
Kamar no 207.
Itulah nomor kamar yang disebutkan oleh pelayan tadi. Dengan langkah cepat, Anne berjalan menuju ke kamar tersebut. Dia tidak mau hal buruk terjadi kepada asisten dari kakaknya .
"Kak Amran semoga kamu nggak kenapa-napa." Anne berdoa dalam hati. Dia benar-benar berharap bahwa tidak ada hal apa pun yang menimpa laki-laki itu.
Langkah Anne berhenti tepat di depan kamar 207. Gadis yang masih duduk di bangku kelas XII SMA itu sudah mengangkat satu tangannya guna mengetuk pintu. Namun, bayangan saat ia pernah mengalami peristiwa penusukan membuat tangan itu tetap menggantung. Anne takut, kejadian yang menimpanya beberapa tahun yang lalu akan kembali terulang.
"Tidak! Mungkin memang sebaiknya aku tidak masuk ke dalam." Anne menurunkan tanganya kemudia memutar badan. Namun saat mendengar suara benda jatuh dari dalam ia pun langsung menerobos masuk ke dalam kamar itu. Gadis yang masih memakai seragam abu-abunya mengabaikan traumanya untuk bisa menyelamatkan Amran.
"Kak Amran kamu.... "
Anne tidak melanjutkan perkataannya saat melihat bahwa ternyata pria dewasa itu sedang bercanda dengan pemilik kamar.
"Anda siapa?" tanya perempuan si pemilik kamar.
"Dia adalah adik dari pemilik hotel ini," jawab Amran.
"Oh... Saya suka dengan pelayanan di hotel ini," puji si pemilik kamar. Meski bingung Anne hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Nona, maaf ya saya harus pergi sekarang. Semoga Anda betah menginap di sini," ucap Amran kepada si pemilik kamar.
"Iya, Pak Amran. Terima kasih karena Anda sudah mau menemani saya dan maaf karena tadi saya sempat membuat keributan." Si pemilik kamar sedikit membungkukan badan sebagai permintaan maaf.
"Iya, Nona. Sama-sama. Permisi."
Amran mengajak Anne untuk keluar dari kamar tersebut.
*
"Kak sebenarnya apa yang terjadi?" Anne menuntut penjelasan dari Amran.
"Tadi, dia memang sempat mengamuk. Tapi, setelah aku tenangkan dia bisa bersikap normal seperti biasa dan bahkan mengajakku ngobrol."
"Lalu kenapa pelayan tadi bilang Kakak berdarah? Aku sampai khawatir kalau Kakak kenapa-napa."
"Itu bukan darah, tapi selai stroberri yang muncrat dan kebetulan mengenai jasku," jawab Amran.
__ADS_1
"Selai?"
"Iya. Sebenarnya hal yang membuat wanita itu marah karena berkali-kali dia berusaha membuat kue, eh gak jadi-jadi. Padahal katanya kue itu mau dia berikan sama suaminya. Sepertinya wanita itu memiliki temperamen yang buruk. Kemarahan wanita itu mereda ketika saya berhasil membantunya membuat kue itu," cerita Arman.
Anne bisa bernapas lega setelah mendengar cerita Amran barusan. "Syukurlah. Tadi aku beneran panik karena ku kira beneran terjadi sesuatu sama Kakak," ucap Anne.
Amran tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali ke ruang kerja Kak Dewa lagi."
Anne melangkah meninggalkan Amran dan langkahnya terhenti ketika Amran memanggilnya.
"Nona," panggil Amran. Anne berbalik.
"Terima kasih karena Nona sudah mengkhawatirkan saya," ucap Amran.
Anne hanya mengangguk samar.
***
Pernikahan Dewa dan Riana akhirnya digelar dengan sangat mewah. Dari lamaran hingga resepsi semua ditayangkan secara live di kanal Youtube keluarga Alfian. Mereka ingin memberikan klarifikasi kepada masyarakat bahwa berita yang tersebar tidak lah benar. Keluarga besar juga sengaja berbohong dengan memberi penjelasan bahwa sebenarnya mereka sudah melakukan pernikahan siri sebelumnya.
Perih.
Hal itulah yang saat ini dirasakan oleh Kyra. Keberadaannya sebagai menantu keluarga Alfian dulu ternyata tidak diakui demi menjaga nama baik keluarga dan harga saham yang dimiliki keluarga itu agar tidak semakin turun karena kabar negatif sebelumnya.
