
Sudah beberapa hari Dewa berusaha untuk mencari keberadaan Kyra. Namun, hingga hari ketujuh pasca kepergian istrinya tersebut, ia belum berhasil menemukannya. Hal tersebut membuat hidup Dewa berantakan. Selama ini Dewa selalu hidup menjadi bayang-bayang Kyra. Melihat wajah dan senyuman Kyra selalu membuatnya semangat dalam menjalani hari-hari panjangnya selama lebih dari 4 tahun ini. Dan kini ketiadaan wanita itu membuatnya seolah kehilangan semangat untuk menjalani hari.
Malam itu Dewa datang ke tempat hiburan malam. Ini memang bukan yang pertama kalinya ia datang ke sana, namun terakhir kali Dewa ke tempat itu pada saat ia tahu bahwa surat cintanya ternyata jatuh ke tangan yang salah dan membuatnya terpaksa harus menjalin hubungan dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Dan kini karena wanita yang sama, ia pun harus kehilangan Kyra.
Sebotol minuman beralkohol sudah bisa membuat pemuda berusia 25 tahun tersebut kehilangan kesadaran. Dia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dengan diantar oleh sopir pribadinya.
"Apa yang terjadi dengan Kak Dewa, Pak?" tanya Ariana yang kebetulan datang ke rumah Dewa.
"Tuan mabuk Nona," jawab Sang Sopir. Dia membantu Dewa keluar dari dalam mobil.
"Biar saya yang akan memapah Kak Dewa masuk ke dalam rumah. Bapak bisa pulang sekarang!" Ariana mengusir sopir pribadi dari Dewa itu.
"Tapi, Nona... "
"Aku pacar Kak Dewa, biar aku yang mengurusnya," sela Ariana. "Oh iya, mana kunci rumahnya!"
Tak lupa Ariana meminta kunci rumah Dewa dari sopir itu.
"Ini Nona." Meskipun ragu, Sang Sopir pribadi dari Dewa itu memberikan kunci rumah majikannya kepada Ariana.
Sopir pribadi dari Dewa memang tahu kalau Ariana memang kekasih majikannya. Tetapi, ia juga tahu kalau majikannya tersebut sudah beristri.
"Sudah sana pergi!" usir Ariana lagi.
"Baik, Nona." Dengan terpaksa sopir itu pun meninggalkan Dewa bersama dengan Ariana.
Ariana memapah Dewa masuk ke dalam rumah. Ini pertama kalinya ia masuk ke rumah tersebut. Sebelumnya, Dewa tidak pernah mengizinkannya memasuki rumah itu.
"Ternyata rumah Kak Dewa cukup mewah," gumam Ariana sambil melihat sekeliling rumah tersebut.
__ADS_1
Hatinya mendidih kala melihat ada foto pernikahan Dewa dan Kyra yang dipajang di ruang tamu. Foto pernikahan itu terlihat sangat sederhana karena Kyra hanya memakai kebaya biasa dan Dewa pun hanya memakai kemeja putih lengan panjang. Melihat senyum terpampang di foto itu membuatnya makin membenci Kyra.
"Kyra... akhirnya kamu pulang. Aku sangat merindukanmu Kyra, aku tidak bisa hidup tanpamu. Tolong jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku!" oceh Dewa sambil memeluk Ariana. Dia mengira wanita yang sedang memapahnya itu adalah Kyra.
"Bisa-bisanya Kak Dewa menganggapku Kyra," batin Ariana kesal. Namun beberapa detik kemudian dia justru tersenyum penuh arti.
"Baiklah, jika aku tidak bisa mendapatkanmu ketika kamu dalam keadaan sadar, maka aku akan membuatmu menjadi milikku dalam keadaan tidak sadar. Aku tidak akan peduli meski kamu menganggapku Kyra," batin Ariana lagi.
Dia kemudian mengalungkan kedua tangan di leher Dewa. "Iya, Kak ini aku Kyra. Aku juga sangat merindukan Kakak," ucap Ariana. Dia mengecup bibir Dewa.
"Aku mencintaimu Kyra sangat mencintaimu." Dewa pun membalas kecupan tersebut.
"Aku juga mencintaimu, Kak."
Malam itu keduanya akhirnya menghabiskan malam panjang bersama.
