu manggil Om Ryan dengan sebutan Om, Om bakalan dikira penculik. Apalagi kasus penculikan anak sedang marak terjadi di berbagai daerah. Arsya ngerti kan?"


"Siap, Om. Arsya ngerti." Bocah lima tahun itu mengacungkan dua jempol tanda mengerti.


Beruntung hari itu Kyra tidak menelepon, setidaknya Ryan tidak perlu berbohong kepada ibu Arsya ini. Selama perjalanan Arsya ketiduran. Ryan baru membangunkannya ketika mereka tiba disalah satu stasiun di Jakarta dari sana keduanya langsung naik taksi menuju ke hotel yang ada di brosur.

__ADS_1


Karena tidak sabar, ketika taksi yang membawa mereka berdua tiba di depan hotel yang dimaksud Arsya langsung turun dan berlari. Anak kecil itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan papanya. Dan saat itulah ada mobil yang keluar dari tempat parkir hotel yang hampir menabrak Arsya.


Ciiittt!


__ADS_2