Padahal kedua orang tua Alfian sudah memberitahu tentang hal tersebut kepada Kyra dan keluarganya ketika datang meminta maaf beberapa waktu yang lalu. Keluarga itu juga menyampaikan alasan kenapa pernikahan Dewa dan Kyra sebelumnya harus disembunyikan. Tetapi tetap saja hal itu membuat batin Kyra perih.
"Sayang, kenapa kamu masih nonton live pernikahan itu. Jagalah kesehatan mentalmu demi anak yang ada dalam kandunganmu!" tegur Maya.
"Aku nggak sengaja nonton kok, Ma. Kebetulan ada yang ngeshare live pernikahan mereka di tok-tok. Lagian aku nggak apa-apa kok, cucu mama ini kan kuat," jawab Kyra sembari tersenyum.
"Mama senang Kyra karena akhirnya kamu sudah bisa tersenyum kembali." Maya mengusap rambut panjang putrinya.
Kyra memang sedih dengan kegagalan rumah tangganya, tetapi dia masih bersyukur karena masih memiliki keluarga yang selalu memberinya dukungan.
"Ma, segala hal yang terjadi dalam hidup kita ini adalah kehendak dari Sang Maha Pencipta dan itu pasti yang terbaik untuk umatnya. Jika menurut-Nya aku layak menghadapi ini semua, kenapa aku harus terus-terusan bersedih." Dengan jarinya Kyra menunjuk ke langit. "Hidup itu tidak berhenti di satu titik saja. Jadi, seberat apa pun cobaan yang datang kita tetap harus tetap berjalan. Jadikan semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai penguat, bukan melemahkan."
__ADS_1
"Mama bangga sama kamu Kyra, kamu sudah semakin dewasa. Mama doakan semoga kamu dan anak kamu bisa hidup dengan bajagia setelah ini."
"Amin. Makasih ya, Ma." Kyra memeluk mamanya.
"Ohya, Ma. Besok Kyra mau pergi dari sini. Kyra mau memulai hidup baru Kyra di tempat yang baru."
"Kenapa kamu tidak tinggal di sini saja sih Sayang?" protes Maya. Selain tidak tega membiarkan putri semata wayangnya hidup seorang diri, Maya juga tidak rela jika kelak putrinya itu harus membesarkan anaknya sendiri.
"Maaf ya, Ma. Kyra enggak bisa. Kyra mau memulai kehidupan Kyra di tempat yang baru. Dimana tidak ada orang yang mengenaliku sebagai Kyra, mantan istri Dewa dan sahabat dari Ariana. Aku ingin memulai semuanya dari nol," jelas Kyra.
Maya membuang napas berat. Sebagai seorang ibu hidup berjauhan dengan putri semata wayangnya adalah hal yang sangat berat. Apalagi dengan keadaan putrinya yang saat ini sedang berbadan dua semakin membuat Maya tidak tega jika harus membiarkan putrinya itu hidup sendirian, jauh dari keluarga dan kerabat.
"Tapi, Nak.... "
"Kyra tahu apa yang Mama khawatirkan. Kyra janji Kyra akan menjaga kesehatan Kyra dengan baik, termasuk kesehatan anak Kyra ini," sela Kyra. "Boleh ya, Ma, Kyra pergi besok!"
Maya menatap putrinya sekali lagi.
"Please!" Kyra mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Baiklah, mama akan mengizinkanmu pergi dari sini. Tapi dengan syarat kamu harus menelepon Mama setiap hari."
"Baik, Kyra pasti akan menelepon Mama tiap hari. Kyra janji," jawab Kyra.
"Dan.... "
"Dan? Dan apa, Ma?" tanya Kyra.
"Kamu harus membawa Mbok Lastri untuk tinggal bersamamu."
"Ma, tapi Mbok Lastri kan sudah kerja disini."
"Mama bisa mencari art baru," jawab Maya cepat. "Mbok Lastri sudah berpengalaman, dia pasti bisa membantumu jika tiba-tiba kandunganmu bermasalah."
"Baiklah, jika itu bisa membuat Mama merasa tenang. Aku akan ajak Mbok Lastri tinggal bersamaku. Oke?"
Maya tersenyum. Dia sedikit lega karena Kyra akhirnya mau mengajak Lastri tinggal bersamanya.
__ADS_1