Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 41


__ADS_3

Sore itu Anne baru selesai rapat menggantikan kakaknya-Dewa yang tidak bisa menghadiri karena ada urusan di kota lain. Dengan langkah lebar, Anne menuju ke lobi hotel untuk menunggu sopir datang menjemputnya. Meskipun sudah berumur 22 tahun, Anne masih dilarang oleh kakak dan kedua orang tuanya untuk membawa mobil sendiri. Hal itu terjadi lantaran ia pernah mengalami kecelakaan tunggal waktu mengemudikan mobil sendiri.


"Mau aku antar?" Amran menawarkan diri untuk mengantar pulang adik dari bosnya itu.


"Nggak usah, Kak. Aku takut ngerepotin Kakak," tolak Anne.


"Nggak kok, kita kan searah."


Setelah menimbang akhirnya Anne setuju untuk diantar oleh pria yang membuat hatinya selalu deg-degan itu. Hubungan antara Anne dan Amran masih berjalan di tempat, meski keduanya sudah saling menunjukan ada rasa, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyatakannya secara lugas. Keduanya hanya menunjukan melalui sikap.


"Ya udah deh kalau nggak ngerepotin." Akhirnya Anne setuju. Ia dan Amran berjalan beriringan menuju ke tempat parkir hotel.


"Pakai safety belt kamu!" suruh Amran.


Anne mendengkus kesal. "Kenapa dia nggak pekaan sih?" Anne ngedumel. Ia pun memakai safety beltnya sendiri.


Mobil yang dikemudikan oleh Amran pun mulai berjalan meninggalkan parkiran hotel. Namun, baru beberapa meter mobil itu melaju kejadian tak terduga terjadi. Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berlari di depan mobil itu dan hampir tertabrak. Beruntung, Amran menginjak rem tepat waktu sehingga hal yang tidak diinginkan itupun berhasil dihindari.


Buru-buru Anne dan Amran turun dari mobil mereka untuk memastikan keadaan anak yang hampir mereka tabrak barusan. Keduanya sempat kaget ketika melihat wajah anak tersebut yang ternyata sangat mirip dengan wajah Dewa. Mungkin kalau anak itu tidak sedang bersama dengan ayahnya mereka akan mengira kalau anak tersebut adalah anak Dewa.


"Bagaimana keadaan kamu? Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada yang luka?" tanya Anne panik.


Anak itu hanya menggeleng.


"Sya, apa kamu terluka?" Ryan memindai tubuh Arsya, dia harus memastikan jika Arsya memang dalam keadaan baik.

__ADS_1


"Kami berdua minta maaf, kami tidak bermaksud mencelakai anak Anda," ucap Anne. Meski dilihat secara kasat mata anak yang dipanggil Sya itu dalam keadaan baik. Tetap saja Anne dan Amran merasa bersalah.


"Tidak, Om. Maksudku, Pa. Aku baik-baik saja," jawab Arsya. Dia ingat pesan Ryan saat di kereta.


"Ini anak kamu?" tanya Amran sambil menatap Ryan.


"Iya. Kenapa?"


"Tidak apa-apa," jawab Amran. Meski ia tidak bisa memastikan secara langsung, Amran yakin kalau lelaki yang dipanggil pa oleh anak tersebut berusia sekitar 20 tahunan dan anak laki-laki yang hampir ditabraknya memiliki usia sekitar 4-5 tahun. Ia sedikit tidak yakin bahwa keduanya memiliki hubungan ayah dan anak.


"Pa, kita nginap di hotel ini ya!" pinta Arsya kepada Ryan. Bukan tanpa sebab ia menginginkan hal tersebut. Arsya ingin segera bertemu dengan ayah kandungnya. Ia yakin, jika mereka menginap di sini besar kemungkinan mereka bisa bertemu dengan ayah kandungnya tersebut.


"Kalian mau nginep di hotel ini?" tanya Anne sambil menatap Arsya dan Ryan bergantian.


Tidak ada jawaban. Ryan dan Arsya malah saling tatap bingung.


"Ryan. Ini anak saya, Arsya." Ryan membalas uluran tangan Anne sambil memperkenalkan diri.


"Dan dia adalah asisten pribadi dari pemilik hotel ini." Anne mengenalkan Amran kepada mereka.


"Om, boleh Arsya bertemu dengan pemilik hotel ini!" Dengan mata berbinar Arsya meminta.


Anne dan Amran saling tatap dengan wajah bingung.


"E... Maaf, anak saya ini selalu antusias dengan pemilik hotel karena dia pikir orang yang memiliki hotel itu pasti kaya raya," ujar Ryan.

__ADS_1


"Pemilik hotel ini kebetulan sedang pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Jadi, maaf kalau kamu tidak bisa menemuinya," jelas Anne.


"Berapa hari dia pergi?" tanya Arsya lagi.


"Pemilik hotel ini?" Anne memastikan dan dijawab dengan anggukan oleh Arsya.


"Kadang 3 hari, kadang 5 hari, kadang juga seminggu. Tergantung cepet tidaknya pekerjaan dia," jawab Anne.


"Yah.... " Arsya mengesah kecewa. Ia hanya bisa berharap bertemu dengan pemilik hotel itu yang diyakini sebagai ayah kandungnya sebelum ia kembali ke kota asal.


"Ohya gimana? Kalian jadi nginep di hotel ini?" tanya Anne lagi.


"Jadi sih, soalnya kami juga nggak tahu mau nginep dimana karena memang kami tidak memiliki saudara di Jakarta," jawab Ryan.


"Ya sudah. Sebagai permintaan maaf, kalian bisa menginap di hotel ini dengan gratis selama yang kalian mau. Bagaimana?"


"Mau-mau. Iya kan, Pa," jawab Arsya. Dia senang karena bisa menginap di hotel milik papanya.


"Kalau tidak merepotkan, tentu saja kami mau," jawab Ryan.


Anne mengeluarkan kartu pengenalnya dan memberikan kepada Ryan. "Tunjukan ini saja ke resepsionis hotel. Nanti mereka sudah tahu sendiri apa yang harus mereka lakukan," ucapnya.


"Terima kasih." Ryan menerima kartu nama dari Anne itu.


"Ya sudah kalian masuklah ke dalam. Sekali lagi maaf karena kami hampir mencelakakan kamu ya Arsya!" Anne mengusap rambut Arsya dengan lembut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tante. Kami juga berterima kasih karena sudah diizinkan menginap di hotel semegah ini dengan gratis." Tak lupa Ryan juga mengucapkan rasa terima kasihnya.


Anne dan Amran kembali naik ke mobil mereka. Keduanya melambaikan tangan sebelum meninggalkan area hotel tersebut. Pun demikian dengan Ryan dan Arsya, keduanya juga masuk ke hotel.


__ADS_2