
"E... kamu, kamu jangan salah paham dulu, Ne. Riana itu... e... dia.... " Kyra berusaha untuk memcari alasana yang tepat yang bisa diterima oleh adik iparnya tersebut.
"Dia pacarnya Kak Dewa, kan?" potong Anne sebelum Kyra melanjutkan perkataannya.
Kyra menatap adik iparnya itu penuh tanya. Jika, dia sudah tahu kalau Dewa memiliki pacar, kenapa dia tidak membantu Kakaknya untuk menolak perjodohan tersebut dan malah lebih terlihat mendukung hal tersebut.
"Kakak pasti bingung dari mana aku tahu soal Kak Riana ini," tebak Anne dan memang itulah yang terjadi pada diri Kyra saat ini.
"Kita cari tempat yang nyaman aja yuk, Kak untuk ngobrolin saol ini!" ajak Anne. Dia sangat paham, jika kakak iparnya tersebut pasti penasaran.
Kyra mengangguk. Dia memilih untuk mengajak adik iparnya tersebut untuk berbicara di luar Butik. Ia tidak mau jika obrolan mereka sampai didengar oleh pekerjanya kemudian ada yang mengadukannya dengan sahabatnya tersebut. Bukan dia tidak percaya dengan para pekerjanya, namun Kyra lebih memilih untuk berjaga-jaga.
***
Kyra dan Anne sekarang sudah berada di sebuah restoran yang lokasinya agak jauh dari butik. Mereka sengaja tidak pergi ke restoran milik Dewa karena takut, jika tiba-tiba Dewa dan Ariana datang ke sana. Meski kemungkinannya kecil, mereka tidak mau membuat masalah baru apalagi saat ini Riana dalam kondisi yang tidak baik-baik saja karena ibunya masih dirawat di rumah sakit.
"Sekarang katakan pada Mbak apa yang kamu ketahui!" suruh Kyra ketika mereka sudah mendaratkan bokong mereka di tempat duduk yang ada di restoran.
"Kita pesan makanan dulu yuk, Mbak!" jawab Anne.
__ADS_1
"An.... "
"Aku lapar, Mbak. Tadi belum sempat makan di restorannya Kak Dewa," potong Anne sebelum Kyra menyelesaikan kalimatnya.
"Baiklah." Kyra pun mengiyakan permintaan adik iparnya tersebut.
Kyra memesankan beberapa menu makanan sesuai dengan yang Anne mau. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya makanan pesanan mereka sudah tersedia di depan meja. Anne pun mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Aku tahu kalau Kak Dewa sudah menjalin hubungan dengan Kak Riana selama kurang lebih 4 tahunan." Anne memulai ceritanya.
"Terus?"
"Jadi maksud kamu, Kak Dewa terpaksa menjalani hubungan itu?" tanya Kyra memastikan dan Anne mengangguk sebagai bentuk jawaban.
"Mana mungkin itu, Ne. Jika Kak Dewa terpaksa menjalani itu, nggak mungkin hubungan mereka akan awet sampai saat ini. Atau jangan-jangan Kak Dewa sengaja mengatakan hal seperti itu kepadamu karena dia sudah bosan dengan Riana?" ujar Kyra. Dia terlihat kesal karena merasa Dewa sudah mempermainkan hati sahabatnya.
"Bukan, Kak, bukan itu masalahnya!" Anne mencoba meluruskan.
"Jika bukan karena bosan atau Kakakmu sengaja mempermainkan hati Riana lalu apa?" Kyra sedikit menaikkan intonasi suaranya.
__ADS_1
"Sejak awal Kak Dewa tidak pernah mencintai Kak Riana."
"Itu makin mustahil karena aku tahu bagaimana Kakak mu menembak Riana dulu," kembali Kyra menyanggah perkataan adik iparnya tersebut.
"Itu salah sasaran, Kak. Seharusnya surat itu bukan untuk Kak Riana, tapi wanita lain," jelas Anne.
"Apa maksudmu?"
"Sejak awal surat itu bukan ditujukan untuk Kak Riana, tetapi untuk wanita lain yang hingga saat ini masih menjadi pemilik hati Kakakku," jawab Anne sambil menatap kedua bola mata kakak iparnya tersebut.
"Siapa? Siapa wanita itu? Kenapa dia tidak langsung menjelaskan tentang keslahpahaman itu kepada Riana? Dan jika dia masih mencintai wanita itu kenapa dia malah menerima ketika ia dijodohkan denganku? Kenapa dia menikah denganku? Apa dia sengaja ingin mempermainkan perasaan kami berdua? Dia sengaja mempermainkan hati kami, begitu kah?" kali ini nada bicara Kyra semakin tinggi.
"Tidak seperti itu, Kak," ujar Anne.
"Lalu seperti apa? Jelaskan padaku agar aku bisa mengerti keadaan Kakakmu dan tidak berpikiran buruk tentangnya!"
Anne masih diam, dia bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada kakak iparnya tersebut tentang hal yang kakaknya rasakan.
"Sudahlah, kamu berbicara begini hanya agar aku tidak menganggap buruk kakakmu kan?" ucap Kyra penuh emosi.
__ADS_1
Ia kemudian bangun dari tempat duduknya dan hendak pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti ketika adik dari suaminya itu memberitahu tentang sesuatu hal.