***
"Ah, kepalaku sakit sekali." Dewa mencoba mengumpulkan semua kesadaran dan bangun dari posisinya.
Dewa terkejut ketika melihat kondisi tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun dan lebih terkejut lagi saat melihat Ariana tidur di sampingnya dalam keadaan yang sama.
"Astagfirullah. Apa yang sudah aku lakukan?" pekik Dewa. Dia mencoba mengingat kejadian yang semalam terjadi.
Dewa hanya kalau ia pergi ke tempat hiburan malam untuk minum, setelah itu ia tidak ingat apa pun lagi.
"Kak, kamu sudah bangun?" tanya Ariana yang juga baru membuka matanya.
"Apa yang terjadi dengan kita semalam?" tanya Dewa tanpa menatap Riana.
__ADS_1
"Kakak lupa? Semalam Kakak memelukku dan membawaku ke kamar Kakak. Aku sudah berusaha menolak, tapi Kakak tetap memaksaku," jelas Riana. Dia harus memasang ekspresi sedih agar Dewa tersentuh dan mau bertanggung jawab.
"Kamu tahu kalau aku dalam keadaan mabuk, harusnya kamu yang menghindari itu semua."
Meski sadar semua bukan salah Riana, terpaksa Dewa menyalahkannya.
"Kakak menyalahkan aku? Ini salah kita berdua, Kak?"
"Pakai bajumu dan pergi dari sini!" suruh Dewa yang masih mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kak.... "
"Aku sudah menikah, jadi aku harap kamu bisa melupakan kejadian hari ini. Jika kamu ingin uang, aku akan memberikanya berapa pun yang kamu inginkan."
"Kak Dewa!" sentak Ariana. "Kakak kira aku perempuan rendahan? Aku melakukannya karena aku mencintai Kakak. Tapi, aku tidak menyangka jika ternayata Kakak bisa setega itu sama aku. Kakak benar-benar egois. Kakak sudah merenggut masa depanku dan Kakak tidak mau mempertanggung jawabkannya. Kakak sudah banyak berubah."
Ariana menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dewa sadar ia salah dan egois. Tapi, dia tidak mau kehilangan Kyra. Jika Kyra tahu ia sudah tidur dengan Ariana, pasti wanita itu tidak akan memaafkannya dan akan membencinya. Hal yang selama ini Dewa takuti.
"Terserah apa katamu! Tapi, aku tetap berharap kamu mau melupakan kejadian ini karena ini kecelakaan. Aku bahkan tidak ingat dengan apa yang sudah aku lakukan."
Ariana menurunkan tangannya. Ucapan Dewa membuat ia memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dia tidak mau kalah dari Kyra. Tapi, jika dia tetap memaksakan kehendaknya agar Dewa bertanggung jawab terhadapnya sekarang, justru ia yang akan kehilangan Dewa untuk selamanya.
"Baiklah. Aku akan merahasiakan ini demi Kakak. Dan aku lakukan itu karena aku mencintai Kakak. Semoga Kakak tetap bahagia bersama dengan Kyra meski kebehagiaan kalian berada di atas kesedihanku," jawab Ariana.
Dewa memunguti pakaiannya yang teronggok di lantai lalu memakainya. Dia tidak mau mendengar apa pun yang keluar dari mulut Ariana. Bukan karena membecinya, tetapi ia tidak mau merasa bersalah. Dewa tidak ingin kehilangan Kyra. Dewa berharap Ariana memegang janjinya dan tidak menceritakan kejadian ini kepada Kyra.
"Aku keluar," pamit Dewa. Sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu ia pun kembali mengatakan sesuatu," Aku akan menyuruh sopir untuk mengantarmu pulang. Aku yakin, mamamu pasti mengkhawatirkanmu karena kamu tidak pulang semalam."
__ADS_1
Dewa sudah menghilang dari balik pintu. Ariana mengambil foto Kyra yang ada di atas nakas.
"Kyra, kamu lihat saja. Aku pasti akan membuat Dewa menceraikanmu dan menikahiku dengan kejadian ini. Akan ku lakukan apa pun untuk memanfaatkan kejadian ini. Kali ini aku akan berpura-pura mengalah agar dia merasa bersalah. Tapi, lihatlah, dia tidak akan berkutik saat aku berhasil mengandung anaknya." Ariana memegang perut sambil menyeringai.