
Kyra mulai menggerakkan jari-jarinya, tak lama matanya pun ikut terbuka.
"Dimana ini?" tanya Kyra sambil bangun dari posisinya.
"Nak, akhirnya kamu sadar juga." Maya begitu lega melihat putri semata wayangnya itu akhirnya membuka mata.
Kyra memperhatikan sekeliling sambil mengingat kejadian sebelum dirinya jatuh pingsan.
"Ma, bagaimana Arsya? Dia tidak kenapa-napakan?" Kyra langsung panik ketika ingat bayangan Ariana mengajak Arsya menjatuhkan diri dari atap gedung.
"Tenang, Sayang, tenang." Maya berusaha menenangkan Kyra.
"Ma, bagaimana aku bisa tenang saat tahu anakku dalam bahaya." Kyra berusaha melepas selang infus dari tangannya.
"Arsya baik-baik saja. Tadi dia sempat menangis karena kamu tidak juga sadarkan diri. Tapi, Dewa berhasil menenangkannya. Dewa membawa Arsya tidur di ruang tunggu." Mendengar penjelasan Maya hati Kyra sedikit tenang. "Tapi, Ma. Aku ingat sebelum aku pingsan, Ariana membawa Arsya terjun bersamanya dari atap gedung."
"Iya, kamu benar. Mereka memang terjun dari atap gedung. Tapi, Ryan dibantu sama polisi sudah memasang matras raksasa tepat di bawah mereka. Jadi saat mereka jatuh, mereka tidak kenapa-napa," jelas Maya.
"Alhamdulillah. Aku bahagia ngedengernya. Lalu Riana?"
"Dia sudah dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Satu sisi Kyra bahagia karena putra mereka selamat, tetapi di sisi lain dia ikut prihatin dengan keadaan Riana. Dia tidak pernah membayangkan kalau Riana begitu membancinya hanya karena iri.
__ADS_1
"Mama." Teriak Arsya yang baru saja masuk ke ruang rawat Kyra. Bocah cilik itu memeluk Kyra dengan sangat erat, demikian juga sebaliknya.
"Mama tidak apa-apa kan?" tanya Arsya sambil mendongak menatap kedua mata mamanya. Mata yang selalu membuatnya merasa teduh.
"Tidak, Sayang. Mama tidak apa-apa. Arsya juga tidak apa-apa kan? Tidak ada yang sakit atau pun luka kan? Hm?" Arsya menggeleng.
"Arsya baik-baik saja, Ma." Jawaban Arsya menjadi angin segar bagi Kyra.
"Tadi, Mama sempat takut kalau Arsya kenapa-napa. Arsya tahu, Mama tidak bisa hidup tanpa Arsya. Kamu adalah jantung bagi mama. Mama bisa hidup tanpa uang, tanpa apa pun, tapi tidak tanpa Arsya. Mama sayang banget sama Arsya." Kyra memeluk putranya sambil menitikan air mata.
"Arsya juga sayang Mama." Arsya membalas pelukan mamanya.
Dewa tersenyum melihat dua orang yang dicintai dan disayanginya itu tidak kenapa-napa.
"Pak, barusan polisi menelepon katanya Nyonya Ariana mengamuk di penjara," ujar salah satu staf Dewa.
"Tunggu!" tiba-tiba Kyra menginterupsi.
"Ada apa?" tanya Dewa.
Kyra melepaskan pelukan putranya. "Aku ingin ikut denganmu. Aku juga ingin berbicara dengannya," jawab Kyra.
"Tapi.... "
__ADS_1
"Kak, aku menyelesaikan hubunganku dengan Ariana," tambah Kyra.
"Baiklah," jawab Dewa.
"Sayang. Kamu sama nenek dulu ya. Mama dan papa ada keperluan sebentar. Kita akan bertemu saat jam makan siang nanti." Kyra membingkai wajah putranya dengan kedua telapak tangan.
"Iya, Ma," jawab Arsya.
"Sus, tolong lepaskan infus saya. Saya tidak kenapa-napa kok!" pinta Kyra kepada petawat yang bertugas merawatnya.
"Tapi.... "
"Saya mohon, Sus!" pinta Kyra.
Perawat itu melihat ke arah kepala perawat yang kebetulan juga ada di sana. Setelah mendapat anggukan dari kepala perawat, suster itu pun melepaskan infus dari tangan Kyra.
"Ma, titip Arsya sebentar ya!" Kini giliran Maya yang Kyra mintai tolong.
"Iya, Sayang," jawab Maya.
"Mama dan Arsya bisa istirahat di hotel atau di rumah dulu. Biar sopir yang mengantar kalian." Dewa berbicara kepada Maya.
"Arsya, jangan merepotkan nenek ya? Papa dan Mama akan secepatnya kembali. Hm." Dewa mengacak rambut putranya.
__ADS_1
"Iya, Pa. Papa dan Mama jangan lupa cepat kembali. Arsya akan makan setelah kalian pulang." Dewa mengangguk.
Dewa dan Kyra segera meninggalkan tempat itu untuk menuju ke kantor polisi.