
Ariana sedikit kesal karena ponsel Dewa tak bisa dihubungi. Padahal siang tadi nomor itu aktif ketika Caca yang menghubungi. Hingga akhirnya Ariana memutuskan untuk datang ke hotel. Siapa tahu laki-laki yang masih berstatus suaminya itu sudah kembali dan sengaja bermalam di hotel seperti sebelum-sebelumnya hanya untuk menghindari dirinya. Sayangnya sampai tengah malam Dewa belum juga kembali dan membuatnya bosan.
Ariana akhirnya memilih untuk meninggalkan hotel. Namun saat ia baru saja keluar dari lift tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang anak kecil. Dia memekik kesal dan hampir memarahi anak tersebut. Tetapi niat itu urung kala ia melihat wajah anak tersebut yang begitu mirip dengan Dewa. Bisa dibilang anak itu adalah versi mini dari Dewa.
Meski Ryan sudah mewakili Arsya untuk meminta maaf, tetapi anak itu tetap ingin meminta maaf secara langsung. Sejak kecil, Arsya sudah diajarkan untuk meminta maaf saat ia melakukan kesalahan baik disengaja ataupun tidak disengaja. "Maaf, Tante. Saya tidak sengaja!" ucapnya sambil menunduk.
Tidak ada reaksi apa pun yang ditunjukan oleh Ariana selain terkejut. Wanita itu masih diam sambil memberikan tatapan tajamnya ke arah Arsya. Arsya yang bingung pun kembali menatap Ryan seoalah bertanya kenapa dengan wanita itu?
Ryan hanya mengedikan bahu.
"Mbak, kalau tidak ada urusan kami permisi. Sekali lagi maaf atas kelakuan anak saya yang kurang berhati-hati." Ryan kembali berbicara. Dia membawa Arsya masuk ke dalam lift.
"Tunggu!" Setelah daritadi hanya diam akhirnya Ariana mulai membuka mulut.
"Iya, Mbak, ada apa?" tanya Ryan.
"Apa benar dia anakmu?" tanya Ariana dengan tatapan menyelidik. Dia bukan anak kemarin sore yang bisa dibohongi. Apalagi melihat wajah Ryan yang dilihatnya masih terlalu muda untuk ukuran laki-laki yang memiliki anak usia 5 tahunan.
__ADS_1
"E... Sebenarnya dia anak kakakku," jawab Ryan.
"Kakak?" lagi-lagi Ariana menatap Ryan dengan tatapan menelisik.
"Iya. Dia Om-ku kenapa?" Arsya ikut menjawab.
"Tidak apa-apa. Hanya saja wajahmu sangat mirip dengan seseorang," jawab Ariana. Dia harus tahu siapa anak itu. Ariana berharap kecurigaanya tidaklah benar. Karena tidak mungkin Kyra setuju untuk bercerai jika dirinya sedang hamil waktu itu. Kecuali dia memang sengaja menyembunyikan kehamilanya dari Dewa.
"Benarkah?" Mata Arsya berbinar. Bocah yang sebentar lagi menginjak usia genap 5 tahun itu yakin jika wanita di hadapannya pasti pernah bertemu dengan papa kandungnya.
"Tante sebenarnya aku kesini.... "
Belum selesai Arsya menjawab, Ryan sudah membekap mulut anak itu.
"Mbak, Mbak pernah baca artikel yang kurang lebih bunyinya gini, bahwa setiap orang memiliki 7 kembaran di dunia? Mungkin saja keponakanku ini memang memiliki wajah yang mirip dengan orang yang Anda kenal itu." Ryan asal berbicara, kenyataannya ia belum pernah membaca artikel seperti itu. Namun, ia sedikit ngeri melihat cara wanita itu manatap Arsya.
"Begitu ya. Kalau boleh tahu siapa nama orang tuamu?" tanya Ariana. Dia berusaha terlihat ramah. Ariana tahu, laki-laki yang bersama anak itu seperti menangkap gelagat kebencian dari sorot matanya.
__ADS_1
"Nama mamaku.... "
"Maaf, Mbak. Kami harus pergi, permisi!" Ryan kembali menyela, ia langsung menekan tombol lift.
Ryan bernapas lega setelah pintu lift akhirnya tertutup.
"Om, kenapa aku dilarang berbicara tadi?" tanya Arsya.
"Kamu yakin wanita itu wanita baik? Kalau dia orang jahat gimana? Memangnya kamu tidak melihat bagaimana cara dia menatapmu tadi? Om saja ngeri lihat tatapannya," jelas Ryan.
"Om, terlalu paranoid, kayak cewek," cibir Arsya.
"Om itu harus menjaga keselamatan kamu, Arsya. Kalau kamu kenapa-napa, bisa mati aku diomelin sama mama kamu. Apalagi kita pergi ke sini tanpa memberitahu dia," jawab Ryan. Dia yakin saat Kyra tahu dia dan Arsya pergi ke Jakarta wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuanya tersebut pasti akan sangat marah dengannya.
"Sekarang yang penting kita lihat bintang dulu biar kamu ngantuk dan tidur. Urusan mencari papamu kita pikirkan besok setelah bangun tidur!" kata Ryan. Saat ini memang yang paling penting hanya membuat Arsya bisa tidur.
Keduanya pun kembali melanjutkan rencana awal mereka yakni melihat bintang.
__ADS_1