Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 43


__ADS_3

Dewa masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, wanita yang selama ini ia cari kini ada di depan matanya. Kyra, wanita yang masih bertahta di hatinya tersebut terlihat semakin cantik dan anggun. Rambut panjang yang digerai dengan penjepit rambut di sisi kanan kiri semakin menambah kecantikannya.


Sama halnya dengan Dewa, Kyra pun terkejut melihat keberadaan mantan suaminya tersebut di sini. Kyra tidak menyangka jika pengusaha yang akan bekerjasama dengannya adalah Dewa.


"Nona Kyra silakan duduk, Tuan Dewa sudah menunggu Anda sejak 30 menit yang lalu!" Salah seorang staf mempersilakan.


"E... iya, maaf karena saya sudah membuat Pak Dewa menunggu." Kyra sedikit membungkuk.


"Tidak masalah, duduklah!" suruh Dewa tanpa mengalihkan pandangannya.


"Terima kasih." Kyra langsung duduk di kursi yang tersisa, ia pun mulai menunjukan beberapa hasil karyanya. "Bagaimana, Pak, apa Anda menyukai desain saya?" tanyanya setelah menunjukan desain terakhir.


"Bagus, aku menyukai semua desainmu." Kemampuan Kyra dalam hal mendesain memang tak perlu diragukan lagi. Wanita itu selalu memiliki karya unik, namun masih tetap terlihat anggun. "Bawa kontrak kerjasama itu kemari!" seru Dewa kepada salah satu stafnya.

__ADS_1


Dewa dan Kyra menandatangani kontrak kerjasama tersebut. Dalam kontrak itu disebutkan bahwa perusahaan DK Fasion akan memasarkan produk yang dibuat oleh Kyra dan beberapa desainer lain selama 5 tahun ke depan dan kontrak tersebut akan terus diperpanjang sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.


"Silakan kalian nikmati sajian makan siangnya!" Dewa mempersilakan semua desainernya untuk makan.


"Bagaimana kabarmu, Kyra? Lima tahun tidak bertemu, kamu masih cantik seperti dulu." Dewa menghampiri Kyra yang sedang berdiri sendirian di rooftoop hotel.


"Alhamdulillah baik, Kakak sendiri apa kabar?" Kyra berusaha mengalihkan pandangan ketika Dewa terus menatapnya. Dia takut hatinya kembali terpaut kepada ayah dari putranya. Sudah lima tahun Kyra berusaha melupakan perasaannya kepada Dewa, namun hal tersebut tentu tidaklah mudah baginya. Terlebih ketika sang putra memiliki wajah yang sama persis dengan lelaki yang sudah menjadi mantan suaminya tersebut.


Kyra hanya menimpali perkataan Dewa dengan senyuman. Ia tidak mau luluh ke dalam perasaan di masa lalu. Meski cinta itu masih ada, dia tidak mungkin mau menjadi pelakor dalam rumah tangga sahabatnya.


"Kak, bagaimana kabar Riana? Anak kalian laki-laki atau perempuan? Aku berharap kalian berdua selamanya hidup berbahagia."


Berbicara soal keluarga bukanlah hal mudah bagi Kyra, terlebih ketika Arsya akhir-akhir ini sering bertanya tentang keberadaan ayah kandungnya.

__ADS_1


"Anak Ariana perempuan."


"Kenapa harus menyebut anak kalian sebagai anak Ariana? Bukankah anak Ariana juga anak kamu, Kak," protes Kyra. Sebagai seorang perempuan tentu ia tidak suka, jika anak mereka berdua hanya disebut sebagai anak Ariana.


"Sebenarnya anak itu bukan.... " Belum selesai Dewa menjawab, seorang staf menghampirinya.


"Maaf, Pak. Putri Anda menelepon." Staf tersebut memberikan ponselnya kepada Dewa.


Dewa memiliki dua ponsel pribadi, satu ponsel ia gunakan untuk mengehubungi Caca putrinya dan satu lagi khusus ia pakai untuk menghubungi orang-orang yang berhubungan dengan Kyra.


"Aku jawab ini dulu." Dewa melipir ke tempat lain untuk berbicara dengan putrinya tersebut.


"Seandainya kamu tahu bahwa ada anakmu yang lain yang juga menantikanmu, apa kamu juga akan sebahagia itu mendapat telepon darinya?" Sebagian hati Kyra merasa diremas membayangkan perasaan putranya. Meski ia tahu itu adalah pilihannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2